Pandemi COVID-19 dan Renungan Hari Merdeka

Mahyudin - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 11:37 WIB
Wakil Ketua DPD Mahyudin
Wakil Ketua DPD Mahyudin (Foto: Dok Istimewa)
Jakarta -

Hari ini, tepat tujuh puluh enam tahun yang lalu para pendiri bangsa memproklamirkan kemerdekaan dalam situasi yang penuh dengan keterbatasan, karena semangat juang yang tak kenal lelah dan Ridha Allah SWT semua itu dapat terwujud. Dengan usia yang tidak lagi terbilang muda itu, bangsa ini sudah seharusnya mencurahkan energi dan pikiran untuk membangun semua aspek kehidupan, mengejar ketertinggalan agar dapat berdiri dengan tegak sejajar dengan bangsa lain dan tidak lagi berkutat pada persoalan-persoalan klasik yang seharusnya sudah selesai sejak kemerdekaan itu dikumandangkan.

Karena itu pula sejak awal pemerintahannya, Presiden Jokowi sangat fokus memperbaiki dan membangun infrastruktur jalan dan jembatan, membangun bandara dan pelabuhan untuk membuka daerah terisolir dan mempercepat arus barang dan jasa, mempermudah investasi untuk membuka lapangan kerja, membangun bendungan dan irigasi serta mencetak areal pertanian untuk meningkatkan produksi pangan, meningkatkan kualitas SDM dengan mendorong riset yang mampu memberi nilai tambah serta mengeluarkan kebijakan BBM satu harga dari sabang sampai Merauke demi terwujudnya rasa keadilan.

Namun di penghujung tahun 2019, di tengah pemerintah telah merampungkan program untuk pembangunan tahun berikutnya, tersiar kabar nun jauh dari negeri tirai bambu, tepatnya di Wuhan yang merupakan ibu kota provinsi Hubei telah lahir makhluk baru yang dinamai Corona virus (Covid-19). Kabar itu begitu menghentak bagai petir di siang bolong, Covid-19 dengan cepat menyebar ke seantero negeri (Pandemi Covid-19), hingga pada manusia sesukanya sebagai inang untuk tumbuh dan berkembang. Tidak mengenal suku/ras, warna kulit, pejabat ataupun masyarakat biasa, kaya ataupun miskin dan tidak peduli dengan penganut agama apa pun.

Covid-19 dalam sekejap menjadi monster yang menakutkan, menjelma menjadi mesin pembunuh yang paling efektif dan mematikan dalam sejarah peradaban umat manusia. Data Worldometers per tanggal 10 Agustus 2021 menunjukkan jumlah korban kematian akibat pandemi Covid-19 mencapai 4.181.915 orang. Hebatnya lagi Covid-19 dapat dengan cepat bermutasi dalam berbagai varian dengan derajat inveksius yang lebih tinggi.

Kehadiran Covid-19 memberi dampak yang luas dan massif dengan meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan global. Parahnya lagi, di tengah invitrasi Covid-19 tidak ada satu negara pun yang punya pengalaman mengatasinya, masing-masing negara hanya dapat mengeluarkan kebijakan preventif untuk menghambat laju penularan sesuai dengan eskalasi dengan merujuk pada standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO), sampai hari ini belum ada satupun ahli Epidemiologi yang dapat memastikan kapan teror ini akan berakhir. Adanya kita dianjurkan dapat hidup berdampingan tapi tentu saja tidak dengan damai, karena begitu kita lengah semuanya akan selesai.

Di awal tahun 2020, Covid-19 terdeteksi pertama kali menginjakkan kaki di bumi pertiwi, pemerintah dengan sigap hadir memberikan keyakinan dan memastikan negara siap menghadapinya dengan mengkategorikannya sebagai bencana non alam, karena memang demikianlah seharusnya negara harus memberi perlindungan, harapan dan rasa aman pada warga negaranya. Dalam perjalanan penanganan pandemi Covid-19 berbagai kebijakan telah dikeluarkan mulai dari pencegahan berupa physical distancing, social distancing, 3 M (memakai maker, mencuci tangan dan menjaga jarak), pengadaan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) hingga pengadaan vaksin untuk mempercepat vaksinasi demi terwujudnya herd immunity. Di bidang ekonomi dan perlindungan sosial kebijakan hadir dalam bentuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan berbagai variannya.

