Kolom

Wajah Bangsa Indonesia di Ujung Negeri

Ayyub Hidayat - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 15:44 WIB
Berkunjung ke Kabupaten Malaka, NTT, belum lengkap rasanya jika tak singgah PLBN Motamasin. Pos yang menjadi pintu gerbang Indonesia dan Timor Leste ini memang menjadi bangunan termegah di Malaka.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan merupakan butir ketiga dari nawa cita yang ingin mewujudkan pemerataan infrastruktur di ujung negeri. Sebuah ide dan gagasan serta kerja keras yang datang dari pemerintah yang ingin mewujudkan wajah baru dan modernisasi di wilayah batas negara, dan tentunya dukungan oleh masyarakat Indonesia.

Pembangunan PLBN terpadu ini diawali dengan perintah dari Presiden Joko Widodo yang memerintahkan bangunan pos baru yang harus lebih baik dari milik negara tetangga yang saat ini terdapat 18 PLBN terpadu yang tersebar di seluruh kawasan perbatasan Indonesia dengan negara lain. Kawasan perbatasan itu adalah perbatasan Indonesia-Malaysia, Indonesia-Timor Leste dan Indonesia-Papua Nugini.

Otorisasi sering kali dibutuhkan untuk memasuki sebuah negara melalui perbatasannya. Tempat pemeriksaan perlintasan keluar masuk manusia dan barang antara dua negara yang biasa masyarakat sebut dengan PLBN, Pos Lintas Batas Negara. Pemeriksaan di pos lintas batas negara mempunyai tujuan, yaitu untuk mencegah masuknya individu yang tidak diinginkan (misalnya penjahat atau orang yang dapat menimbulkan ancaman), untuk mencegah masuknya barang-barang yang ilegal, dan untuk mendapatkan bea masuk.

Sebagai landasan hukum pembangunan 11 PLBN itu pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2019 tentang percepatan 11 PLBN terpadu dan sarana prasarana penunjang di kawasan perbatasan. Meski telah berhasil membangun 7 pos di tahun 2018, di tahun 2019 sampai 2022, masih terdapat tugas membangun 11 pos dan mengarahkan 11 PLBN dibangun dengan berbagai aspek pendukung, di antaranya mengoptimalkan penugasan TNI dan Polri pada pos-pos pengamanan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, ada aspek pendukung seperti infrastruktur jalan, jaringan listrik, telekomunikasi, sekolah, pasar, dan kebutuhan sosial lainnya.

Sementara 11 pos lintas batas yang akan dibangun pada 2019 sampai 2022 (multiyears), yaitu Kecamatan Serasan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau; Kecamatan Kagok Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat; Jasa Sei Kelik, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat; Long Nawang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara; Long Midang Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara; Labang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara; Sei Pancang, Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara; Oepoli, Kupang, Nusa Tenggara Timur; Napan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur; Sota, Kabupaten Merauke, Papua; Yetet Kun, Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, Papua dengan menelan anggaran Rp 2,27 triliun.

Biodiversitas bumi Borneo (Benuanta, Kalimantan Utara) tak perlu diragukan lagi keindahan aneka ragam flora dan fauna di Pulau Kalimantan Utara. Hal ini yang dapat memanjakan mata apalagi ketika infrastruktur sudah terbangun dan jalan-jalan telah terkonektivitas ke tempat-tempat yang pelosok sekali pun sampai ujung batas negara. Sesuatu yang tidak dimiliki batas-batas negara lainnya karena konsep dari bangunan dan alam sangat menyatu tanpa menghilangkan ciri khas adat istiadat kawasan setempat. Hal tersebut sejalan dengan infrastruktur yang dibangun, khususnya PLBN dengan dibangun dan revitalisasi PLBN ini. Sebagai masyarakat Indonesia, patut berbangga bahwa di ujung negeri pun pemerintah sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, yang sekian lama telah seakan akan terisolir, tanpa peradaban yang maju seperti yang di rasakan di kota, seperti adanya jalan aspal, interkoneksi internet, bangunan yang megah dan memberi kesan kekinian.

Dengan tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa saya telah menempuh perjalanan selama sebulan dengan mengunjungi 4 PLBN yang berada di Kalimantan Utara, yaitu PLBN Sei Pancang, PLBN Labang, PLBN Long Midang, dan PLBN Long Nawang. Dengan wajah semangat dan optimis, inilah wujud wajah Indonesia di mata negara tetangga, yang dahulu ibarat kata rumput tetangga lebih hijau, sekarang rumput sendiri lebih hijau. Perlu kerja keras bangsa ini untuk mengembalikan martabat bangsa. Perjalanan yang tentunya tidak mudah dan bertaruh nyawa untuk menempuh ke semua PLBN. Menggunakan beberapa akses transportasi darat, dengan mobil dakar khusus medan lumpur dan jalan tanah seperti yang diketahui bahwa jalan-jalan telah mulai digenjot pengerjaannya agar dapat ditempuh lewat darat, untuk akses ini akan dibangun jalan Trans Kalimantan sepanjang 1.910 KM dengan kondisi belum tembus sepanjang 84,05 KM.

