Jeda

Belajar untuk Tidak Mudah Menghakimi Orang Lain

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 15 Agu 2021 11:40 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya tidak sengaja menemukan akun teman saya yang lama lost contact di Twitter. Kami dipertemukan di sebuah posting-an tentang kucing. Saya meyakinkan diri untuk mengiriminya pesan. Kami pun heboh karena berhasil terhubung kembali setelah sekian tahun kehilangan kontak.

"Piye kabare mamahmu?" tanya saya.

"Masih ngurus warga terdampak covid sekaligus marah-marahin warga yang nggak segera masang bendera dan umbul-umbul. Biasalah, asisten Bu RT," jawaban teman saya melegakan karena berarti ibunya sehat.

Saya langsung tanya kabar ibu teman saya ini memang bukan hanya basa-basi belaka. Sosok ibunya memang masih melekat dalam ingatan saya. Dulu pertama kali diajak ke rumahnya, saya sudah diperingatkan untuk tidak kaget. Saya mengerti kenapa teman saya berpesan seperti itu setelah saya bertemu langsung dengan ibunya.

Ibu teman saya yang dipanggil mamah ini adalah seorang waria atau transpuan. Saya malah jadi ingat film yang saya tonton ketika SMP dulu yang berjudul Realita, Cinta dan Rock n Roll. Di situ ada tokoh yang ayahnya menjadi waria. Jadi sebenarnya saya juga tidak kaget. Tapi saya paham kenapa teman saya berhati-hati. Sudah berkali-kali dia diejek "anak banci" oleh teman-temannya.

Teman saya ini cerita hidupnya sinetron banget, tapi herannya dia bisa mengisahkan dengan biasa saja. Cenderung santai malah. Ketika dulu pada masa kecil kita sering ditakut-takuti bahwa kita sebenarnya anak pungut yang dibuang di tempat sampah, teman saya justru mengalaminya. Dia ditemukan oleh ibunya di tempat sampah ketika masih berwujud bayi merah. Ibunya ini yang merawatnya dari bayi sampai dia sudah mandiri seperti sekarang. Saya tidak kaget karena ibunya seorang waria; saya malah kaget karena dia menceritakan kisah hidupnya yang tragis itu dengan tertawa-tawa.

Ibu teman saya ini membantu di rumah Bu RT yang punya usaha katering. Beruntung warga sekitar menerimanya dengan baik. Kata Bu RT, yang penting berbuat baik pada warga sekitar, warga sini juga akan baik. Sesederhana itu. Ibu teman saya dikenal ulet dalam bekerja dan yang paling saya ingat adalah dia gigih belajar mengaji. Memang belajar ketika sudah berumur itu lebih sulit, tapi lebih baik terlambat daripada tidak, katanya. Masih saya ingat ketika dia mengeja huruf hijaiyyah di buku Iqra dengan terbata-bata tapi tetap semangat.

"Dulu saya tidak mendapat pelajaran agama yang cukup, Nak. Makanya (menyebut nama teman saya) tak-suruh ngaji yang bener, supaya bisa gentian ngajari mamahnya. Saya kan tidak yakin ada guru ngaji yang mau ngajari saya," begitu ceritanya pada saya.

Menjadi waria, baginya, bukan maunya. Sudah digariskan seperti itu, tapi dia tetap hambanya Gusti Allah yang wajib "sowan" kepada-Nya.

Bulan puasa kemarin saya berkesempatan hadir dalam salah satu kajian di Ponpes Kaliopak, Yogya. Setelah selesai mengikuti kajian, teman saya memberi satu buku karya Mbak Masthuriyah Sa'dan berujudul Santri Waria: Kisah Kehidupan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta. Walau berwujud laporan tentang kehidupan santri waria, saya bisa membacanya sampai tuntas karena bahasanya mengalir, tidak kaku. Buku ini seperti melengkapi dua buku yang saya baca sebelumnya tentang waria yaitu Waria, Bahasa, dan Dunia Malam karya Stanislaus Yangni dan sebuah novel karya A. Mustafa berjudul Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman.

