ADVERTISEMENT

Kolom

Keberlanjutan Pembelajaran dengan Ekosistem Digital

Citra Kurniawan - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 10:54 WIB
Asian woman student video conference e-learning with teacher on computer in living room at home. E-learning ,online ,education and internet social distancing protect from COVID-19 viruses.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/ake1150sb
Jakarta -

Pandemi Covid-19 memberikan momentum peralihan pada semua hal yang berbasis digital, tak terkecuali sektor Pendidikan. Sektor pendidikan yang semula bertahan dengan pembelajaran tatap muka sebelum pandemi, berbondong-bondong untuk bertransformasi secara digital. Hal ini disebabkan karena ada kekhawatiran ekosistem pembelajaran terhadap dampak penyebaran virus kepada komponen ekosistem di dalamnya.

Pembatasan fisik memberikan tantangan kepada penyelenggara pendidikan untuk ekosistem pembelajaran memungkinkan semua komponen dapat berkembang secara dinamis dan saling terhubung untuk berbagi pengalaman belajar baik secara individu maupun kelompok. Namun, dalam proses siklus belajar khususnya pembelajaran digital tak jarang pula masih saja mengalami permasalahan.

Meskipun saat ini pembelajaran digital telah dilaksanakan, namun pembelajaran tatap muka dianggap sangat penting untuk memastikan keberlanjutan proses pembelajaran melalui pembelajaran digital.

Menjadi Model

Pembelajaran digital saat ini telah menjadi sebuah model pembelajaran yang diterima seiring dengan perkembangan teknologi internet dan adanya imbauan pembatasan aktivitas fisik selama pandemi khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi (PT), merujuk pada Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) di Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagaimana pada poin 4 yang menyatakan bahwa selama masa pandemi Covid-19, penyelenggara pendidikan melakukan penyesuaian terhadap pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pembelajaran jarak jauh, remote office dan lain-lain. Keberlanjutan penyelenggaraan pembelajaran harus diupayakan untuk membangun sebuah ekosistem pembelajaran dengan pengalaman yang baru di dunia digital.

Apabila pelaksanaan pembelajaran digital berhasil, maka perlu adanya komitmen untuk menyediakan akses yang lebih besar kepada pendidikan dan membentuk sebuah ekosistem digital yang lebih besar. Merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Uden et al. (2007), bahwa ekosistem digital merupakan kolaborasi dari berbagai multiform, entitas yang heterogen yang berpartisipasi pada domain digital. Adanya interaksi lintas disiplin dan keterkaitan antar komponen yang terlibat dalam ekosistem digital.

Digitalisasi tentu saja tidak sepenuhnya berjalan lancar dan mudah. Keberterimaan terhadap teknologi baru tentu saja dapat memberikan pengalaman baru untuk penggunanya, terutama pada pengajar dan peserta didik. Permasalahan yang muncul apakah pengajar dan peserta didik sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran benar-benar menerima transformasi digital? Keberlanjutan pembelajaran sangat terkait dengan keberterimaan teknologi yang merupakan salah satu bagian dari ekosistem digital.

Keberlanjutan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar jika semua komponen dalam ekosistem digital siap untuk menghadapi pembelajaran digital. Terdapat beberapa elemen kontekstual yang perlu diperhatikan untuk mempersiapkan diri dalam ekosistem digital baik antara lain yaitu lingkungan belajar, keterampilan mengajar, keterampilan belajar, dukungan belajar, konten pembelajaran, keterampilan pengajar, teknologi digital, dan penyelenggara pendidikan.

Elemen kontekstual sangat membantu untuk kelancaran proses pembelajaran. Berdasarkan elemen kontekstual, bagaimana dengan sikap kita sebagai salah satu komponen ekosistem digital?

Dipastikan Kembali

Lingkungan belajar sering dikatakan sebagai suatu kondisi yang dapat mempengaruhi perilaku komponen pembelajaran yang terlibat, seperti pengajar dan peserta didik. Dalam pendekatan pembelajaran digital, peserta didik membutuhkan kesiapan piranti keras, seperti Personal Computer (PC) dan koneksi, serta piranti lunak. Persiapan-persiapan tersebut perlu untuk dipastikan kembali sebelum melakukan proses pembelajaran.

Permasalahan yang muncul saat awal terjadi pandemi Covid-19 adalah ketidaksiapan terhadap lingkungan belajar. Keadaan yang serba mendadak dan ditambah peralihan transformasi digital secara cepat membuat sebagian besar pengajar dan peserta didik tidak siap untuk menghadapi pembelajaran digital. Saat awal proses pembelajaran digital diselenggarakan, sebagian besar pengajar dan peserta didik mengalami kesulitan terutama kesiapan perangkat untuk menyelenggarakan pembelajaran online.

Tidak adanya kepastian terhadap kesiapan perangkat keras dan perangkat lunak ini menjadi tantangan untuk keberlangsungan pembelajaran, misal tidak memiliki PC dan smartphone serta perangkat lunak yang tidak mendukung. Selain itu, masalah koneksi dan akses menjadi catatan tersendiri dalam penjaminan ketersampaian konten pembelajaran.

