Kolom

Dinar Candy dan Kesehatan Psikologis Masyarakat Kota

Dedy Rachmadi - detikNews
Senin, 09 Agu 2021 10:12 WIB
Panic attack in public place. Woman having panic disorder in city. Psychology, solitude, fear or mental health problems concept. Depressed sad person surrounded by people walking in busy street.
Foto ilustrasu: Getty Images/iStockphoto/Tero Vesalainen
Jakarta -

"Wah, Dinar Candy yang kelihatannya serba kecukupan saja masih ngeluh stres ya gara-gara pandemi. Sampai nekat cuma pakai bikini di pinggir jalan bawa poster kayak orang demo. Gimana anak yang tiba-tiba jadi yatim piatu, istri menjadi janda, pengusaha yang bangkrut, pedagang sepi pembeli, pekerja kena PHK ya?" ujar istri saya sambil men-scroll di gawainya berita tentang kelanjutan kasus DJ seksi itu.

Saya spontan menanggapi, "Kita yang setiap hari denger sirene ambulans, dapat kabar duka di WA grup, sama seringnya pengumuman kematian di masjid jadi gampang deg-degan, cemas, dan galau. Belum lagi kalau pagi ngurusin anak belajar online PJJ ribet. Apalagi kemarin-kemarin tuh, yang pas banyak yang sakit tapi obat, oksigen, sama kamar rumah sakit susah, semua ikutan pusing, stres."

"Ini jangan-jangan nanti kalaupun Covid-nya sudah hilang, stresnya yang tetap, asal jangan lanjut jadi ODGJ aja," sahut istri mengakhiri obrolan sore sambil tergelak getir.

Dari pembicaraan itu, saya jadi berpikir kerentanan kesehatan psikologis masyarakat perkotaan di masa pandemi ini semakin bertambah. Di luar situasi pandemi saja, masyarakat perkotaan yang dalam kesehariannya berhadapan dengan kemacetan jalan, kebisingan suara, panasnya suhu udara, ancaman kriminalitas, kepadatan permukiman sudah membuat rawan kesehatan psikologis.

Maka menurut saya, kesehatan masalah ini menjadi penting dan mendesak untuk ditangani agar tidak menjadi ledakan masalah tersendiri kelak kemudian hari.

Deteksi Dini

Tindakan Dinar Candy berbikini di jalan salah satu contoh bahwa warga kota dalam kondisi tertekan secara psikologis bisa melakukan sesuatu di luar kewajaran. Sebagai publik figur yang dikhawatirkan adalah tindakan tersebut berpotensi menginspirasi warga kota yang merasa tertekan juga untuk melakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran lainnya. Tentu akan menjadikan situasi semakin sulit jika skalanya menjadi meluas, apalagi jika sampai mengancam keselamatan warga kota lainnya.

Untuk memiliki gambaran sejauh mana kerentanan psikologis di masa pandemi yang terjadi di masyarakat, barangkali dapat dielaborasi dalam kegiatan 3T (test, treatment, tracing) atau ketika pemberian vaksin Covid-19, dengan menambahkan seperangkat instrumen indikator gejala psikologis yang berfungsi sebagai upaya mendeteksi gejala sedini mungkin.

Dari situ setidaknya dalam merumuskan tindakan intervensi kita memiliki gambaran yang lebih komprehensif tentang potensi jumlah penderita, derajat kesehatan psikologisnya, serta jenis-jenis masalah psikologis yang dihadapi.

Masalahnya sekarang, mungkin belum terintegrasinya upaya deteksi dini penurunan kesehatan psikologis di masa pandemi di masyarakat dengan upaya deteksi dini penularan Covid-19. Target harian jumlah warga yang diperiksa saja hingga hari ini sulit tercapai. Dengan menambahkan indikator kesehatan psikologis pada saat yang sama memang masih perlu disimulasikan, tetapi paling tidak menjadi pertimbangan memaksimalisasi momentum interaksi tersebut.

Setelah mendapatkan gambaran utuh tentang kondisi kesehatan psikologis masyarakat, maka merancang upaya tindakan dapat menjadi lebih tepat sasaran. Memilih mana masalah yang dapat diselesaikan lewat pendekatan penambahan fasilitas perkotaan agar terbangun kenyamanan aktivitas warga.

Atau, selain itu bentuk pengaturan interaksi seperti apa yang mampu menekan penurunan kesehatan psikologis. Hingga membuat format kolaborasi dengan jejaring masyarakat sampai skala yang paling mikro agar masyarakat perkotaan semakin adaptif menangani masalah kesehatan psikologis di masa pandemi.

Berbasis Masyarakat

Pilihan penambahan fasilitas perkotaan pendukung kesehatan psikologis warga kota tampaknya dalam situasi krisis ekonomi akibat pandemi menjadi kendala tersendiri. Termasuk fasilitas hiburan berbasis digital juga dominan masuk dalam ranah komersial.

Perlu kreasi-kreasi tertentu pemanfaatan frekuensi publik maupun jejaring digital untuk penguatan kesehatan psikologis warga kota yang difasilitasi pemerintah. Bukan sebaliknya, lebih banyak memfasilitasi upaya komersialisasi masalah kesehatan psikologis masyarakat. Mengaktivasi jejaring kesehatan di masyarakat yang sudah ada selama ini seperti kelompok Dasa Wisma, Jumantik, Posyandu sebagai mitra strategis penanganan adalah langkah yang paling mungkin dapat dilakukan.

Tentu kita tidak menutup mata dengan kondisi bahwa sebagai bagian dari warga yang terdampak, personel jejaring ini juga yang mengalami masalah kesehatan psikologis pandemi. Tetapi paling kurang mereka lebih memiliki pengalaman dan dasar pengetahuan kondisi kesehatan masyarakat tempat mereka tinggal.

Pola jemput bola dengan mendatangi masyarakat langsung menurut saya dapat memberikan efek psikologis langsung. Kehadiran tim kecil yang beranggotakan tenaga kesehatan, kader jejaring kesehatan, dan unsur keamanan bisa dirasakan sebagai kehadiran langsung dan bisa membuat warga yang sedang mengalami masalah merasa diperdulikan. Efek lainnya adalah gerakan ini bisa memantik partisipasi masyarakat lebih luas untuk terlibat

Kelelahan (fatique) psikologis akibat pembatasan aktivitas, ketidakpastian yang terus mendera di masa pandemi, bisa menyasar kepada siapa pun. Kerentanan kondisi yang dapat mendorong tiap individu melalukan tindakan di luar kewajaran. Maka inisiatif untuk mendorong upaya pencegahan dan promosi menjaga kesehatan psikologis juga harus menjadi bagian yang tidak dari penanganan penyebaran Covid-19. Sebelum kita semua terkaget kaget bukan hanya Dinar Candy yang bertindak dil uar kewajaran; bisa saja saya, Anda, atau kita semua.

Dedy Rachmadi alumnus Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia

(mmu/mmu)