Obituarium

Siasat Pejabat dan Kehangatan Sahabat

Sutriyono - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 15:10 WIB
Siasat Pejabat dan Kehangatan Sahabat
Jakarta -

Berita duka meninggalnya Prof. Rubiyanto Misman terkabar melalui perpesanan WhatsApp. Beberapa teman mengirimkan berita tersebut secara pribadi hampir bersamaan.

Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto periode 1997-2005 tersebut meninggal pada Selasa, 14/9/2021. Rubiyanto Misman lahir di Banjarmasin, 23 Mei 1944. Menikah dengan Indra Astuti, mereka dikaruniai tiga anak, seorang pria dan dua orang putri.

Keluarga besar kampus Unsoed tentu sangat kehilangan. Selain itu, masyarakat Banyumas juga demikian. Secara nasional, dunia pendidikan kehilangan mantan rektor dengan cara-cara memimpin yang unik. Sebagai pemimpin, Prof. Rubiyanto Misman memiliki kemampuan bersiasat yang baik, bahkan bisa dikatakan sangat baik.

Suatu masa sejumlah kalangan berusaha menyembunyikan satu kelalaian administrasi seleksi calon dosen di kampus. Seorang yang terlihat intelek berbekal ijazah doktor yang belakangan diketahui palsu, diterima dan mengajar beberapa waktu. Ada kebimbangan menghadapi masalah ini. Bila masalah doktor palsu ini diketahui masyarakat, tentu akan sangat memalukan. Citra Unsoed dipertaruhkan.

Sebagai rektor Prof. Rubi justru mendorong sebaliknya. Dia mendorong agar masalah tersebut dibongkar. Hal itu yang kemudian dilakukan. Uniknya, apa yang menjadi semacam aib tersebut justru kemudian digunakan oleh Prof. Rubi sebagai alat bersiasat. Dia memanfaatkannya sebagai sarana promosi. Setiap kali bicara di tengah masyarakat atau pertemuan-pertemuan pimpinan perguruan tinggi nasional, Prof. Rubi akan memulai dengan "mengungkapkan aib" tersebut.

"Saya Rubi, dari kampus Unsoed yang punya doktor palsu," kurang lebih demikian kata perkenalannya. Dengan cara itu ternyata justru nama Unsoed terpateri di benak yang mendengar. Mereka juga menaruh respek atas kebesaran hati Prof. Rubi mengakui kekeliruan kampusnya.

Rubi menjadi rektor ketika Indonesia merangkak memasuki krisis tahun 1997. Dengan berbagai cara, Rubi bersikukuh dan berhasil menyelesaikan pembangunan stadion olahraga outdoor. Stadion yang kemudian dinamai Gelanggang Olahraga Soesilo Soedarman tersebut memiliki lintasan lari berbahan karet sintetis. Sebuah fasilitas yang kala itu masih sangat langka.

Salah satu siasat yang beliau lakukan adalah menurunkan helikopter Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto di gelanggang olahraga baru tersebut. Ketika itu Mardiyanto diundang Unsoed. Melihat stadion bagus tetapi belum memiliki tribun, Mardiyanto kemudian tergerak hati membantu biaya pembangunannya.

Pada masa kepemimpinan Prof. Rubi, beberapa program studi dan fakultas baru lahir. Bahkan dalam catatan yang ada, dalam dua kali masa jabatan sebagai rektor, dia berhasil meningkatkan jumlah mahasiswa cukup fantastis. Pada 1997 berjumlah 10-11 ribu mahasiswa, sementara akhir masa jabatan pada 2005 jumlahnya mencapai 23 ribu mahasiswa. Program studi yang semula 27 bertambah menjadi 54 program studi.

Lahir pula beberapa program studi bergengsi seperti Program Studi Kedokteran beserta rumpun-rumpunnya seperti Fakultas Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Keperawatan, dan juga Program Studi Teknik.

Segala pencapaian tersebut tak lepas dari kemampuan dan ketrampilan Prof. Rubi bersiasat. Bahkan karena kadang merasa direpotkan oleh cara-cara kepemimpinan Prof. Rubi yang tidak linear, salah satu pejabat di kementerian pendidikan menjuluki Prof. Rubi sebagai "rektor gemblung". Rektor yang sering menabrak tata aturan yang dianggap kaku.

Sesungguhnya "bakat" berpikir dan bertindak out of the box itu telah terlihat sejak muda. Sebagai anak remaja SMA di Cilacap, Rubi mengembangkan band bersama beberapa teman. Satu peristiwa unik dia ingat dengan baik.

Suatu kali band yang bernama Rubes itu tampil memenuhi undangan di Maos, kota kecamatan sisi utara Cilacap. Demi mendukung penampilan, pemain band Rubes mengoles rambutnya dengan pelumas rantai kereta yang ada di situ. Dengan demikian rambut mudah dibentuk. Sesudah tampil, giliran berikutnya adalah membersihkan rambut dari lemak kereta itu dengan sabun.

Menghadapi Demonstran

Menghadapi mahasiswa demonstran, Rubi punya teknik tersendiri. Suatu kali sejumlah mahasiswa membebat patung Jenderal Soedirman di halaman kantor pusat dengan kertas tisu. Hal itu mereka buat sebagai protes "keterlibatan militer" di kampus Unsoed.

