Kolom

Mendorong Sosialisasi Manfaat TV Digital

Ahmad Riyadi - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 10:46 WIB
Siaran Pasca Adopsi Digital
Jakarta -

Secara resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunda segala tahapan migrasi televisi analog ke televisi digital. Awalnya, tahapan switch off televisi analog akan digelar pada 17 Agustus 2021 (tahap I), 31 Desember 2021 (tahap II), 31 Maret 2022 (tahap III), 17 Agustus 2022 (tahap IV), dan 2 November 2022 (tahap V). Kominfo berencana akan menggelar tahapan switch off menjadi 3 tahap, yakni pada April, Agustus, dan November 2022.

Memang bukan sesuatu yang baru penundaan atau penyesuaian jadwal switch off televisi analog. Amerika Serikat (AS), salah satu negara raksasa dunia, pun melakukan penundaan pelaksanaan ASO yang semula dijadwalkan pada 31 Desember 2006 menjadi 17 Februari 2009.

Pengunduran jadwal tersebut setidaknya didorong oleh beberapa alasan seperti minimnya ketersediaan converter technology di pasar dan tidak lebih dari 85% rumah tangga mengadopsi perangkat televisi digital, serta terdapat setidaknya satu televisi yang tidak melakukan transmisi digital melakukan afiliasi dengan jaringan top-four.

AS kemudian mendorong upaya percepatan ASO ini dengan membuat kebijakan pemberian subsidi kepada masyarakat dalam mendapatkan converter technology penangkap siaran televisi digital. National Telecomunications Information Administration (NTIA) menyalurkan subsidi kepada rumah tangga senilai setara Rp 400.000.

Di luar itu, keterlibatan masyarakat seperti Association of Public Television Stations (APTS) berperan besar dalam menyediakan data kesiapan masyarakat tentang pelaksanaan ASO. Dalam catatannya pada 2007, terdapat 61% orang dewasa di AS tidak sadar bahwa akan dilakukan switch off dari siaran televisi analog ke digital. Hal ini merupakan sumbangsih yang besar dalam pelaksanaan ASO untuk membantu pemerintah atau pihak terkait mengambil langkah kebijakan yang relevan.

Berbeda dengan AS, Inggris tidak memberikan subsidi kepada masyarakat dalam mendapatkan perangkat pembantu menangkap siaran televisi digital. Tetapi, dari jumlah rumah tangga di Inggris separuhnya sudah mempunyai TV digital yang bisa menangkap siaran digital karena mereka mengakses pay TV dan satelit yang sudah berteknologi digital.

Pelaksanaan switch off dari analog ke digital di Inggris berlangsung dari tahun 2006 hingga 2012. Kebijakan pemerintah melaksanakan switch off baru akan dilakukan apabila secara nasional sebesar 95% rumah tanggal telah mengakses siaran televisi digital.

Kesiapan Masyakarat

Pengetahuan masyarakat akan gelaran switch off televisi analog sangat rendah. Berdasarkan hasil survei yang digelar oleh MUC Consulting Group pada Juli 2021, pengetahuan masyarakat akan suntik mati televisi analog hanya 13.93 %, sementara sebanyak 86.07% masyarakat mengatakan sebaliknya. Selain itu, dari segi kepemilikan pesawat TV, hanya 2.38% yang menggunakan perangkat smart TV yang sudah digital dan 5.98% masyarakat yang sudah menikmati siaran televisi digital.

Data di atas, barangkali menjadi salah satu faktor penundaan suntik mati siaran televisi analog. Kesiapan masyarakat tentang peralihan teknologi televisi dari analog ke digital masih sangat rendah. Apabila dipaksakan, semisal dengan aturan tahapan awal, akan membuat sebagian besar masyarakat kehilangan akses informasi melalui televisi. Sehingga menjadi sangat tepat, penundaan ini dilakukan semata untuk mematangkan persiapan peralihan teknologi dari siaran televisi analog ke digital.

Jika dilihat dari upaya pemerintah dalam gemuruh sosialisasi, tentu saja tidak menutup mata bahwa sudah dilakukan secara masif. Belum lagi kolaborasi berbagai pihak berkepentingan seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan lembaga penyiaran turut masif ikut serta melakukan sosialisasi. Selain perlu diapresiasi, metode sosialisasi juga perlu diperbaiki.

Ragam kemanfaatan dari siaran televisi digital mestinya tidak determinan berbicara tentang hal teknis seperti perbaikan layar kaca dari segi audio-visual, atau tentang kemanfaatan penghematan frekuensi untuk kepentingan ekonomi yang cenderung awam dari pengetahuan masyarakat. Kemanfaatan lainnya, seperti perbaikan dan keberagamaan konten musti dihadirkan secara paralel. Dengan demikian masyarakat mempunyai imajinasi substantif dari peralihan siaran televisi analog ke televisi digital.

Di luar itu semua, yang menjadi catatan penting adalah akses masyarakat untuk mendapatkan perangkat teknologi agar bisa menikmati siaran televisi digital. Ketersediaan set top box (STB) di pasaran, serta bagaimana masyarakat mendapatkannya, perlu intervensi, sebagaimana sudah diputuskan dengan memberikan subsidi. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi terbebani dan memperoleh kemudahan.

Ahmad Riyadi Asisten Bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran KPI Pusat

(mmu/mmu)