Kolom

Balada Ayam-Ayam Tak Tahu Diuntung

Agus Mulyadi - detikNews
Sabtu, 18 Sep 2021 09:15 WIB
agus mulyadi
Agus Mulyadi (Foto: koleksi pribadi)
Jakarta -

Saat nongkrong di kantor salah satu penerbit buku di bilangan Ngaglik, Sleman, beberapa waktu yang lewat, saya menyempatkan diri nge-gofood ayam penyet Mas Kobis langganan saya. Sudah hampir dua tahun saya menjadi pelanggan tetap ayam penyet legendaris ini di Go Food. Saya punya menu andalan: nasi ayam cabai level 8, dengan tambahan tempe goreng yang tidak ikut dipenyet, serta es nutrisari rasa jeruk. Itu adalah menu yang selalu saya pilih kalau saya memesan makanan di gerai ayam penyet Mas Kobis.

Saya terbiasa memesan menu tersebut. Bagi saya, sensasi pedas nasi ayam penyet yang dinetralisasi dengan tempe dan disempurnakan dengan seruputan es nutrisari jeruk itu benar-benar menjadi perpaduan yang nyaris sempurna. Saya harus menyebut "nyaris" sebab kesempurnaan soal menu makanan hanya boleh disandang oleh sayur jengkol emak saya dan sambal pindang kemangi istri saya.

Ketika driver mengabari saya melalui pesan di aplikasi bahwa ia sudah sampai di depan kantor membawakan pesanan saya, tak butuh waktu lama bagi saya yang saat itu sedang duduk santai di halaman belakang untuk langsung merangsek ke teras menjemput menu yang nyaris sempurna itu.

Saya bawa ke belakang bungkusan itu dengan selera dan gairah yang bermutu. Di meja di halaman belakang yang bersebelahan persis dengan pelataran rumah warga dan hanya disekat anyaman bambu itu, saya buka pesanan saya. Indah betul, estetik. Perpaduan warna putih nasi, coklat ayam penyet dan juga tempe goreng, dengan beberapa titik warna merah cabai rawit galak yang dipenyet, lalu dituntaskan dengan warna kuning golkar dari es nutrisari jeruk yang embun dinginnya tampak menantang itu.

Sore yang indah dengan menu yang tak kalah indah. Beberapa ekor ayam milik warga yang berseliweran tak jauh dari meja saya membuat suasana semakin syahdu. Makan dengan ditemani ayam-ayam pastilah sedap rasanya. Eco dan nikmat. Hal yang sempat melemparkan ingatan saya pada momen masa lalu di rumah simbah saya di Kaliangkrik, momen ketika saat kecil dulu, saya sering makan di batas pintu pawon sambil ditemani ayam-ayam milik simbah. Kalau saja ponsel saya tidak sedang saya cas di ruang tengah, pastilah saya sudah memutar lagu Balada Anak Nelayan-nya Julius Sitanggang untuk mengiringi kesyahduan suasana saat itu.

Saya sudah tak sabar menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Saya lantas berjalan ke tempat keran air tak jauh dari meja untuk mencuci tangan agar bisa segera menyantap menu yang indah itu.

Mungkin hanya sepuluh detik waktu yang saya gunakan untuk berjalan ke keran dan mencuci tangan, dan ternyata, sepuluh detik itulah yang kemudian menjadi awal amarah saya, sebab dalam rentang waktu sepuluh detik itu, salah satu ayam yang berseliweran di halaman belakang itu berhasil menyambar tempe goreng saya.

"Wooo, bajingaaaaaaaan!" maki saya.

Emosi saya meletup, bukan semata karena si ayam itu menyambar salah satu elemen kesempurnaan menu saya, namun juga sebagai ekspresi penyesalan karena saya gagal untuk waspada bahkan hanya untuk sepuluh detik saja.

Saya tak menyangka bahwa ayam yang saya pikir akan menjadi pengiring yang tepat dan menyenangkan untuk momen makan sore saya ternyata justru menjadi pengkhianat.

Nasi ayam penyet saya memang terselamatkan, namun tanpa tempe itu, kesempurnaannya ternoda. Dan ketidaksempurnaan itulah yang kemudian membuat saya muntab. Bayangan saya atas perpaduan ayam yang pedas dan tempe yang gurih itu buyar sudah.

Tempe yang hanya sepotong itu lalu diperebutkan oleh beberapa ekor ayam. Saya menyaksikan adegan tersebut dengan hati yang panas.

Saya pun terpaksa memakan ayam penyet itu tanpa tempe. Menu yang sebenarnya hanya "nyaris" sempurna itu menjadi semakin tidak sempurna karena ketidakhadiran tempe goreng. Tidak ada yang menetralisir rasa pedasnya. Dan itu semua gara-gara ayam keparat tak tahu diuntung itu.