Sebagai rektor Rubi berang. Ia mencari cara agar mahasiswa mau membersihkan patung simbol kampus tersebut. Akhirnya dia memberi tahu kepada bagian kemahasiswaan bahwa dirinya baru saja ditelepon Dewan Harian Nasional 45. Mereka mendesak agar patung Panglima Besar Soedirman dibersihkan, disertai sedikit ancaman. Malam itu juga para mahasiswa membersihkan patung tersebut. Siasat Rubi berhasil. Sementara sesungguhnya tidak ada orang Jakarta yang meneleponnya.

"Masak rektor harus membersihkan sendiri patung tersebut. Saya tidak mau," kilah Prof. Rubi.

Meskipun dalam kasus tersebut Prof. Rubi berhasil "mengerjai" mahasiswa, sesungguhnya Prof. Rubi sangat kebapaan kepada semua mahasiswa. Baik mahasiswa yang lurus saja maupun yang "nakal dan kritis". Banyak mahasiswa mendapatkan sentuhan pribadinya --ketika hampir DO disapa dan dimotivasi. Juga ketika kendalanya adalah soal biaya, dia dengan ringan hati akan membantu.

Prof. Rubi pernah menelepon langsung Menteri Pendidikan dan memprotes keras tindakan represif militer terhadap mahasiswa demonstran. Dalam masa ketegangan Reformasi 98, sekali waktu para demonstran di depan kantor pusat Unsoed dibubarkan paksa oleh militer. Banyak dari antara mereka digebuki.

"Masak mahasiswa digebukin seperti tikus," protes Rubi.

Ketika mahasiswa disakiti pihak luar, Rubi akan tampil di depan pasang badan. Ketika ada mahasiswa yang terseok-seok dalam menyelesaikan studi, Rubi berada di belakang mendorong dan menjaga, jangan sampai ada yang tidak lulus.

Berkomunikasi dengan Prof. Rubi itu berasa berkomunikasi dengan teman atau sahabat. Prof. Rubi mengembangkan komunikasi sejajar dengan siapa saja, dari tukang sapu, pejabat, sampai semua tamu. Prof. Rubi menyebut hal itu sebagai hospitality atau keramah tamahan.

Sebagai orang yang diminta membantu menyusun biografinya, saya merasakan betul keramah tamahan yang dia kembangkan. Saya selalu diterima di ruang TV keluarga yang santai, tanpa jarak. Di ruang tersebut sekitar satu tahun kami mendiskusikan naskah buku, mengoreksi, menambah catatan, dan sebagainya.

Buku berjudul Memenuhi Panggilan Almamater terbit pada 2017 (JB Publisher, 2017). Pada kesempatan launching di Jakarta, Prof. Rubi ditemani sahabat-sahabat terdekatnya. Mereka di antaranya Prof. Wardiman Djojonegoro (mantan Mendikbud), Subjakto Tjakrawerdaya (mantan Menteri Koperasi), Prof. Usman Khatib Warsa (mantan Rektor UI), dan Prof. Dr. Edie Toet Hendratno (mantan Rektor Universitas Pancasila).

Pada 2019, awal Februari yang basah, Prof. Rubi mengajak saya berdiskusi. Kami mendiskusikan rencana cetak ulang buku biografi itu. Saya bisa merasakan kegembiraan dan semangatnya atas buku tersebut. Selepas terdengar azan zuhur saya pamit. Hujan di luar masih deras. Saya menyiapkan jas hujan dan juga membungkus tas berisi laptop agar kedap air.

Apa yang dilakukan Prof. Rubi? Dia mengambil sepasang sepatu saya dan membungkusnya dengan tas plastik. Sesudah urusan saya selesai, dia menyerahkan tas plastik itu ke saya. Seorang mantan rektor dengan lingkaran pertemanan tokoh-tokoh nasional merawat sepatu butut seorang penulis kelas kampung! Ya Tuhan, apa yang harus saya katakan?

Begitulah. Ketika kabar berpulangnya Prof. Rubiyanto Misman saya dengar, ada kesedihan mendalam. Pasti akan sangat susah mencari sosok dengan karakter yang demikian kuat seperti dia. Pada sisi lain saya bersyukur karena pernah mendapatkan kesempatan mendengarkan cerita-cerita hidupnya. Kisah-kisah dari masa remaja; tentang bagaimana ayahnya R. Misman Reksosaputro, Kepala PU Cilacap yang tidak punya mobil pribadi. Kisah masa-masa studi di Unsoed yang berpindah-pindah gedung.

Juga mendengar cerita masa menjadi peneliti, menjadi rektor, hingga impian-impian yang masih terus menggelora meskipun sudah pensiun. Dua hal yang masih menjadi impiannya adalah menyusun buku sejarah Unsoed dan mendirikan politeknik olahraga.

Selamat jalan, Prof. Rubiyanto Misman!

Sutriyono alumnus Unsoed, penulis buku biografi Prof. Rubiyanto Misman

(mmu/mmu)