Kolom Kang Hasan

PTM Bukan Coba-Coba

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 10:36 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Setelah puncak "tsunami" Covid-19 dilalui, tiba saatnya untuk kembali ke kehidupan yang agak normal. Situasi kita saat ini sudah jauh lebih baik dibanding masa sebelum "tsunami". Dari sisi penambahan kasus harian maupun jumlah kasus aktif, angka-angkanya sudah lebih rendah dibandingkan dengan saat sebelum Lebaran. Penambahan kasus harian sekitar 2500, lebih rendah dibanding akhir Mei yang mencapai 5700. Jumlah kasus aktif sekitar 44.000, sedangkan pada akhir Mei kasusnya sekitar 87.000.

Pemerintah saat ini tampak sangat berhati-hati dibanding saat Mei lalu. Meski angka-angka tadi sudah menunjukkan perbaikan yang sangat berarti, kewaspadaan tetap terjaga. "Tsunami" tempo hari memang memberi kita banyak pelajaran.

Salah satu hal penting yang harus dipikirkan saat ini adalah soal mengembalikan anak-anak ke sekolah. Sudah tiga semester anak-anak kita belajar lewat internet, dengan berbagai keterbatasannya. Pemerintah, sekolah, guru-guru, orangtua, dan anak-anak semua merindukan hal yang sama, yaitu kembali belajar di sekolah. Namun kita harus sadar bahwa hal itu tidak bisa dilakukan secara gegabah.

Minggu lalu diberitakan bahwa ada 1200 sekolah yang jadi kluster penularan Covid-19. Anak-anak yang menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) ternyata ada yang terinfeksi maupun terpapar, dan sebagian menularkannya kepada teman-temannya. Akibatnya PTM harus dihentikan sementara, dan anak-anak itu diisolasi.

Ada hal penting yang harus kita ingat selalu. Covid-19 ini menurun jumlah kasusnya karena sebab-sebab tertentu. Kuncinya adalah menjaga jarak antarmanusia. Ini yang memutus mata rantai penularan. Nah, ketika mata rantai itu tersambung kembali, penularan akan kembali terjadi.

Dalam banyak kasus, orang tidak selalu ingat soal itu. Begitu terjadi penurunan kasus, terjadi pula pelonggaran tanpa kontrol sama sekali. Akibatnya terjadi lagi penularan. Dalam hal uji coba PTM tempo hari, itulah yang terjadi. PTM dilakukan, tapi protokol kesehatan banyak diabaikan.

Dari pengalaman pribadi saya, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya pencegahan penularan Covid-19 ini tidak sangat rumit. Menjaga jarak dan pakai masker adalah kunci. Persoalannya adalah bagaimana menjaga dua hal itu secara total, secara sangat ketat.

Dalam hal penerapannya di sekolah, kita berhadapan dengan dua soal besar, yaitu rendahnya disiplin dan minimnya infrastruktur. Siswa dan guru bisa dengan mudah mengabaikan protokol kesehatan. Guru yang seharusnya jadi pengawal yang memastikan sering pula jadi pelanggar. Dengan situasi itu, potensi penularan jadi lebih besar. Sementara itu, tidak setiap sekolah siap dengan infrastruktur yang memungkinkan penjagaan jarak tadi.

Tapi sekali lagi, ini sebenarnya bukan soal yang rumit benar. Selama ada kesadaran dan disiplin tinggi, sebagian besar sumber masalah sebenarnya bisa dieliminasi. Karena itu disiplin, khususnya disiplin para guru adalah kunci terpenting.

Kasus yang diberitakan minggu lalu seharusnya jadi pelajaran penting. Itu menunjukkan bahwa PTM tidak benar-benar disiapkan sesuai panduan protokol kesehatan. Karena masih dalam masa percobaan, mungkin dianggap sama dengan coba-coba. Padahal masa percobaan itu adalah masa pengujian untuk memastikan bahwa sekolah benar-benar siap. Siap itu artinya ada usaha-usaha keras untuk membuatnya siap. Bukan sekadar dicoba, kalau gagal apa boleh buat.

Kita ingin mengembalikan anak-anak ke sekolah, untuk masa depan mereka. Ini pun harus ditegaskan. Alasannya bukan karena para orangtua sudah tidak tahan lagi. Itu soal yang sama sekali berbeda. Alasan masa depan anak-anak artinya kita harus memastikan keselamatan mereka. Sedangkan alasan orangtua tidak tahan berujung pada tindakan "pokoknya bagaimana caranya agar anak-anak keluar dari rumah." Hasil uji coba minggu lalu menunjukkan bahwa yang jadi alasan adalah yang kedua.

Data yang dipublikasikan oleh asosiasi dokter anak menunjukkan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap Covid-19. Dibanding orang dewasa, risiko penularan dan kematian pada anak-anak memang lebih rendah. Tapi bukan tanpa risiko sama sekali. Angka kematian anak akibat Covid-19 cukup mengkhawatirkan. Soal ini mesti diperhatikan secara serius. Kita tidak boleh mempertaruhkan keselamatan anak-anak kita.

Mendikbud Ristek kukuh untuk terus melanjutkan PTM. Tapi kukuh saja tidak cukup. Perlu ada upaya-upaya yang jelas soal bagaimana protokol kesehatan terjaga. Tanpa itu, kehendak Menteri hanya akan jadi tekanan bagi jajaran di bawahnya, termasuk sekolah, untuk melaksanakan PTM, apapun kondisinya. Jangan sampai mereka bersikap, pokoknya laksanakan, lalu lepas tangan terhadap akibatnya. Jadi, Menteri harus fokus pada proses untuk memastikan bahwa sekolah sudah siap.

(mmu/mmu)