Obituarium

Andaikan Saya Bertemu Budi Darma

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 13:53 WIB
Kabar duka menyelimuti dunia sastra Indonesia. Sastrawan Prof Dr Budi Darma meninggal dunia pagi tadi.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi.

Kalimat-kalimat dalam pembuka novel Rafilus itu seperti menggedor kepala saya. Saya seperti tidak mau berhenti membaca buku yang kertasnya sudah menguning dan tampak rapuh itu.

Begitulah perkenalan awal saya dengan karya-karya Budi Darma dimulai. Bermula dari novel Rafilus terbitan Balai Pustaka yang saya temukan sekitar tahun 2012 di sebuah perpustakaan daerah di kabupaten kecil di Jawa Barat yang senantiasa sepi. Dalam kartu daftar peminjam tampak belum ada yang meminjam buku itu. Ini ironis, karena saya juga baru mengenal Budi Darma saat kuliah. Padahal namanya sudah begitu agung dalam jagat sastra Indonesia bahkan jauh sebelum saya dilahirkan.

Saya memang sengaja mencari buku Budi Darma atas rekomendasi salah seorang blogger buku. Dia merekomendasikan dua nama, Haruki Murakami dan Budi Darma. Dan keduanya terus menjadi penulis favorit saya sampai hari ini.

Menurutnya, Budi Darma adalah penulis yang bisa menghadirkan karakter-karakter misterius yang sepertinya asyik buat diajak mengobrol ngalor-ngidul. Saya pun membuktikannya sendiri lewat Rafilus.

Sejak hari itu, usai menamatkan Rafilus, pandangan saya tentang sastra, filsafat, dan kehidupan tak pernah sama lagi. Pak Budi seperti menyorongkan dunia ganjil yang penuh kejutan dan hikmah dalam Rafilus. Apa makna kehidupan itu? Apakah waktu yang dihayati? Apakah penderitaan itu? Dan lain sebagainya.

Selanjutnya, tokoh-tokoh khas ciptaan Budi Darma saya temukan dalam karya-karyanya yang lain. Semua tokohnya, baik dalam cerpen maupun novel, seperti punya gambaran umum yang identik. Mereka adalah manusia-manusia absurd, tengil, kejam, dan kepalang goblok.

Diksi-diksi yang dipakai oleh Budi Darma pun selalu otentik. Dia sering memakai kata 'sekonyong-konyong' ketimbang 'tiba-tiba'. Lebih suka memakai kata 'goblok' yang mungkin terdengar lebih kasar daripada 'dungu'. Ia lebih suka memakai kata 'menggarap' sebagai ganti kata 'menyetubuhi'. Bahkan, Pak Budi memakai kata ganti 'sampeyan' yang biasanya dipakai orang Jawa di Surabaya dan sekitarnya sebagai kata ganti 'kamu' dalam novel Olenka yang setting-nya di Amerika.

Karya-karya Budi Darma merupakan trademark tersendiri dalam sastra Indonesia. Dalam Rafilus, misalnya, Budi Darma menghadirkan tokoh-tokoh yang dilingkupi kemuraman. Rafilus yang 'bukan manusia' dengan hidupnya yang begitu muram membuat kita yakin bahwa kehidupan kerapkali absurd. Sedangkan lewat Paswestri, kita percaya bahwa dalam mengaku pun manusia tetap munafik. Rafilus adalah novel yang memotret ruang-ruang kepribadian manusia yang gelap nan wingit.

Sedangkan dalam Olenka, kita akan dipertemukan dengan tokoh-tokoh yang terombang-ambing dalam kegamangan. Olenka yang narsis dan liar, Wayne Danton si cerpenis gagal, dan Fanton Drummond yang jadi tempat persinggahan nafsu Olenka. Lewat Olenka, kita dipaksa percaya bahwa manusia adalah makhluk pemalu dengan segudang aib.