Upaya pemerintah menangani pandemi Covid-19 juga dipersenjatai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 2 tahun 2020 yang memberi ruang bagi pemerintah untuk dapat mengubah postur APBN melalui refocusing anggaran untuk mendukung kebijakan yang dapat dengan cepat berganti dan sangat dinamis sesuai dengan kondisi dan eskalasi penyebaran Covid-19, perlu dicatat pilihan-pilihan kebijakan yang diambil itu demikianlah sulit bagai menelan pil kina yang sungguh pahit.

Di tengah kerja keras pemerintah mencegah dan menghambat laju penyebaran Covid-19 dengan memobilisasi segala potensi yang dimiliki,tidak luput dari kritikan, masukan, saran dan pendapat dari berbagai kalangan yang saling bersahutan bagai katak di musim hujan. Tentunya semua itu perlu didengar dan diperhatikan sebagai masukan untuk perbaikan kebijakan selanjutnya. Namun ada juga sebagian dari kita memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, mengais rezeki dengan menimbun dan memperdagangkan berbagai kebutuhan penanganan Covid-19.

Kita menjadi geram karena mendapati penjualan masker dengan harga melangit, penjualan tabung oksigen dengan harga membumbung, penjualan obat penangkal Covid-19 dengan harga yang tak terkira dan mengutak atik harga peti mati untuk pemulasaraan jenazah korban Covid-19. Kita pun menjadi marah karena mendapati kabar dan berita berseliweran dijagat maya yang berisi hasutan ketidakpercayaan penangan Covid-19, yang membuat masyarakat semakin ragu dan bertambah bingung.

Hati kita miris mendapati pejabat negara setingkat menteri harus duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa atas di dugaan korupsi bantuan sosial untuk si miskin. Hati kita bagai tersayat sembilu mendapati seorang bupati harus berurusan dengan penegak hukum karena diduga menilap anggaran pengadaan APD yang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan di daerahnya. Sungguh mereka bagai menari di atas penderitaan si miskin dan papah yang bertarung nyawa demi menyambung hidup dalam tekanan dan himpitan.

Di titik inilah kenangan dan kisah heroik tujuh puluh enam tahun yang lalu itu kembali hadir, bangsa ini pernah terperangkap dalam kubangan penjajahan sedemikian lama. Kesadaran akan senasib sepenanggungan memberi energi besar lahirnya jiwa patriot, kebersamaan dan kegotongroyongan menjadi senjata ampuh dalam memobilisasi segenap potensi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan itu.

Gotong royong itu, lahir dari rahim ibu pertiwi tumbuh dan berkembang secara alamiah dalam masyarakat, gotong royong itu intisarinya Pancasila yang seringkali kita ucapkan dan perdengarkan sebagai warisan luhur bangsa ini dan gotong royong itu yang oleh Bung Karno disebut sebagai "Pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjoangan bantu binantu bersama, amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua, holopis kuntul baris buat kepentingan bersama!" Itulah gotong royong.

Masihkah ada gotong royong itu? karena seharusnya dalam perkara inilah kita saling menguatkan, bergandengan tangan, melangkah bersama, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Dalam urusan ini pula seharusnya rasa empati dan kasih pada sesama dipertaruhkan. Momentum ini mengunggah pribadi kita masihkah gotong royong bersemayam dalam sanubari ataukah hanya tinggal sebagai cerita penghantar tidur anak cucu kita kelak di hari nanti

Dirgahayu Indonesiaku, jayalah bangsaku. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Wakil Ketua DPD RI Mahyudin

(knv/knv)