Dalam kondisi yang penuh dengan kekesalan itu, ayam-ayam tampaknya masih tetap mencoba melancarkan agresi emosi pada saya. Setelah tempe saya digasak, rupanya mereka masih belum puas. Dua ekor ayam dengan cukup berani naik ke meja dan berusaha menyambar makanan yang tersisa. Mereka seperti tak peduli bahwa yang sedang berusaha mereka ambil selanjutnya itu adalah nasi dan daging ayam, daging saudara mereka sendiri. Dasar barbar. Sudahlah kanibal, keparat pula.

Dua ayam tersebut berpencar, mereka seperti sudah punya strategi. Mereka berusaha mematuk nasi ayam di depan saya secara bersamaan. Bagi saya, ini adalah tantangan terbuka, dan sebagai lelaki terhormat, saya pantang untuk tidak menerimanya. Ayam-ayam ini tampaknya memang perlu diberi pelajaran budi pekerti dalam bentuk "sentuhan" fisik.

"Keparat, tempeku sudah kalian sambar, dan kalian masih ingin cari masalah?" batin saya.

Saya pun berdiri, memasang kuda-kuda, lalu menghantam mereka dengan tangan kanan saya. Dua ayam itu berhasil mengelak. Mereka turun dari meja. Saya merasa bahwa hantaman yang tidak mengenai sasaran tadi sudah cukup menjadi peringatan bagi mereka. Setidaknya alarm keras untuk mereka agar jangan mengganggu saya lagi. Namun dugaan saya salah, mereka masih tetap berusaha mengambil makanan yang ada di depan saya.

Gagal dalam pertarungan jarak dekat, saya mencoba mengubah taktik. Saya ambil bagian tulang pada ayam penyet, saya membaginya menjadi beberapa bagian, lalu saya sambitkan tulang itu ke tubuh ayam-ayam haram jadah itu.

Kali ini taktik saya berhasil. Tulang-tulang itu tidak menemui sasaran kosong. Dua ayam terkena lemparan tulang saya, telak.

Tepat ketika saya mengira bahwa saya akan menang, yang terjadi selanjutnya adalah adegan yang justru membuat saya kalah. Tulang yang saya lemparkan dan mengenai tubuh si ayam dengan telak itu ternyata dipatuk oleh si ayam. Ia mematuknya dan mencoba mencari suwiran-suwiran daging yang mungkin masih tersisa dan menempel pada tulang yang saya lemparkan itu.

Demi melihat adegan itu, hati saya mencelos. Saya baru sadar bahwa mereka lapar. Sangat lapar. Harusnya saya menyadari ini sejak awal ketika mereka tetap berani naik ke meja kendati sudah saya halau dengan hantaman tangan yang walau tidak mengenai sasaran namun tetap saja itu adalah peringatan keras. Hanya kelaparan yang luar biasa yang bisa membuat ayam tetap berani naik ke meja dan menantang bahaya demi satu-dua patuk makanan.

Adegan ayam yang mematuki tulang yang sebelumnya saya lemparkan dan mengenainya dengan telak itu membuat si ayam tak ubahnya seperti seseorang yang rela menerima tembakan pelor emas di pahanya hanya demi bisa mengambil emas itu dan menjualnya untuk modal bertahan hidup. Ia tak ubahnya seperti seseorang yang rela dimaki, disakiti, dan dipermalukan hanya demi imbalan yang tak seberapa.

Fragmen itu pada akhirnya menganulir kemarahan saya. Meluruhkan dendam saya atas tempe yang baru saja mereka gasak. Saya langsung merasa malu dan egois. Betapa tak tahu diuntungnya saya karena marah hanya karena kehilangan tempe yang dengan atau tanpanya, saya tak akan pernah kelaparan.

Untuk menebus keegoisan saya itu, saya lantas membagi nasi ayam saya menjadi dua. Separuh saya makan, separuhnya lagi saya sebarkan kepada ayam-ayam itu agar mereka makan. Saya tak lagi mengharapkan suasana makan yang indah seperti yang saya bayangkan di awal, sebab adegan saat ayam-ayam kelaparan memakan nasi yang saya bagi itu sudah cukup indah dan menentramkan hati saya.

Pada titik itulah, tampaknya saya jadi paham, apa yang pernah dirasakan oleh Wiji Thukul saat ia menulis puisi yang berjudul Kucing, Ikan Asin, dan Aku itu.

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini

Aku meloncat
kuraih pisau
biar kubacok dia
biar mampus!

Ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

Mendadak
lunglai tanganku
aku melihat diriku sendiri

Lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
batal nyawa melayang
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

14 Oktober 1996

Agus Mulyadi blogger dan penulis buku, mengelola toko buku kecil bernama Akal Buku

(mmu/mmu)