Lalu melalui Orang-Orang Bloomington --cerpen-cerpen panjang yang ia tulis saat kuliah di Amerika Serikat-- kita diingatkan kembali tentang betapa tengil dan kejamnya manusia.

Motif serupa juga bisa kita temukan dalam cerpen-cerpennya lain. Cerpen-cerpen yang seringkali menghadirkan tokoh-tokoh khas dengan celetukan nyinyir. Misalkan cerpen Kritikus Adinan, cerpen bergaya Kafka yang merupakan nyinyiran untuk orang yang gemar mencari muka. Ada pula cerpen Kecap Nomor Satu di Sekeliling Bayi yang menunjukkan betapa jahanamnya orang gemar yang pamer di atas kesedihan orang lain. Juga cerpen Pohon Jejawi yang merupakan nyinyiran untuk kekejaman kolonialisme.

Nyinyiran-nyinyiran yang lebih pedas dan sarkas juga bisa kita temukan dalam esai-esai kritik sastranya yang terhimpun dalam buku Solilokui, yang sekaligus menggenapkan sosok Budi Darma sebagai kritikus sastra pilih tanding.

Dalam Solilokui kita bertemu dengan Budi Darma yang ilmuwan dan tukang nyinyir. Ada satu esainya yang secara terang-terangan menyindir para penyair yang hanya bermodal rambut gondrong dan puisi mantra. Budi Darma seolah mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar tempat mejeng untuk mencari popularitas belaka, ia lebih dari sekadar itu.

***

Orang-orang sering bilang bahwa narasi-narasi dalam karyanya yang tampak kejam dan kurang ajar itu seolah berbanding terbalik dengan sosok Budi Darma yang selalu tampil rapi, necis, dan lembut tutur katanya. Saya pun ingin membuktikannya sendiri. Sekitar tahun 2015, saya pernah berinisiatif untuk datang langsung ke kediamannya yang ada di kompleks dosen Unesa, Ketintang, Surabaya. Wilayah yang juga menjadi setting tempat tokoh-tokoh Rafilus.

Saya pergi ke sana dengan seorang kawan yang kebetulan juga berkuliah di Unesa, tempat Pak Budi mengajar. Tapi ia Jurusan Fisika, sedangkan Pak Budi mengajar di Jurusan Sastra Indonesia.

Kawan saya itu sempat bercerita, Budi Darma adalah orang yang sulit ditemui di kampus. Pasalnya, dia sering menerima banyak undangan acara-acara terkait bahasa dan sastra. Di kampus Unesa, Pak Budi juga termasuk orang yang paling disegani. Bagaimana tidak, hampir setiap bulan, kata teman saya itu, selalu ada spanduk ucapan selamat kepada Pak Budi atas berbagai penghargaan di bidang sastra dan lainnya.

Sayangnya, keinginan saya bertemu Pak Budi waktu itu belum terkabul. Pak Budi kebetulan sedang tidak ada di rumah. Saya pikir, mungkin saya masih bisa bertemu dengannya di lain kesempatan. Jika tidak di Surabaya, barangkali di Jakarta atau kota mana saya. Namun keinginan itu jadi mustahil setelah mendengar kabar wafatnya Budi Darma hari ini.

Andaikata saya bertemu Pak Budi Darma kala itu, mungkin saya bisa bertanya langsung tentang banyak hal mengenai karya-karyanya. Misalnya, apakah Rafilus itu dulunya kuli bangunan? Apakah Olenka cantiknya seperti Audrey Hepburn? Apakah orang-orang dalam cerpen Orang-Orang Bloomington lebih suka teh daripada kopi?

Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh tersebut sekarang hanya bisa saya ungkapkan dalam tulisan ini. Jawabannya biarlah menjadi misteri di dunia ini.

Andaikata di surga nun jauh di sana ada kedai teh, apakah Pak Budi Darma mau mengobrol dengan kami, para pembacamu yang sering dibuat gila ini?

Rakhmad Hidayatulloh Permana wartawan detikcom

(mmu/mmu)