Ini merupakan sarana utama untuk membangun dari pelosok terluar. Akses lainnya dapat ditempuh dengan kapal atau longboat menyusuri sungai yang berarus deras dan berbatu. Area khusus di PLBN Labang ini berada di bantaran sungai dan merupakan perbatasan, yang lalu lintasnya menggunakan, kapal atau perahu. Kemudian akses udara menggunakan pesawat caravan untuk mencapai tempat tersebut dengan jarak tempuh yang singkat, tapi sangat terbatas jam penerbangan.

Terdepan, terluar, tertinggal, mungkin ini kata yang menggambarkan lokasi ke PLBN di Kalimantan Utara. Gerbang terdepan ini menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 1 triliun. Pembangunan PLBN ini dilaksanakan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Provinsi Kalimantan Utara Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan ruang lingkup pekerjaan meliputi bangunan utama, mess pegawai, wisma Indonesia, lansekap, pekerjaan interior sesuai gaya arsitektur lokal, X-Ray cabin baggage, metal detector, jalan dan parkir kendaraan, jembatan serta mekanikal elektrikal dan plumbing (MEP) kawasan. Saya bertugas untuk melakukan pemantauan MEP dan AMDAL keempat PLBN ini. Apa yang harus diperhatikan dari semua fasilitas inti maupun penunjang, pertama, keadaan lingkungan yang ditimbulkan pembangunan yang berada di tengah hutan apa dampaknya, dengan adanya bangunan dan aktivitas lainnya? Tentunya, ini telah dipikirkan solusi yang dianggap dapat mengurangi dampak dari lingkungan yaitu tidak melakukan penebangan pohon di sembarang lokasi, pemanfaatan kayu dari hasil bahan sekitar mengubahnya jadi bahan bermanfaat.

Kedua, yaitu apakah energi dan sumber daya yang digunakan sesuai dengan konsep green building? Efisiensi energi, pencemaran air, harus diminimalisir, seperti dengan melakukan langkah solutif dengan mengolah kembali air limbah, menggunakan panel surya sebagai energi listrik terbarukan, membuat pengolahan persampahan, dan menampung air hujan. Jadi, semua telah dilakukan pemantauan lingkungan dan sumber energi, dan telah dipilih solusi atau langkah untuk meminimalisir dampak pembangunan terhadap lingkungan hutan tersebut.

Ketiga, yaitu apakah dengan dibangunnya PLBN akan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air, jiwa nasionalisme, rela berkorban demi tumpah darah Indonesia? Maka dari itu di bangun bangunan monumental yang akan merefleksikan kembali ideologi bangsa dengan di bangunnya patung Garuda dan patung Bapak Presiden RI Pertama Ir. Soekarno ini sebagai wujud konsep hadirnya negara sebagai daya saing nasional, pemerataan hasil pembangunan dan mengurangi disparitas.

Berbagai manfaat dan keuntungan yang didapat masyarakat sekitar perbatasan seperti, peningkatan dan pergerakan perekonomian masyarakat dan income untuk negara, mencegah masuknya barang barang ilegal, melindungi dari ancaman dari luar, sebagai pusat pariwisata baru, sebagai tempat beribadah, dan masih banyak keuntungan lainnya dari PLBN. "Pembangunan PLBN tidak hanya sebagai gerbang masuk namun menjadi embrio pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan," kata Menteri PUPR Basuki.

"Bangunan penunjang seperti food court membuat lapangan kerja baru bagi saya dan saya akan berjualan di lokasi PLBN," kata Juru Masak PT. PP PLBN Long Nawang, Masdiana.

Wujud kebanggan bangsa dan rakyat Indonesia terutama masyarakat yang tinggal di perbatasan, bahwa bangsa ini telah memperlihatkan eksistensinya untuk menjaga seluruh tumpah darah dan Tanah Air Nusantara, serta mampu memberikan kontribusi untuk menjaga NKRI dengan jati diri bangsa sebagai masyarakat majemuk yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. Merujuk dari sila ketiga persatuan Indonesia yang, kita ini adalah bangsa yang dasarnya gotong royong, saling bahu membahu, saling membantu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, PLBN ini dianggap mampu mempersatukan masyarakat Indonesia untuk menjaga semua aset negara yang telah dibangun.

Ayyub Hidayat, Pemenang Lomba Karya Tulis PUPR Kategori PUPR

(prf/ega)