Kolom

Suka Sejarah Karena Game

Muhammad Shalahuddin Al Ayyubi - detikNews
Jumat, 06 Agu 2021 13:38 WIB
Tangkapan layar potongan scene di serial game Samurai Warriors 4-II
Jakarta -

Biasanya orang-orang yang menyukai berbagai hal tentang sejarah memang sudah bawaan hobinya dari awal atau bisa saja mereka termotivasi dengan salah satu keluarga yang juga seorang sejarawan atau arkeolog. Mungkin pula seseorang menyukai sejarah karena penasaran dengan silsilah leluhurnya yang masyhur di masa lalu. Dan berbagai macam alasan lainnya.

Tapi semua itu bukanlah alasan bagi saya hingga saat ini masih menyukai sejarah. Bahkan ketika MTs dulu rapor saya ditahan karena saya tidak pernah mengerjakan tugas sejarah. Lantas apa yang membuat saya tiba-tiba menyukai sejarah? Jawabannya adalah karena game. Ya, tidak salah lagi karena game. Percaya atau tidak game dapat membuat Anda tertarik terhadap sejarah tanpa disangka-sangka.

Berawal dari diperkenalkan game Samurai Warriors 4 II oleh teman saya ketika SMA, dari sanalah saya memiliki pandangan berbeda dengan sejarah. Persepsi awal bahwa sejarah itu membosankan, kolot, dan lain-lain dalam diri saja teralihkan oleh semangat dan motivasi penuh kepada tarikh.

Selain asyik melancarkan kombo-kombo bertempur ala permainan bergenre Hack n Slash, saya lama kelamaan juga penasaran untuk googling mencari tahu peristiwa sebenarnya yang terjadi di zaman Sengoku itu. Alhasil saya mendapatkan wawasan bahwa sebenarnya karakter Ishida Mitsunari yang sudah saya rampungkan Story Mode-nya itu seharusnya mati dieksekusi di Pertempuran Sekigahara (1600). Namun di game itu saya dapat menyaksikan semacam kilasan alternatif sejarah di mana Mitsunari masih bertahan hidup, begitu pun tokoh-tokoh lainnya yang memang jalan cerita di game berbeda dengan sejarah.

Entah kenapa itu menginspirasi otak saya untuk berfantasi tentang bagaimana bila alternatif sejarah itu terjadi. Di saat anak SMA sepantaran saya sibuk PDKT dengan cewek, saya justru malah sering melamun memikirkan apa yang terjadi bila Sanada Yukimura berhasil menerobos kamp di Pengepungan Osaka tanpa terbunuh oleh pasukan Ieyasu? Atau, bagaimana jika Insiden Honnoji yang membuat Oda Nobunaga melakukan seppuku sama sekali tak terjadi?

Dari sana pula saya jadi tertarik melihat sejarah beberapa kawasan yang saat itu sezaman juga dengan era Sengoku jadi khayalan saya soal alternatif sejarah semakin memenuhi benak saya. Saya jadi suka menghubungkan kronologis tarikh kala itu, misal dua tahun setelah Toyotomi Hideyoshi meraih gelar Kampaku (1585), di Nusantara sini Kesultanan Mataram berdiri dengan Panembahan Senapati sebagai pemimpin pertama. Dan, tiga tahun kemudian Perjanjian Konstantinopel ditandatangani.

Saking antusiasnya saya bermain game berlatar sejarah itu saya jadi mengoleksi serial Nobunaga's Ambition dan Samurai Warriors: Spirit of Sanada (yang menjadi seri terbaru saat itu) di Steam. Ya, walaupun karena memainkan game banyak waktu saya terbuang lantaran terlena, tetapi hal demikian di sisi lain menambah minat saya terhadap ilmu yang disebut sejarah. Padahal sampai sekarang saya juga tidak pandai-pandai amat sejarah, paling tidak rasa cinta saya terhadap sejarah, mungkin, masih sama sebagaimana saya ketika dulu SMA.

Maka tak heran di kuliah sekarang bila terdengar materi yang menyinggung sejarah era Sengoku saya begitu semangat memperhatikan. Memang berawal dari game Jepang, tetapi yang perlu diketahui lambat laun karena ketertarikan alternatif sejarah saya jadi mengagumi sekaligus mensyukuri tokoh-tokoh sejarah bangsa kita yang tak kalah keren dengan para daimyo atau samurai di sana. Terbayang bagaimana kepiawaian Sultan Baabullah dari Ternate tatkala mengusir Portugis, Iskandar Muda yang membuat Aceh berada dalam masa kejayaan, atau kemasyhuran Adityawarman mendirikan Kerajaan Pagaruyung.

Mungkin sedikit naif, tetapi saya punya harapan game bernuansa sejarah di Nusantara ini dapat dibuat karena itu memiliki potensi besar untuk meningkatkan minat sejarah generasi kita. Belajar sejarah bisa lebih asyik tanpa harus monoton sebagaimana di akademik, sebab setiap orang punya cara nyaman tersendiri untuk memahami apa itu tarikh. Tidak hanya harus formalitas di kelas saja --lebih dari itu!

(mmu/mmu)