Bahkan Gading pun Bisa Retak

ADVERTISEMENT

Jeda

Bahkan Gading pun Bisa Retak

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 22 Agu 2021 11:05 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Aktivitas pagi saya setelah beres-beres dan membuat teh untuk orang rumah adalah berbelanja. Nah, di tempat tukang sayur ini saya memang tidak ikut ngerumpi apalagi sejak pandemi melanda. Tapi waktu yang singkat itu selalu saya gunakan sebaik-baiknya untuk mencari informasi. Ya, menguping gosip ibu-ibu adalah nama tengah saya.

Kemarin saya mendengar obrolan ibu-ibu yang menceritakan bahwa ada teman sekolah anaknya yang meninggal dunia. Sebenarnya sejak covid mengganas, berita duka sudah seperti rutinitas meski tetap menyakitkan. Sebab meninggal teman sekolah anak ibu itu tidak kalah nggrantes, yaitu dihajar bapaknya karena tidak memperoleh nilai sempurna. Anak itu mendapat nilai 98. Iya, 98. Dan 98 memang belum mencapai 100. Tapi kenapa sampai memukul anak sampai meninggal?

Saya paling sedih dan ingin marah semarah-marahnya kalau ada orangtua yang selalu menuntut kesempurnaan terhadap anaknya. Saya bisa paham ketika masa sekolah daring itu memang melelahkan dan membuat stres baik anak maupun orangtua. Saya bisa paham ketika orangtua ngomel-ngomel karena kesusahan mengajari anaknya apalagi orangtua yang bekerja di luar rumah. Sampai rumah capek, masih harus mengajari anak. Tapi sampai batas anak yang penting paham sudah cukup kan? Maksud saya, itu hal normal dan wajar.

Menurut hasil menguping saya, dalam kondisi normal, bapak yang mengajar anaknya tersebut memang tidak pernah menoleransi kegagalan anaknya. Segalanya harus sempurna. Lha dikiranya lagunya Andra and The Backbone apa?

Saya jadi ingat anime yang pernah saya tonton. Di situ ada adegan orangtua yang tidak menoleransi kegagalan. Di salah satu anime favorit saya yang berjudul Kuroko No Basuke ada tokoh yang namanya Akashi Seijuro, kapten tim basket Kiseki No Sedai (Generasi Keajaiban) SMP Teiko. Akashi Seijuro berasal dari keluarga kaya dan terpandang bak keluarga raja-raja.

Dia dituntut bisa menguasai semua hal. Akademik harus bagus (semua nilainya memang selalu 100), bermain musik harus jago (ada scene ketika Akashi bermain biola), ketika bermain basket dia juga harus selalu menang. Bahkan ketika masih kelas 2 SMP, dia sudah menggantikan Nijimura sebagai kapten tim. Ketika lulus dari SMP Teiko dan masuk SMA Rakuzan, dia langsung mendapat nomor punggung 4 di tim basket barunya, artinya dia langsung menjadi kapten. Padahal dia masih anak baru.

Semua orang harus menurut padanya. Kata-kata yang terkenal darinya adalah "My order is absolute!" Dia tidak pernah tertawa dan punya dua kepribadian yang membuat orang takut kepadanya.

Ada lagi tokoh bernama Maria Inomata di anime Gakuen Babysitter. Inomata adalah siswi unggulan yang kerjanya belajar terus. Dia selalu mendapat ranking satu paralel. Teman-teman sekolahnya tidak ada yang mau berteman dengannya karena takut. Ada scene ketika dia menangis karena dibilang jutek dan seram sampai menakuti dan membuat menangis bayi-bayi di penitipan anak.

Saya masih ingat kata-katanya ketika menangis, "Ya mana aku paham ginian, kerjaanku cuma belajar. Terlalu banyak belajar membuatku kesepian!" Jadi sebenarnya Inomata ini ingin juga berteman dengan yang lain tapi tidak tahu caranya. Sejak kecil dia selalu dituntut belajar dan belajar oleh orangtuanya. Dia tidak paham bagaimana caranya beinteraksi dengan orang lain. Jatuhnya dia menjadi judes dan menyeramkan.

Di dunia nyata saya juga punya teman seperti itu. Ketika nilanya tidak sempurna, sudah pasti besok dia memakai jaket terus sepanjang hari untuk menutupi kulitnya yang biru-biru bekas pukulan oleh bapaknya. Dia iri ketika saya cerita bahwa ketika SMA, saya pernah mendapat nilai -25 (iya, minus, lebih parah dari 0) untuk nilai matematika. Ya, bagaimana wong dulu memang kadang ada kuis yang kalau salah dikurangi nilainya. Lha saya kan sungguh nggak mudheng mapel eksak, apalagi kalau gurunya tidak jelas menerangkannya. Ya sudah pasrah saja. Saya masih tertawa-tawa karena ada teman yang lebih parah dari saya, nilainya -35.

