Perjalanan

Masjid Kauman Kajoran dan Jejak Islam di Jawa Tengah-Selatan

Shinta Dwi Prasasti - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 11:15 WIB
Masjid Kauman Kajoran (Foto: dokumen pribadi)
Jakarta -

Jika Anda berziarah ke Makam Sunan Bayat Klaten, sempatkan melanjutkan perjalanan ke selatan, kurang lebih berjarak 7 kilometer. Sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor, Anda akan tiba di sebuah bangunan masjid lain. Ukurannya tidak sebesar kompleks makam Sunan Bayat, tapi penting maknanya. Sebab keberadaan masjid ini memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang penting.

Masjid ini adalah Masjid Agung Kauman. Masjid berada di Dukuh Kauman, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten. Dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, masjid adalah salah satu unsur penting dalam ritual keagamaan. Keberadaan masjid sebagai tempat peribadatan, biasa menjadi salah satu bagian dari sebuah desa perdikan. Dalam desa perdikan juga biasa terdapat ulama dan perangkatnya, pesantren, dan situs makam atau bangunan serta abdi atau juru kunci.

Masjid Agung Kauman atau sekarang disebut sebagai Masjid Kauman Jimbung, memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah bagian selatan. Keberadaan Masjid di Dukuh Kauman menunjukkan bahwa daerah ini menjadi salah satu pusat penyebaran Islam. Pada masa Kerajaan Mataram Islam, yaitu saat pusat kerajaan berada di Kerto dan Plered, toponimi Kauman, sudah digunakan untuk memberi nama wilayah yang menjadi wilayah tempat tinggal para abdi dalem bidang agama.

Masjid ini merupakan bagian dari sebuah perdikan yang belum diketahui secara pasti masa berdirinya. Masjid Kauman ini merupakan salah satu peninggalan yang tersisa dari sebuah keluarga yang menempati perdikan tersebut, yaitu Keluarga Kajoran. Maka masjid ini juga kerap disebut Masjid Kauman Kajoran. Serat Candrakanta menyebutkan bahwa pendiri Keluarga Kajoran ini adalah Panembahan Agung, merupakan keturunan Sayid Kalkun, saudara dari Kiai Ageng Pandanaran.

Sumber tradisi lainnya menyebutkan bahwa Panembahan Agung adalah penerus dari penguasa Pengging. Panembahan Agung kemudian menetap di Kajoran dan menikah dengan dua orang putri Sunan Bayat. Maka pertautan antara Keluarga Kajoran dengan Tembayat menjadi kuat. Keluarga Kajoran juga memiliki hubungan pernikahan dengan kerajaan Mataram Islam. Panembahan Senopati menikah dengan dua putri dari Panembahan Agung.

Hubungan pernikahan juga terjadi pada keturunan mereka. Hubungan ini menandakan bahwa Keluarga Kajoran memiliki posisi politik yang penting pada masa itu bagi kerajaan Mataram Islam, sehingga perlu terus dirangkul sebagai keluarga.

Nama Keluarga Kajoran semakin dikenal pada masa pemerintahan Amangkurat I dan II. Figur dari Kelurga ini yang kerap disebut saat itu adalah Panembahan Romo. De Graff dalam bukunya, Masalah Kajoran, menjelaskan bahwa Panembahan Romo memiliki hubungan darah dengan Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram Islam, yang juga leluhur dari Amangkurat I dan II.

Hal ini dipertegas Kuncoro Hadi dalam artikel Trah Kajoran-Tembayat dalam Pergolakan Politik di Keraton Jawa Tengah-Selatan Abad ke-1 hingga Abad ke-19". Artikel ini menyebutkan bahwa Panembahan Romo merupakan cucu dari Panembahan Senopati dan hidup satu generasi dengan Susuhunan Hanyokrokusumo (Sultan Agung).
Maka, Panembahan Romo ini merupakan tokoh yang sangat dihormati baik di kraton Mataram maupun Kajoran.

Posisinya adalah sebagai penasihat dari Susuhunan dan Keluarga Mataram selepas mangkatnya Sultan Agung pada awal 1646. Panembahan Romo kemudian berubah sikap menjadi oposisi dan berupaya merebut kekuasaan pada masa pemerintahan Amangkurat I. Salah satu faktor penyebabnya adalah kesewenang-wenangan Amangkurat I.

Perubahan sikap Panembahan Romo inilah yang membuat Amangkurat I marah. De Graff menyebutkan bahwa sekitar akhir tahun 1676, Susuhunan Amangkurat I memerintahkan pasukannya untuk menggempur pasukan dari Panembahan Romo, tokoh Kajoran saat itu. Serbuan itu kemudian berlanjut dengan penghancuran dan pembakaran Ndalem Panembahan Romo pada Februari tahun 1677.

Tidak ada yang tersisa di Kajoran selain makam keramat Panembahan Agung dan Masjid Kajoran. Sementara Panembahan Romo dan keluarganya telah berhasil menyelamatkan diri ke Surabaya.

Penjelasan di atas membuktikan bahwa Masjid Kauman Kajoran ini berada dalam satu kompleks dari sebuah perdikan khusus yang juga memuat sebuah Ndalem. Nama Kajoran kembali muncul pada saat penyerbuan ke Kraton Plered. Kraton tempat Susuhunan Amangkurat I berkuasa saat itu. Pada 28 Juni 1677, Plered telah jatuh. Serbuan tersebut dilakukan oleh oposan dari Susuhunan yaitu di antaranya adalah para putra dari Keluarga Kajoran.

Pemberontakan Keluarga Kajoran terus berlanjut meski Panembahan Romo telah meninggal pada sebuah pertempuran di Melambang, Wonogiri, pada tahun 1679.

Kompleks Pemakaman

Di belakang masjid Kajoran terdapat kompleks pemakaman. Tepatnya makam dari Panembahan Agung, pendiri trah/Keluarga Kajoran. Selain itu di dalam komplek makan ini juga terdapat makam Pangeran Mas, penguasa terakhir Pajang.

Selama ini memang tidak ditemukan inskripsi terkait pendirian dari Masjid Kajoran. Keberadaan dari masjid ini menunjukkan bahwa keberadaan masjid ini disertai dengan Ndalem, menunjukkan bahwa di Jawa Tengah bagian selatan saat itu sudah terjadi proses penyebaran agama Islam yang cukup masif.

Arsitektur Masjid Kajoran memiliki kemiripan dengan arsitektur masjid kuno lainnya. Masjid Kajoran berdenah empat persegi panjang yang terdiri atas ruang utama, pawestren, dan serambi. Kondisi masjid telah mengalami sejumlah perubahan antara lain pada bagian lantai yang telah menggunakan keramik. Masjid ini juga dikelilingi tembok keliling.

Di sebelah utara, timur, dan selatan masjid terdapat parit keliling yang cukup lebar. Keberadaan parit keliling ini menjadi ciri khas arsitektur sejumlah masjid kuno. Masjid kuno yang masih mempertahankan keberadaan parit keliling meski sudah tidak berfungsi lagi adalah Masjid Mataram Kotagede, Masjid Kauman Kajoran, dan Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Saat ini di atas parit-parit tersebut terdapat jembatan yang berfungsi untuk jalan masuk ke serambi masjid.

Berkunjung ke masjid ini bukan sekadar menyelami sejarah di balik masjid ini. Tetapi juga mengunjungi sebuah peninggalan arkeologi masa kerajaan Islam yang masih eksis berdiri.

Shinta Dwi Prasasti penyuka sejarah, arkeologi, dan heritage


(mmu/mmu)