Kolom

Biarkan Mural-Mural itu Viral

Mushab A Aris - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 14:15 WIB
Mural bertuliskan Wabah Sebenarnya Adalah Kelaparan juga muncul di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Mural tersebut telah dihapus Satpol PP. (dok Istimewa)
Mural-mural terus bermunculan; sebuah mural di Banjarmasin yang telah dihapus Satpol PP (Foto: dok. istimewa)
Jakarta -

Di ruang siber, momen penting lahirnya republik ini dihiasi oleh polemik trending topik "mural 404". Diawali dengan viralnya mural-mural curhat masa pandemi yang kemudian dihapus oleh otoritas setempat. Lalu klimaksnya penghapusan mural-mural ini mendapat respons lagi berupa sebuah mural bergambar wajah Presiden dengan angka 404, kode error internet saat hasil pencarian tidak ditemukan.

Mural terakhir ini kemudian menjadi polemik karena mengambil bahan gambar Presiden sebagai simbol negara. Bila kasus ini tidak diperhitungkan secara matang, blunder bisa berlanjut dan pemerintahan saat ini berpotensi dianggap antikritik --terlepas dari perdebatan pantas dan tidak pantasnya mural tersebut bila dilihat dari sudut pandang etika maupun statusnya di hadapan hukum, apalagi sampai menerapkan pasal kriminal pada pembuatnya.

Mural-mural tersebut dianggap merusak citra baik status quo. Maklum saja, sekarang ini zamannya pencitraan dianggap sangat penting, bahkan (mungkin) lebih penting daripada prestasi dan hasil kerja nyata. Sampai-sampai pada masa pandemi, tetap bermunculan baliho-baliho pencitraan tokoh-tokoh politikus nasional dengan tema presiden untuk 2024, lengkap dengan logo partai masing-masing.

Tahun 2024 masih tiga tahun lagi dan baliho-baliho itu harus dipajang sekarang juga, tanpa memperhitungkan empati pada masyarakat luas sekarang ini. Pada saat kita sebagai sebuah negara,sedang berhadap-hadapan dengan pilihan simalakama antara kebijakan PPKM oleh pemerintah demi mencegah penyebaran Covid supaya tidak semakin parah, namun juga mengancam kebutuhan ekonomi masyarakat sehari-hari, hasilnya kontra produktif. Netizen merespons baliho-baliho itu secara negatif.

Sebegitu pentingnya pencitraan di dunia politik? Bagaimana dengan bidang lainnya, khususnya di negeri kita tercinta, di Indonesia ini? Apakah perhatian, penghargaan, penghormatan dan kekaguman orang-orang harus didapatkan menggunakan alat utama berupa sebuah pencitraan? Tidak mampukah sebuah prestasi dan hasil kerja nyata yang jadi ujung tombak untuk mendapatkan citra yang baik dan perhatian publik?

Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa ini dan masyarakat pada umumnya? Bagaimana karakter dunia medsos kita? Atau, bolehlah kita tengok dunia entertainment kita misalnya? Mungkin pertanyaan yang lebih jauh lagi, apakah struktur sosial-budaya masyarakat Indonesia yang genap berusia 76 tahun ini, sekarang menganggap bahwa citra dan pencitraan sebagai salah satu faktor yang penting dan mendasar bagi kehidupan kita, baik itu di skala personal sampai di skala nasional, berbangsa dan bernegara?

Saya tidak bermaksud menyalahkan sepenuhnya sebuah pencitraan. Tapi bagaimana ketepatan, komposisi, dan proporsionalnya sebuah pencitraan. Tidak akan cukup sebuah esai atau bahkan mungkin sebuah buku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi saya mengajak Anda untuk menengok sebuah fenomena menarik di dunia siber kita yang berkaitan dengan pencitraan. Tanpa pencitraan, orang tetap bisa menarik perhatian publik.

Pernahkah Anda mendengar tentang channel AliP Ba Ta? Channel di Youtube ini viral mendunia dan berhasil merebut hati para pencinta musik baik nasional maupun internasional Channel ini buatan Alif Gustakhiyat. Pria yang belakangan diketahui berasal dari Ponorogo dan berprofesi sebagai sopir forklift ini sudah mencapai lebih dari 4 juta subscriber sejak muncul pertama kali pada 2018.