Keterampilan menyampaikan konten pembelajaran juga dipengaruhi bagaimana seorang pengajar untuk mengajar pada pembelajaran digital. Kecakapan digital perlu untuk dipersiapkan seorang pengajar. Bagaimana mengajar dengan metode pembelajaran online membutuhkan keterampilan dan seni mengajar yang tentu berbeda dengan saat mengajar pada pembelajaran tatap muka.

Pembelajaran online memungkinkan untuk pengajar mengatur kelas online-nya sehingga peserta didik sebagai partisipan berinteraksi langsung, menerima umpan balik dan sumber belajar. Adanya komunikasi yang jelas dalam kelas digital sebagai bentuk dari pedagogik dapat membantu proses penyampaian konten pembelajaran digital (Yates et al., 2021). Namun kadang untuk menjaminkan penyampaian konten pembelajaran ini tidak mudah jika tidak diikuti dengan kesiapan teknologi yang dimiliki pengajar.

Dalam proses penyampaian konten pembelajaran di pembelajaran digital berbeda dengan pembelajaran tatap muka karena adanya potensi learning fatigue atau kelelahan belajar jika berada di depan layar komputer atau gadget. Sebuah penelitian menemukan sekitar 80% dari 350 peserta didik memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian mereka dan tetap hadir saat mengambil kelas online (Peper et al., 2021).

Akibatnya peserta didik tidak responsif yang mempengaruhi interaksi mereka dengan pengajar selama di kelas. Permasalahan ini tentu saja menjadi perhatian juga untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar pada pembelajaran digital.

Di sisi lain, peserta didik juga harus memiliki keterampilan dalam belajar online. Keterampilan dalam menyelesaikan masalah saat di dalam kelas online perlu untuk diperhatikan. Semisal, saat terjadi kendala pada perangkat komputer yang digunakannya, mereka memiliki pengetahuan untuk menyelesaikannya; atau misal ada kendala akses internet, mereka pun tidak pula memiliki kecemasan dan mencoba untuk segera memperbaikinya.

Oleh sebab itu maka diperlukan sebuah dukungan dalam proses pembelajaran dari pengajar dan sekolah kepada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran digital. Dukungan terhadap pembelajaran digital baiki kepada pengajar maupun peserta didik perlu untuk diperhatikan.

Selanjutnya adalah konten pembelajaran. Konten pembelajaran digital tidaklah sama dengan konten pembelajaran saat pembelajaran tatap muka. Selain itu mode penyampaiannya yang berbeda, bentuk konten pembelajarannya pun berbeda. Mode penyampaian konten pembelajaran dalam kelas online menggunakan dua mode yaitu mode asinkron dan mode sinkron.

Mode asinkron merupakan mode penyampaian konten pembelajaran yang terjadi dimana pengajar dan peserta didik tidak berada dalam waktu yang sama atau tidak real time, dan tempat yang berbeda. Biasanya konten pembelajaran disusun dalam bentuk file digital, video rekaman, dan audio rekaman. Mode asinkron memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas waktu belajar. Peserta didik dapat mengakses konten belajar kapanpun mereka mau dan kapanpun mereka butuhkan, meskipun mode ini juga memiliki kekurangan yaitu umpan balik tidak diperoleh secara langsung.

Sedangkan mode sinkron diselenggarakan secara langsung atau real time; antara pengajar dan peserta didik bertemu di kelas online dalam waktu yang sama atau ada kesepakatan untuk bertemu di kelas online pada waktu tertentu, biasanya diselenggarakan menggunakan video meeting, video conference ataupun, video call. Mode sinkron memiliki keunggulan adalah proses umpan balik dan interaksi dapat diselenggarakan secara langsung, sedangkan kekurangannya adalah diperlukan sumber daya bandwidth yang lumayan besar dan akses yang selalu stabil untuk menjamin kelancaran proses interaksi dalam kelas online.

Kedua mode (sinkron dan asinkron) perlu untuk dipertimbangkan oleh pengajar sehingga pengajar mampu dan memahami kapan waktunya menggunakan mode asinkron dan kapan waktunya menggunakan mode sinkron. Teknologi digital diyakini dapat memberikan peluang yang besar untuk berkomunikasi, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah serta mengubah peran peserta didik untuk membangun pengetahuan dibandingkan hanya mere-produksi informasi (Ursu et al., 2021).

Namun komponen-komponen di atas tidaklah menghasilkan pembelajaran digital yang optimal jika tidak difasilitasi oleh penyelenggara pendidikan. Peran penyelenggara pendidikan sangat penting dalam sebuah ekosistem digital karena dapat berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Kesiapan teknologi baik pengajar dan peserta didik sebaiknya difasilitasi oleh penyelenggara pendidikan.

Keterampilan pengajar dalam kelas online dapat dioptimalkan melalui proses pelatihan, begitu pula dengan peserta didik. Sebelum melakukan proses pembelajaran atau memulai kelas online, perlu dipastikan bahwa pengajar telah siap untuk belajar dengan keterampilan yang dimilikinya. Perlu kolaborasi antara masing-masing komponen dalam ekosistem digital untuk mendukung keberlanjutan penyelenggaraan pembelajaran.

Citra Kurniawan dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT