Kolom

Mengapa Kualitas Udara Jabodetabek Tetap Buruk Selama PPKM?

Piotr Jakubowski - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 11:15 WIB
Suasana langit Jakarta yang terlihat biru dan cerah, Selasa (1/12/2020).
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta -

Selama tiga minggu terakhir, sebagian besar wilayah termasuk Jabodetabek telah dilakukan pembatasan aktivitas atau PPKM untuk membatasi penyebaran COVID-19. Pembatasan aktivitas sendiri telah membawa dampak dalam membaiknya kualitas udara di 84% negara di seluruh dunia, seperti dilaporkan CNN pada Maret lalu. Bagaimana situasi di Indonesia?

Kami melihat dalam rentang waktu dua minggu sebelum PPKM dan dua minggu selama PPKM berlangsung di setiap wilayah dengan menghitung jumlah jam yang tercatat pada setiap tingkat kualitas udara. Kategorisasinya dibagi menjadi "Baik", "Sedang", "Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif (UHSG)", "Tidak Sehat", "Sangat Tidak Sehat"
dan "Berbahaya".

Dengan dilakukannya pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat, kami memperkirakan akan terjadi penurunan dalam kategori "Tidak Sehat" dan "UHSG", sekaligus peningkatan dalam kategori "Sedang". Ternyata hal tersebut tidak terbukti.

Berdasarkan alat pemantau kualitas udara napas, justru hal sebaliknya yang terjadi di wilayah Jabodetabek. Di DKI Jakarta jumlah jam dengan kualitas udara "Sedang" menurun, dan "UHSG" justru meningkat. Di Bodetabek perbedaannya bahkan lebih mencolok -jam "Tidak Sehat" meningkat secara signifikan.

Situasinya sedikit berbeda terjadi di Bali dan Yogyakarta, di mana PPKM berkontribusi meningkatkan kualitas udara secara substansial. Jadi pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi?

Alasan #1: Transportasi bukan satu-satunya sumber polusi udara

Di masa lalu, laporan yang diterbitkan kerap menyoroti bahwa sebagian besar polusi udara Jakarta disebabkan oleh transportasi. Ya, Jabodetabek memang memiliki jumlah mobil, truk, dan sepeda motor yang sangat banyak, tetapi banyak dari kendaraan tersebut tidak ada di jalanan selama masa PPKM.

Lalu kenapa kualitas udara tak juga ikut membaik? Artinya, hal ini membuktikan bahwa pencemaran udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya ternyata turut disebabkan oleh aspek lain, dan cukup signifikan. Aspek lain tersebut di antaranya:

- Energi (pembangkit listrik tenaga batu bara & gas)
- Industri (pabrik & manufaktur)
- Pembakaran limbah industri (pembakaran sampah)
- Konstruksi
- Industri Ilegal
- Pembakaran sampah pinggir jalan
- Pembakaran lahan pertanian (sekitar Jabodetabek)

Alasan #2: Lebih sedikit hujan dan angin di musim kemarau

Selama musim hujan dari November hingga Maret, kami melihat kualitas udara di Jakarta mencapai tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana kami banyak memiliki hari-hari dengan kategori "Baik" dan "Sedang".

Meskipun kita seolah telah berhasil memecahkan masalah polusi udara, pada kenyataannya hujan, angin, kekuatan angin dan arah angin sangat berkontribusi pada langit biru kita. Faktor tersebut turut membawa dan memindahkan polusi dari satu tempat ke tempat lain.

Sejak Mei, jumlah hari dengan cuaca hujan telah berkurang secara signifikan, dan hal tersebut membuat polusi udara yang dihasilkan di wilayah Jabodetabek tidak ke mana-mana. Setelah PPKM dimulai, kami memang melihat ada beberapa hari dengan kualitas udara yang lebih baik, tetapi itu hanya terjadi pada hari-hari di mana ada hujan dan angin.

Alasan #3: Aktivitas pembakaran sampah yang tinggi

Pembakaran sampah industri dan pribadi merupakan isu yang berperan cukup besar dalam masalah pencemaran udara di Jabodetabek. Di seluruh kota, ada beberapa daerah di mana tumpukan sampah lebih banyak dibakar karena kurangnya sumber daya pengelolaan sampah. Adanya plastik dan elemen lain dalam pembakaran sampah ini juga dapat menghasilkan asap yang sangat beracun.

Sebagian besar pembakaran sampah di Jabodetabek terjadi di tengah malam saat asap tidak terlihat, dan menyebabkan kualitas udara Jakarta menjadi yang terburuk antara pukul 8 malam hingga 9 pagi. Berolah raga antara jam 4 sampai 9 pagi sebenarnya bisa jadi tidak menyehatkan karena alasan tersebut.

Banyak juga kejadian orang yang membakar sampah di sekitar rumahnya, termasuk oleh petugas rumah tangga. Pada skala individu, hal ini mungkin tampak tidak banyak merugikan, tetapi akan menjadi berlipat ganda jika ada ribuan kejadian per hari dan masalah tumbuh secara eksponensial.

Jika Anda mengalami gangguan akibat pembakaran sampah di daerah Anda, coba mulai untuk membicarakannya dengan RT setempat tentang pengelolaan sampah dan bahayanya membakar sampah.

Piotr Jakubowski Co-Founder Aplikasi Nafas

(mmu/mmu)