Namanya belum pernah terdengar di dunia musik Indonesia. Tapi permainan gitar akustik Alip Ba Ta lewat video-video yang diunggahnya bahkan berhasil menuai decak kagum para musisi-musisi papan atas. Mulai dari musisi-musisi nasional semisal sang legenda Iwan Fals, gitaris Dewa Budjana, maupun para musisi internasional sekelas Brian May gitaris band Queen dan Synister Gates gitaris band Avenged Sevenfold, serta musisi-musisi kelas atas lainnya yang terlalu panjang untuk disebutkan satu-per satu.

Permainan akustik Alif memang sangat rumit, tapi indah dan merdu. Saya tidak sedang endorse, tapi silakan Anda "melancong" sendiri ke channel Youtube tersebut. Lantas, apa yang istimewanya dibanding video musik viral lainnya? Well, saya ajak Anda lagi untuk memperhatikan detail yang lain pada channel Alif Ba Ta ini, selain konten permainan gitarnya. Bila kita perhatikan setting pengambilan videonya, hampir semuanya sama.

Alif yang memakai kaos oblong, topi, dan bercelana pendek seadanya duduk selonjoran santai dengan gitar akustiknya. Berlatar dinding lusuh dengan tempelan dua poster tua pada dinding tersebut. Poster-poster alat belajar anak TK dan kelas 1 SD. Tidak jarang ada penampakan secangkir kopi, rokok, dan asbaknya.

Video dimulai tanpa salam pembuka dan yel-yel marketing ala Youtube, tanpa basa-basi langsung saja memainkan gitarnya. Tidak ada kata-kata penutup permintaan like, comment, dan subscribe juga di akhir video, tidak sekalipun.

Tidak tampak pula desain khusus pada channel ini sebagaimana umumnya sebuah channel Yotube yang ditangani serius, apalagi sedang beranjak viral. Tanpa embel-embel yang "eye-catching" pada judulnya, pemilihan nama channel-nya saja dari awal terlalu sederhana dan jauh dari tema musik, AliP Ba Ta.

Di sela-sela video kadang kita bisa mendengar sayup-sayup suara ayam berkokok, dan suara anak menangis, yang bisa dianggap melanggar estetika pada sebuah video yang diunggah ke publik. Dari video lama, sampai video terbaru, relatif penampakannya sama. Tanpa kata-kata, AliP Ba Ta menyampaikan kesannya (bukan pesan): inilah musikku, mudah-mudahan Anda menikmatinya, selanjutnya terserah Anda, subscribe atau like ya monggo, enggak ya nggak apa-apa.

Singkatnya, setting video-video channel Alif Ba Ta ini sangat apa adanya, kalau keterlaluan disebut "asal-asalan". Gitu thok, tapi bisa viral mendunia dengan lebih dari 4 juta subscriber. Tanpa teknik pemasaran dan pencitraan sedikit pun. Cukup dirinya dan gitarnya, dan dunia terpukau.

Mungkin Alif tidak bermaksud begitu, tapi bagi saya Alip Ba Ta sudah "menabrak" tren pencitraan modern. Channel Alip Ba Ta adalah sebuah fenomena antitesis pencitraan. Channel ini berhasil membuktikan bahwa ketekunan dengan hasil prestasi yang nyata bisa merebut perhatian banyak orang tanpa harus "rewel" dengan teknik-teknik pencitraan tertentu.

Saya membayangkan misalnya, bagaimana seandainya respons pemerintah terhadap mural-mural viral itu memakai teknik nir-pencitraan AliP Ba Ta ini. Biarkan mural-mural itu viral. Beberapa hari kemudian pemerintah mengumumkan: bahwa seluruh anak yang jadi menjadi yatim karena orangtuanya meninggal disebabkan Covid-19, sudah didata dan pemerintah telah menyiapkan anggaran beasiswa sampai ke jenjang S1.

Sangat mungkin mural-mural tersebut akan bernasib seperti desain channel Alif yang "asal-asalan" itu. Orang-orang akan mengabaikannya dan terfokus pada prestasi dan hasil kerja nyatanya. Sekali lagi, ini misalnya lho ya....

Mushab A Aris

(mmu/mmu)