Ketika saya membaca buku Waria, Bahasa, dan Dunia Malam, sebenarnya saya hanya ingin mencari informasi tentang bahasa binan yang digunakan teman-teman waria. Tapi ternyata saya malah mendapat banyak informasi tentang kehidupan mereka yang sungguh keras dan tidak mudah. Waria selalu diidentikkan dengan kehidupan malam dan prostitusi seperti yang digambarkan dalam novel Anak Gembala yang tertidur Panjang di Akhir Zaman. Yang saya perhatikan, tokoh utama, Rara Wilis si ratu waria ini pada akhirnya kembali ke jalan Tuhan walau dengan cara yang sulit dan berdarah-darah. Pergulatan batin tokoh ini bisa saya rasakan ketika membaca buku Santri Waria dan obrolan dengan ibu teman saya. Saya merasakan bahwa novel itu tidak sekadar cerita fiksi, tapi penggambaran sisi lain waria di dunia nyata.

Ibu teman saya itu seperti orang-orang yang diceritakan di buku Santri Waria. Seseorang yang ingin dekat dengan Tuhannya, tapi terhalang oleh kondisi. Saya salut dengan perjuangan almarhumah Ibu Maryani, Ibu Shinta Ratri, Bunda Rully Malay, dan lain-lain ketika mendirikan dan menghidupi ponpes waria dengan segala keterbatasan. Dari mereka saya melihat sisi lain waria yang tidak melulu berkaitan dengan kehidupan malam. Mereka juga manusia, punya kebutuhan spiritual yang harus dipenuhi.

Tentunya hal tersebut lebih sulit mereka lakukan karena stereotip miring dari kebanyakan masyarakat. Kegiatan pesantren yang seharusnya bukan kegiatan maksiat saja bisa dipersekusi oleh kelompok lain yang mengatasnamakan agama. Ibu teman saya memilih belajar mengaji dari anaknya sekadarnya karena malu jika belajar ke guru ngaji langsung. Waktu itu pernah dia ingin belajar privat, tapi guru ngaji tersebut dilarang keluarganya karena malu jika nanti dikatakan ustaz kok ngajar banci. Saya mengapresiasi pengajar-pengajar di ponpes waria yang masih mau mengajar teman-teman waria di sana.

Sebelum dikomentari panjang tentang ini saya bilang dulu, saya bukan sok-sokan membela kaum LGBTQ biar dikira keren. Tidak. Saya hanya teringat ibu teman saya yang memungutnya ketika bayi dari tempat sampah. Dia adalah manusia, sama dengan kita yang punya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kebutuhan spiritual. Kita tidak bisa menyangkal kalau kaum waria itu ada di sekitar kita. Di lingkungan masa kecil saya saja hal itu sudah biasa. Saya hanya ingin menghargai mereka dengan cara yang sederhana, misal dengan memanggil dengan panggilan yang mereka inginkan dan tidak memanggil dengan nama mati (dead name) mereka.

Di lingkungan saya saat ini pun masih menganggap waria yang memakai jilbab dan mengaji adalah sesuatu yang aneh. Tapi bagi saya waria muslim itu biasa. Ya, memang tidak menampik kalau ingin membantu mereka, tidak semudah ketika menggalang donasi umum. Saya punya teman-teman yang hobinya berdonasi. Tiap bulan pasti tanya mana saja yang butuh donasi. Tapi ketika saya ingin menyumbang sesuatu untuk ponpes waria, saya hanya membuka kepada teman-teman dekat yang sepaham saja.

Saya pernah dikomentari soal busana yang teman-teman waria kenakan. "Masa sih laki-laki pakai jilbab? Apa kita tidak ikut berdosa jika malah mendukung mereka?"

Saya tidak mikir soal dosa mereka. Jika mereka ingin difasilitasi untuk mengaji, ya sudah biarkan saja mereka mengaji. Yang penting tidak maksiat sudah cukup. Soal ibadah mereka diterima Tuhan atau tidak, tentu saja itu bukan ranah saya. Biarkan menjadi urusan Tuhan. Mereka juga umatnya Kanjeng Nabi. Soal sisi gelap dan dosa-dosa mereka, ya memangnya kita tidak punya sisi gelap dan dosa? Siapalah kita kok mudah menghakimi orang lain yang kita anggap berbeda.

Gondangrejo, 14 Agustus 2021

Impian Nopitasari penulis, tinggal di Solo

(mmu/mmu)