Kolom

Jembatan Merah Putih dan Nasionalisme Orang Maluku

Samuel Michael Wattimury - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 18:08 WIB
Nelayan melintasi Jembatan Youtefa yang dipasang  bendera Merah Putih di Jayapura, Papua, Selasa (17/8/2021). Pemasangan bendera Merah Putih sepanjang 400 meter tersebut guna memeriahkan HUT ke-76 RI. ANTARA FOTO/Gusti Tanati/wpa/aww.
Foto: ANTARA FOTO/Gusti Tanati
Jakarta -
karya tulis PUPRkarya tulis PUPR Foto: karya tulis PUPR

Ini adalah lagu yang menceritakan tentang gagahnya sang dwiwarna yang terus berkibar di nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke, yaitu merah dan putih. Dua warna ini juga merupakan warna yang mewakili sikap the founding fathers kita, di mana warna merah diwakili oleh sikap presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang dengan begitu bersemangat berorasi untuk membakar semangat rakyat, melakukan perlawanan fisik untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan warna putih melambangkan sikap yang tenang dari wakilnya, Drs. Moh. Hatta, yang merupakan seorang kutu buku, untuk terus memperjuangkan serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan jalan diplomasi.

Warna merah dan putih telah resmi ditetapkan sebagai warna bendera Negara Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Bab XV Pasal 35, hal ini menjadikan bendera merah putih sebagai salah satu dari simbol negara kita. Siapa pun yang menghinanya, ia dianggap telah menghina Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Untuk mempertahankan dua warna ini tidaklah gampang, bahkan ia telah meminta tumbal. Contohnya saat peristiwa penyobekan kain berwarna biru dari bendera merah, putih, dan biru yang melambangkan Belanda di depan Hotel Yamato di Surabaya. Ini mengakibatkan banyak korban yang jatuh karena peristiwa tersebut, dan berbagai peristiwa lain yang harus memakan korban untuk terus mengibarkan sang merah putih di Indonesia.

Sikap nasionalisme juga dapat ditunjukkan dengan cara menghargai dwiwarna yang terus berkibar di angkasa Ibu Pertiwi, dan untuk menunjukkan sikap nasionalisme itu orang Maluku mempersembahkan nama merah putih kepada salah satu jembatan terpanjang di Indonesia Timur, yang terletak di Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku. Jembatan merah putih merupakan landmark dari Provinsi Maluku, pemberian nama merah putih ini bukanlah tanpa alasan. Hal ini disebabkan merah putih sarat akan makna nasionalisme terhadap Indonesia.

Di sisi lain, penamaan merah putih bertujuan agar orang Maluku dapat mengenang perjuangan leluhur mereka untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini juga mengingatkan kembali memori orang Indonesia bahwa Maluku adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari Indonesia sampai kapan pun, serta menjadi tanda peringatan bagi kaum generasi muda Maluku untuk terus menunjukan sikap nasionalisme kepada bangsa Indonesia.

Pulau Ambon yang di dalamnya terdapat ibu kota Provinsi Maluku, dipisahkan oleh perairan Teluk Ambon, sehingga membentuk dua jazirah besar, yaitu jazirah Leitimor yang semua desanya masuk dalam wilayah administrasi Kota Ambon dan jazirah Leihitu yang sebagian besar desanya masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Maluku Tengah. Ini menyebabkan Pulau Ambon berbentuk seperti huruf 'U', atau seperti bentuk kepala naga, yang menjadi rahang bawahnya adalah Tanjung Nusaniwe di sebelah selatan dan rahang atasnya adalah Tanjung Allang disisi utara, sementara pusat Kota Ambon terletak pada sisi selatan pulau itu.

Hal inilah yang menyebabkan terciptanya ide pembuatan suatu jembatan penghubung yang menghubungkan dua jazirah tersebut. Ide ini kemudian direalisasikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada bulan Juli tahun 2011. Lokasi terbaik yang dipilih untuk mendirikan jembatan tersebut adalah Desa Galala, Kecamatan Sirimau di sisi timur dan Negeri Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon di sebelah barat.

Pembangunan jembatan ini memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar lima tahun pengerjaan dan kemudian diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada April 2016, yang kemudian diberi nama 'Jembatan Merah Putih'. Tujuan utama pendirian jembatan ini adalah untuk menyambungkan dua jazirah yang dipisahkan oleh Teluk Ambon. Jembatan merah putih juga menjadi penunjang penggembangan fungsi kawasan Teluk Ambon sesuai dengan tata ruang Kota Ambon, yang menghubungkan pusat kota menuju kawasan strategis potensial, yaitu Bandara Internasional Pattimura di Desa Laha, dan kawasan Poka dan Rumahtiga sebagai kawasan pendidikan yang terletak Universitas Pattimura sebagai universitas negeri terbesar di Kota Ambon. Di samping itu, melewati Jembatan Merah Putih juga dapat mengefisiensi waktu perjalanan, yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dibandingkan berjalan mengitari Teluk Ambon, yang memakan waktu hampir satu jam perjalanan dari arah pusat kota menuju tempat-tempat strategis tersebut.

Di samping tujuan utama pembangunan jembatan merah putih yang merupakan jembatan jalan raya, ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat kedua jazirah. Masyarakat di daerah Jazirah Leihitu dapat dengan mudah memasarkan dagangannya di pasar induk, yaitu Pasar Mardika yang terletak di Kota Ambon. Di sisi lain, pembangunan Jembatan Merah Putih jika dilihat dari kacamata antropologi dan sosiologi merupakan suatu wadah yang menyatukan atau menyambungkan kembali dua kelompok besar yang bertikai pada kejadian kelam saat konflik sosial melanda Maluku tahun 1999. Selain itu, Jembatan Merah Putih dapat dikatakan juga sebagai representasi 'lambang perdamaian' di Maluku.

Jembatan merah putih yang terletak di titik pertemuan dua jazirah besar di Pulau Ambon juga dianggap sebagai simpul pemersatu dua kebudayaan, dimana Jazirah Leihitu yang budayanya condong berakulturasi dengan kebudayaan Arab, dan Jazirah Leitimor yang budayanya condong berakulturasi dengan kebudayaan Eropa (Belanda dan Portugis). Masyarakat Maluku sangat berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang telah membuat suatu proyek yang bukan hanya memiliki nilai anggaran yang fantastis. Namun di balik itu, proyek ini memiliki nilai dan filosofi yang bermakna dalam ingatan masyarakat Maluku, dan juga dirasakan manfaat pembangunannya oleh semua golongan masyarakat.

Di usia yang ke-76 tahun Republik Indonesia, masyarakat sangat mengharapkan program-program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, baik berupa program padat karya, dan program lainnya, agar menyerap segenap potensi masyarakat kecil, yang terus berjuang dalam menjalankan roda perekonomian keluarga mereka di masa pandemi. Teruslah membangun dari pinggiran, untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Salam pembangunan, salam Indonesia maju, merdeka!

Samuel Michael Wattimury, Pemenang Favorit Lomba Karya Tulis PUPR Kategori Umum

(mul/ega)