Bagi teman saya, itu lucu sekali. Kok bisa banding-bandingan nilai jelek, tapi masih bahagia saja; itu kalau dia pasti sudah milih bunuh diri. Teman saya mengatakannya dengan serius tentu saja.

Jujur saja saya memang tidak pernah disuruh belajar oleh orangtua saya. Saya memang tipenya tidak mau disuruh-suruh. Karena sejak SD sampai SMP saya selalu mendapat ranking satu. Sebenarnya yang mendongkrak adalah nilai-nilai non eksak seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa (saya memang suka belajar bahasa dan membaca fiksi), sejarah, pendidikan agama (karena ada bahasa Arab dan shirah nabawiyah).

Untuk matematika dan fisika, selama gurunya cocok saya bisa mengikuti, tapi ketika tidak, sudah dipastikan zonk. Sampai sekarang ketika mimpi buruk, sering sekali yang muncul adalah saya yang menangis di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal matematika dan dimarahi guru.

Saya memang bukan tipe yang kompetitif. Belajar ya karena sudah sewajarnya tugas pelajar seperti itu. Tidak pernah ada target harus lebih baik dari si A dan si B. Kalau mereka lebih baik dari saya ya saya bodo amat. Ketika dewasa juga begitu. Memang saya pernah juara satu lomba menulis dua kali dan beberapa juara lomba menulis lainnya, tapi itu karena ada stok tulisan yang cocok saja jadi ikut kirim. Kalau tidak ada stok dan sedang tidak mood ya tidak bakalan ikut meski hadiahnya banyak.

Saya ditolak masuk PTN dan CPNS yang entah berapa kali itu ya sudah. Melamar kerja juga selalu ditolak. Ketika ada teman yang ketrima ya tidak iri, tapi juga tidak ikut bahagia juga sih. Haha. Biasa aja. Flat banget ya. Memang parah jiwa kompetitif saya yang zero ini. Tapi sebenarnya sifat tidak kompetitif saya ini jangan ditiru. Kompetitif kalau wajar bagus kok. Bisa menambah semangat hidup.

Seperti dalam anime Shokugeki No Soma, Yukihira Soma itu kompetitif sekali sampai berkali-kali membuat takjub teman, guru dan saingannya di Akademi Kuliner Totsuki. Tapi ada kalanya dia gagal atau tidak menjadi yang terbaik seperti ketika bertanding melawan ayahnya dan seorang seniornya. Meski rivalnya, Nakiri Erina, mengatakan bahwa memaklumi kegagalan adalah alasan yang dibuat-buat para pecundang, Yukihira Soma bisa menjadikan kegagalan sebagai sesuatu yang kreatif dan solutif. Gagal satu dua kali itu biasa, kalau berkali-kali ya nasib.

Kembali lagi ke kasus orangtua yang menghajar anaknya tadi, entah apa yang dipikirkannya sampai menuntut anak seperti itu. Kasus seperti itu tidak hanya satu atau dua kali, ketika anak menjadi mesin ambisi orangtua. Kalau saya lebih baik childfree saja daripada tidak bisa menjadi orangtua yang baik. Saya sudah pernah membahas tentang childfree di kolom saya jadi tidak saya bahas lagi, intinya adalah tanggung jawab.

Gita Savitri bagus dengan alasannya untuk childfree, Zaskia Mecca juga bagus dengan parenting 5 anaknya, Zaskia Sungkar juga berhak bahagia dengan kehadiran anak yang sudah ditunggu lama. Yang penting adalah tanggung jawab atas pilihan mereka, tidak menjadi orangtua yang toksik.

Kalau memang harus "memaksa" anak, untuk saya pribadi, bukan dia harus sempurna di segala bidang. Tidak harus menjadi orang yang luar biasa. Jadi orang yang bener, pener, dan tidak jahat sama orang lain saja sudah cukup. Menjadi biasa saja itu tidak apa-apa. Paling untuk skill tambahan, yang penting dia mau membaca buku dan menabung pertemanan yang baik. Menabung pertemanan ini bukan ikut geng atau sirkel-sirkel tertentu biar terlihat keren, tapi berinteraksi yang baik. Tidak harus banyak-banyakan teman tapi lebih ke kualitas pertemanan.

Menjadi pintar itu bagus, tapi bukan segalanya. Punya teman-teman yang suportif akan membantu kita dalam kondisi yang tidak kita duga. Saya banyak mendapat rezeki dari lantaran pertemanan, bisa menyusun buku yang bagus dan laku banyak juga lantaran pertemanan, jika sedih juga dihibur teman.

Akashi Seijuro yang selalu memerintah rekan setimnya karena dia merasa sempurna di segala hal, giliran dia yang berbuat kesalahan, tidak ada rekan setimnya yang menghibur karena dia juga tidak pernah menghibur atau memuji temannya. Tidak bisa membayangkan betapa hampa dan menyedihkan hidup seperti itu. Gading gajah saja retak kok, apalagi hati manusia.

Gondangrejo, 21 Agustus 2021

Impian Nopitasari penulis, tinggal di Solo

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT