Perhatikan tidak? Setiap ada berita viral tentang kebaikan seorang dokter, mulai dari yang menggratiskan jasa konsultasi atau membebaskan tarif di praktek pribadinya, sampai kepada yang rela memakai uang pribadinya untuk membantu kekurangan biaya berobat pasiennya, akan diikuti oleh komentar-komentar hampir seragam, yang mengatakan begitulah seharusnya dokter bersikap. Benarkah seharusnya seperti itu?
Dokter adalah sebuah pekerjaan profesional. Mempunyai kompetensi terukur dan terstandarisasi yang didapat melalui pendidikan formal, baik teori maupun praktek yang ditempuh selama bertahun-tahun. Dalam kode etik kedokteran disebutkan bahwa salah satu hak dokter adalah memperoleh imbalan jasa yang layak atas pekerjaannya. Selama menjalani profesinya, dokter juga mempunyai standar pelayanan baku yang tidak boleh dilanggar. Artinya, jasa yang diterima oleh seorang dokter benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Dokter yang baik harusnya bukan dokter yang tidak dibayar atau dokter yang sering-sering mengeluarkan uang pribadinya untuk kepentingan pasien. Kebaikan individu semestinya tidak serta merta digeneralisasi menjadi tolok ukur bagi yang lain. Apalagi menjadi standar ideal profesi seperti yang banyak orang harapkan.
Kalau dr. Gunawan, dokter yang disebut berhasil menyelamatkan nyawa Deddy Corbuzier dari komplikasi penyakit Covid-19, sempat hangat diperbincangkan karena banyak menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membantu mereka yang tidak mampu, dan dianggap sebagai dokter yang paling ideal pada saat ini, saya setuju. Bahkan menjadi dokter seperti itu adalah cita-cita saya sejak kecil. Menjadi dokter yang baik, pintar, kaya, dan dermawan.
Dokter adalah sebuah pekerjaan profesional. Mempunyai kompetensi terukur dan terstandarisasi yang didapat melalui pendidikan formal, baik teori maupun praktek yang ditempuh selama bertahun-tahun. Dalam kode etik kedokteran disebutkan bahwa salah satu hak dokter adalah memperoleh imbalan jasa yang layak atas pekerjaannya. Selama menjalani profesinya, dokter juga mempunyai standar pelayanan baku yang tidak boleh dilanggar. Artinya, jasa yang diterima oleh seorang dokter benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Dokter yang baik harusnya bukan dokter yang tidak dibayar atau dokter yang sering-sering mengeluarkan uang pribadinya untuk kepentingan pasien. Kebaikan individu semestinya tidak serta merta digeneralisasi menjadi tolok ukur bagi yang lain. Apalagi menjadi standar ideal profesi seperti yang banyak orang harapkan.
Kalau dr. Gunawan, dokter yang disebut berhasil menyelamatkan nyawa Deddy Corbuzier dari komplikasi penyakit Covid-19, sempat hangat diperbincangkan karena banyak menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membantu mereka yang tidak mampu, dan dianggap sebagai dokter yang paling ideal pada saat ini, saya setuju. Bahkan menjadi dokter seperti itu adalah cita-cita saya sejak kecil. Menjadi dokter yang baik, pintar, kaya, dan dermawan.
Fakta lain bahwa dr. Gunawan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, pintar, dan sangat kompeten justru sedikit terlupakan. Padahal hal tersebutlah yang lebih penting dimiliki oleh seorang dokter sebagai profesional. Karena fokus pemberitaan justru hanya tentang kedermawanan sang dokter, maka yang terjadi kemudian hampir sebagian besar masyarakat berasumsi dan menuntut dokter lainnya bertindak demikian. Tanpa memperhatikan latar belakang kehidupan orang per orang para dokter.
Perlu diingat, tidak semua dokter mempunyai ketahanan ekonomi supermapan. Banyak di antaranya masih berjuang keras menghidupi keluarganya. Mereka bekerja siang-malam, menempatkan kepentingan dan keselamatan pasien di atas segalanya, supaya mendapatkan penghasilan dan kehidupan yang layak.
Sekitar 10 tahun lalu ketika saya memulai merintis praktek pribadi, pada awal pengangkatan sebagai CPNS di sebuah Puskesmas yang cukup jauh dari tempat tinggal, ditambah kondisi suami masih menempuh pendidikan dokter spesialis, semua itu adalah fase kehidupan yang cukup pelik yang harus saya hadapi sebagai seorang dokter. Maka ketika saya mulai berpraktek sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang saya miliki, saya berharap mendapatkan imbalan jasa selayaknya. Terlepas dari tujuan lainnya, agar pasien-pasien saya cepat pulih dan sehat kembali.
Pada saat itu tempat praktek saya hanya sebuah rumah sederhana yang berstatus mengontrak. Pemilik rumah adalah seorang kakek yang hidup sendirian. Dia sering datang untuk berobat karena memang sudah sakit-sakitan. Saya menggratiskan semua biaya pengobatannya, meskipun pada waktu itu kunjungan per hari pasien saya masih sangat sedikit. Bahkan pernah dalam satu hari, hanya sang kakek yang menjadi pasien saya.
Di lain keadaan, ketika tenggat waktu kebutuhan semakin mendesak, datang pasien yang benar-benar miskin untuk berobat. Kira-kira apa yang sebaiknya saya lakukan? Menggratiskan, tapi diri sendiri sedang terdesak kebutuhan, atau tetap memungut biaya? Itu pun rasanya tidak tega dilakukan.
Semua profesi pada dasarnya sama; pada umumnya menjadi sumber penghasilan dan penghidupan. Kalau ada seorang arsitek misalnya, menggratiskan upah jasa atas desain rancangan bangunan, atau memberikan uang pribadinya untuk kliennya yang tidak mampu atau miskin agar bisa membangun rumah, tapi kemudian masyarakat menuntut, begitu sebaiknya semua arsitek seharusnya bersikap, kira-kira mereka bakal mau tidak diperlakukan seperti itu? Saya kok sangsi ya.
Mahbub Djunaidi pernah menuliskan potret buram kehidupan dokter yang masih sangat relevan sampai saat ini. Dalam esainya berjudul Sebutan yang terangkum dalam buku Asal Usul: Catatan-Catatan Pilihan, Mahbub mencoba menelisik berbagai macam profesi. Dokter salah satunya.
Kalau ingin membeli mobil bekas yang tidak menimbulkan kecewa, dianjurkan untuk membeli mobil bekas dokter. Bukan karena dokter rajin merawat mesin dan penampilan mobil, bukan itu. Tapi lebih karena mobil dokter lebih banyak diparkir daripada menggelinding di jalan raya. Dokter hanya bergerak dari rumah tinggal ke rumah sakit atau tempat praktek dan berdiam di sana sampai larut malam. Bekerja hingga melampaui batas waktu dari orang kebanyakan. Entah untuk kemanusiaan, entah terdesak kebutuhan.
Profesi dokter hanyalah sekrup kecil dari carut marut sistem kesehatan dalam negeri --permasalahan obat yang tidak terbeli masyarakat miskin, biaya perawatan orang sakit yang mahal dan sulit terjangkau, serta akses asuransi dan fasilitas kesehatan yang belum merata. Bukan kebaikan dokter solusinya, bukan juga memberi sumbangan dan hadiah ke para dokter. Dibutuhkan sistem kesehatan yang baik dan dijalankan secara maksimal. Dan, itu diperlukan kerja keras banyak sekali pihak.
Jadi, berhentilah berpikir bahwa dokter yang baik hanya dokter yang tidak dibayar.
Puspa Lestari dokter
(mmu/mmu)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini