ADVERTISEMENT

Kolom

Penurunan BOR dan Peningkatan Kesadaran Kita

Zaenal Mutaqin - detikNews
Rabu, 01 Sep 2021 15:27 WIB
BOR RS di kota Bandung
Ilustrasi: Mindra Purnomo/tim infografis
Jakarta -
Presiden Joko Widodo baru saja menyampaikan pengumuman tentang penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari yang semula level empat menjadi level tiga. Hal ini dilakukan mengingat akhir-akhir ini, Indonesia mengalami penurunan kasus positif secara signifikan yakni sebesar 78 persen.

Untuk pasien yang sembuh, jumlahnya juga terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Per 23 Agustus, jumlah pasien sembuh mencapai 24.758. Sementara cakupan vaksinasi secara nasional juga terus ditingkatkan. Per hari, pemerintah mampu melakukan vaksinasi yang menjangkau 1,6 juta suntikan. Kabar baik ini ialah hasil dari kerja keras seluruh komponen, terutama peran dari Satgas Covid-19 yang tersebar di berbagai daerah.

Mereka merupakan garda terdepan dalam upaya memperluas cakupan vaksinasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Buahnya ialah penurunan grafik pasien yang dirawat dan meningkatnya jumlah pasien sembuh.

Di Banten misalnya, tingkat keterisian ruang tidur isolasi pasien Covid-19 atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah-rumah sakit telah mengalami penurunan signifikan. Sejak awal Agustus lalu, BOR mencapai angka 55 persen dari total kapasitas 4.370 unit. Kemudian per 15 Agustus menjadi 33,4 persen. Padahal awal Juli lalu, Banten sempat menyandang predikat sebagai provinsi dengan tingkat BOR tertinggi secara nasional, dengan rincian BOR ICU sebesar 96,67 persen dan BOR isolasi 90,89 persen.

Semua capaian tersebut harus dirayakan dengan peningkatan kesadaran. Sebab penurunan BOR dan peningkatan jumlah pasien sembuh yang terjadi secara signifikan tidak dicapai dengan berleha-leha, melainkan hasil dari kerja sama dan perjuangan tanpa lelah dari semua pihak.

Dalam sudut pandang sebagai tenaga medis, angka-angka baik tersebut menjadi obat yang membayar lunas perasaan lelah, baik lelah fisik maupun lelah mental, termasuk harus mengalami keterasingan yang disebabkan oleh sikap dan reaksi masyarakat terhadap petugas kesehatan di lingkungannya masing-masing.

Tetapi itu hanya satu dari sejumlah risiko yang pernah dihadapi, dan hal itu terjadi dalam tataran yang masih bisa dipahami, karena publik meyakini bahwa para pekerja di rumah sakit dalam kesehariannya berperang secara langsung dengan Covid-19. Karenanya, petugas kesehatan kerap diasosiasikan sebagai pihak yang dianggap paling rentan dan tidak aman untuk didekati.

Anggapan tersebut sebenarnya bisa saja dipatahkan, sebab ada istilah populer yang menyebutkan "tempat yang dianggap paling berbahaya justru merupakan tempat paling aman." Ini juga yang berlaku dalam lingkungan kerja di rumah sakit, dimana para petugas kesehatan melihat potensi bahaya secara jelas, karenanya mereka akan bekerja ekstra hati-hati.

Rutinitas dalam mengedepankan protokol membuat para petugas kesehatan bekerja dengan sensor kewaspadaan alamiah. Alat pelindung diri (APD) senantiasa digunakan, mencuci tangan menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak semaksimal mungkin, menggunakan masker kapan dan di mana pun (kecuali saat tidur dan makan).

Beberapa dari kami bahkan mempelajari secara detail hal-hal yang seharusnya dan tidak seharusnya disentuh. Semua itu membentuk habitus baru, yang kini sudah menjadi naluri melekat dalam keseharian, baik ketika di tempat kerja, maupun saat berada di rumah.

Selain itu, semua komponen di instansi tempat saya bekerja tanpa lelah membangun ikatan perasaan kekeluargaan. Mulai dari pimpinan, para perawat-dokter, petugas pelayanan, petugas obat-obatan, portir, petugas pembawa gas medis, dan satuan pengamanan (satpam), semuanya bersatu, saling membesarkan hati, bahu-membahu menunaikan tugas dengan rasa tanggung jawab penuh. Ikatan kolektif ini tumbuh semakin kuat melebihi saat sebelum pandemi.

Sekali lagi, semuanya menjadi presisi terhadap kegiatan sehari-hari; kesadaran ini juga diterapkan ketika di luar jam dinas. Hal itu dilakukan mengingat pemberi teladan terbaik saat situasi pandemi antara lain adalah para petugas kesehatan. Itu semua harus diperlihatkan dengan perasaan penuh tanggung jawab, sebab jika petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit gagal mempraktikkan kebiasaan tersebut, maka perjuangan bangsa ini untuk menangani pandemi akan sulit dilakukan.

Meskipun harus diakui bahwa masih banyak orang-orang di luar sana yang memperlihatkan keseharian yang kontraproduktif. Mereka begitu longgar menjalani aktivitas, bahkan beberapa diantaranya banyak ditemukan tidak menggunakan masker. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah mereka mengira Covid-19 hanya ada di rumah sakit, sehingga menyebabkan mereka tidak bersikap waspada? Atau, apakah mereka kira perjuangan melawan virus ini hanya tugas tenaga medis dan pemerintah saja?

Apapun jawabannya, yang jelas cara berpikir dan sikap kita terhadap bahaya Covid-19 perlu terus ditingkatkan. Sebab menyerahkan pengendalian dan penanganan Covid hanya kepada tenaga kesehatan dan pemerintah adalah pandangan keliru. Andaikata ini adalah perang, maka ini merupakan perang semesta, atau perang terbuka yang harus diemban semua pihak.

Dan, satu hal yang benar-benar harus diyakini ialah bahwa penurunan BOR, penurunan level PPKM, bukan deklarasi kemenangan atas Covid-19. Perjuangan melawan pandemi masih belum berakhir. Sekali lagi, upaya untuk terus meningkatkan kesadaran melalui penerapan protokol kesehatan ialah prinsip yang harus tetap kita pegang teguh. Demi anggota keluarga yang sudah tiada, demi rekan kerja yang sudah mendahului, demi saudara sebangsa yang terkena dampak pendemi Covid-19.

Zaenal Mutaqin petugas medis RSUD Provinsi Banten


(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT