Sentilan IAD

Kelinci dan Pikiran yang Tak Merdeka

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 19:16 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Pagi-pagi buta pada dua pekan lalu, tiba-tiba anak saya menggedor-gedor pintu kamar tempat saya menjalankan semedi isoman. Tak peduli bapaknya masih berstatus terluka karena Covid, dia berteriak. "Paaak! Kelincinya pada keluaaar!"

Dengan panik, saya pun geragapan bangun dan melesat meninggalkan kamar. Tak beda dengan anak saya, saya pun tak peduli bahwa sebenarnya saya masih berstatus penderita Covid meski kondisi badan sudah mendingan.

Soal positif Covid itu satu hal, tapi tentang kelinci-kelinci yang pada keluar kandang itu perkara lain. Kelinci kami ada banyak sekali, saya sampai malas menghitungnya. Mungkin tiga belas, mungkin dua puluh. Itu pun cuma yang gede-gede. Sementara di dua lubang sudah ada sekitar sepuluh bayi kelinci yang tinggal menunggu waktu untuk menyongsong kompetisi di dunia yang kejam ini.

Nah, bayangkan kelinci sebanyak itu berhasil menjebol pagar kandang dengan gigi-gigi mereka, lalu melakukan aksi massa rabbit power, menyerbu wilayah peradaban manusia di bagian-bagian lain rumah saya.

Dalam setengah detik, segera terbayang nasib tanaman-tanaman hias yang sudah menghijau segar dan selama ini dirawat dengan telaten oleh ibu saya. Terbayang juga kabel internet yang berada dalam jangkauan lompat makhluk-makhluk itu, juga tali-tali sepatu, dan barang-barang yang lain lagi.

Maka, dalam kondisi badan yang tentu saja belum fit benar, pagi itu saya isi dengan permainan brutal kejar-kejaran. Saya cegat di sini, anak saya menghadang di sana. Beberapa ekor ngumpet di balik kursi, saya sambar dengan dua tangan, dan... seettt! dengan lincahnya mereka melompat berlari cepat sekali.

Ketika setengah jam kemudian akhirnya seluruh laskar kelinci berhasil saya masukkan kandang kembali, badan saya sudah sangat lemas, itu pun masih saya sempatkan mengambil beberapa bongkah paving block untuk mengganjal bagian kandang yang jebol.

***

Beberapa hari setelah kejadian olahraga ekstrem pagi-pagi itu, bayi-bayi kelinci mulai bermunculan dari buis beton yang saya pasang sebagai lubang persembunyian. Mereka imut sekali. Ada yang warnanya hitam, ada yang putih, ada yang coklat kusam. Kedua anak saya beberapa kali mengambil mereka, lalu bermain-main dengan mereka di dalam rumah, bahkan di atas kasur.

Sampai kemudian saya menyadari, ada satu pertanyaan yang mengejutkan saya sendiri: di mana lucunya makhluk-makhluk itu?

Saya coba perhatikan bayi kelinci yang hitam, juga yang coklat kusam. Telinganya masih pendek, belum memanjang. Ekornya tentu saja tumpul, seperti ekor orangtuanya. Lalu saya bayangkan, ketika telinga itu diubah sedikit menjadi lebih lebar, dan ekor itu dipilin jadi memanjang, dia tak ada bedanya dengan tikus! Bahkan gigi seri mereka yang dua biji di depan itu pun sama persis adanya!

Sampai di sini, tiba-tiba saya bergidik ngeri. Saya sangat penakut di hadapan tikus. Tikus adalah hewan yang paling menjijikkan buat saya, dan tak ada sedikit pun rasa welas asih saya kepada mereka. Tetapi sekarang anak-anak saya sendiri bermain-main dengan tikus, hanya saja tikus dengan format yang sedikit berbeda pada kuping dan ekornya!

Namun kemudian saya memandangi lagi bayi-bayi kelinci itu. Mereka memang lucu-lucu. Saya coba-coba menumbuhkan rasa ngeri kepada mereka pun saya tak bisa. Dan dengan penuh kasih sayang kepada bayi-bayi kelinci itu, saya minta agar anak-anak saya tidak terlalu lama bermain dengan mereka, segera mengembalikan mereka ke kandang, biar mereka tidak stres lalu mengakhiri hidup dengan putus asa.

Sungguh itu sikap lembut yang tak bakalan saya terapkan kepada tikus-tikus, sebab tempat paling cocok bagi tikus hanyalah papan beroleskan lem dan kerangkeng jebakan. Dan saya semakin bingung, apa yang membuat saya menerapkan sikap yang sungguh berbeda kepada dua spesies hewan yang sebenarnya sangat mirip itu?

Coba lihat satu persatu. Secara fisik, kelinci dan tikus hanya berbeda sedikit sekali. Memang keliru kalau mengira mereka sama-sama hewan pengerat. Dalam klasifikasi dunia hewan, tikus memang masuk ordo pengerat alias Rodentia, sedangkan kelinci tergolong Lagomorpha. Tetapi, apakah manusia berpikir tentang pembagian-pembagian ilmiah semacam itu ketika memutuskan melihat sesuatu lucu dan tidak lucu? Saya kira tidak.

Lalu semua ini tentang apa? Soal kebersihan? Apa tikus lebih kotor, dan kelinci bersih? Lha, kata siapa kelinci tidak kotor? Mereka bergumul dengan kotoran mereka sendiri. Bahkan mereka tidur di tanah, sedangkan tikus-tikus beristirahat dengan mewah di celah tumpukan perkakas pecah belah. Bukannya tikus jauh lebih bersih?

Kelinci mungkin makan sampah dapur, dan itu menjijikkan. Tapi tahukah Anda, kelinci-kelinci saya selalu jadi penyelamat kami dari rasa bersalah setiap kali nasi dan sayur tersisa banyak, sebab mereka pun dengan sangat lahap menyantap makanan basi sisa kemarin sore?

Lalu apa sebenarnya yang membuat kelinci jadi tampak lebih mulia derajatnya ketimbang tikus-tikus? Apakah karena tikus suka merusak barang-barang, dan menggigiti apa pun dengan ganasnya? Lah, dikira kelinci tidak? Coba simak lagi cerita di awal tadi. Saya sampai menempuh risiko besar pada badan saya sendiri yang masih lemah, hanya karena saking takutnya kelinci-kelinci itu membabat habis tanaman hias di rumah saya dan membikin sedih ibu saya.

Dan harap tahu, dulu kala makhluk yang konon lucu itu pernah melakukan berbagai tindakan kriminal yang jauh lebih jahat daripada yang dilakukan tikus-tikus. Mulai memutus kabel internet, memutus jaringan listrik di mobil saya karena ada yang bisa melompat dari kolong lalu masuk ke bawah kap mesin, bahkan membantai dua batang pohon jati. Ya, dua pohon jati yang kokoh itu mereka gerogoti kulit batang bagian bawahnya, sampai bersih, lalu beberapa pekan kemudian daun-daunnya berguguran dan dua pohon itu tak lagi bisa dibangkitkan dari kematian.

Lalu, sekali lagi, apa yang membuat kelinci lebih layak mendapatkan elusan dan pangkuan, sementara tikus-tikus tidak?

***

Betapa jahatnya manusia. Kita bersikap hanya karena melihat sesuatu itu lucu dan tidak lucu, imut dan tidak imut. Sementara, tidak ada landasan objektif apa pun dalam menentukan apakah sesuatu pantas ataukah tidak untuk disebut imut. Semua sesuka-suka kita, yang kemudian diabadikan dalam pembentukan kesan permanen berlandaskan prasangka, stempel, konstruksi sosial, dan tumpukan stigma.

Maka, kalau Anda bertanya-tanya kenapa masih banyak manusia yang isi kepalanya sangat diskriminatif, jauh dari sikap mulia terkait nilai keadilan dan kesetaraan, sebenarnya sejak berhadapan dengan hewan-hewan pun kita sudah dengan semena-mena melakukan.

Sekarang kita masuk bulan Agustus, bulan kemerdekaan. Orang yang belajar tentang ide-ide kesetaraan dan liberalisme agaknya perlu memelihara kelinci-kelinci seperti saya, agar mulai sadar bahwa sesungguhnya otak dan pikiran kita tidak pernah sungguh-sungguh merdeka.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)