Jeda

Bahagia Secukupnya, Sedih Seperlunya, "Sambat" Sewajarnya

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 11:40 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Entah perasaan saya sendiri atau bukan, tapi saya merasa waktu seminggu ini kok cepat sekali. Ketika bangun tidur dan saya menyadari bahwa sudah sampai hari Jumat lagi, refleks saya mengirim pesan ke teman saya. "Kok wis Jumat maneh ya?"

Tentu saja itu bukan informasi dan teman saya pun langsung tanggap. "Pasti karena belum ada ide nulis. Sambat rutin tiap akhir pekan. Apal aku."

Sekian detik saya terdiam sampai kemudian, "Eureka!" saya berteriak dalam hati. Ya, kenapa tidak itu saja yang ditulis? Jenius sekali teman saya itu.

Saya pun langsung membuka Twitter, media sobat sambat untuk menambah ide. Ketika sedang berselancar di jagad Twitter, saya menemukan tweet teman saya yang menjadi obrolan panjang setelahnya. Begini bunyi tweet-nya: "Orang dewasa nggak boleh kebanyakan sambat katanya. Sambat itu bagian dari doa jelek katanya. Mohon maaf, gue areknya susah dibilangin kalau sebatas anekdotal."

Saya pun membalas tweet tersebut, "Loh kalau nggak sambat malah bukan manusia. Semua itu secukupnya. Terlalu ber-positive thinking itu tidak baik,"

Teman saya membalas lagi, "Begitulah semesta toxic positivity bahu-membahu mengerdilkan nyali kita yang sok ciut, sok bakoh, sok remuk."

Teman saya jengkel dengan toxic positivity. Lagi remuk disuruh bersyukur, lagi capek disuruh semangat. Kita harus begini, kita harus begitu. Emang "kudu" ini siapa kok wajib di-gugu? Saya setuju dengan teman saya. Terlalu berpikiran positif itu justru membuat kita denial dengan hal negatif, menumpulkan kepekaan kita terhadap bahaya.

Saya ingat status Facebook teman saya yang menjadi buruh migran di Hong Kong. Dia bercerita kalau majikannya kalau sedang bernegosiasi itu mbulet dan penuh muslihat. Teman saya punya prinsip untuk tidak selalu berpikiran positif, justru pikiran negatif harus digunakan dalam situasi seperti ini agar peka terhadap bahaya. Kalau tidak digunakan malah insting itu bisa tumpul. Tidak bisa menumpahkan emosi, merasa baik-baik saja, tidak peka kondisi, akhirnya bisa menjadi bebal.

Saya punya cerita lain. Pernah saya dicurhati teman yang sering di-KDRT suaminya. Saking seringnya sampai saya paham di mana lebam-lebam di tubuhnya. Sebenarnya menurut saya dia sudah wajib cerai dari suaminya. Apalagi keluarganya juga mendukung. Tapi ketika kami memberi tanggapan seperti itu, jawabnya selalu sama. "Aku masih ber-positive thinking kalau dia bakal berubah."

Saya kok tidak yakin suaminya bakalan berubah. Yang ada badan istrinya sudah jadi samsak tiap hari. Red flag sekali, tapi malah dia malah jadi matador. Tentu saja berpikiran positif yang seperti itu kurang tepat menurut saya.

Belum lama ini saya menyelesaikan membaca buku Agnosthesia karya Maria Frani Ayu. Di buku ini dijelaskan tentang bagaimana mengenali emosi. Salah satunya tentang berpikiran positif. Dia mengutip ilustrasi dari David Robson, seorang wartawan BBC, tentang bahayanya terlalu berpikiran positif. Gambarannya seperti kita mau menyeberang sungai dan di belakang kita ada yang menyoraki memberi semangat. Tapi kita abai dengan aliran sungai yang keras. Seberapa pun kita melawannya, tidak akan bisa. Kalau kita nekat ya bahaya yang akan menimpa. Bisa terseret arus atau tenggelam.

Memang betul kita berpikiran positif, tapi realitas jangan diabaikan. Maria Frani Ayu menambahkan, berpikir kelewat positif membentuk harapan palsu yang jauh dari keadaan sesungguhnya. Jadi seberat apapun beban hidup kita, jangan disangkal. Ya memang berat, tapi toh itu kenyataannya. Sepahit apapun kenyataan akan menjadi lebih pahit kalau ditutupi dengan harapan palsu.

Ini seperti kondisi sekarang dalam konteks pandemi. Memang kita boleh berpikiran positif agar imun naik. Boleh saja mengurangi membaca atau menonton berita yang mengerikan, tapi kita tidak bisa abai sekali terhadap kenyataan kalau memang kondisi di negara kita sedang koleps. Kita tidak bisa menyangkal kalau kondisi kita sedang tidak baik-baik saja. Kondisi sesak napas itu butuh oksigen, bukan hati yang dipaksa bahagia. Berpikiran positif bukan kok kongkow-kongkow dengan dalih menaikkan imun. Yang ada malah menaikkan kasus karena banyak yang positif.

Kita berada di masa banyak orang sambat. Ya sudah, biarkan saja mereka mengekspresikan perasaannya. Jangan buru-buru dihakimi kalau orang sambat ini adalah orang yang kurang bersyukur. Lha dikiranya sebelum sambat itu pastinya sudah ada hati yang remuk, ambyar, kalang kabut tak menentu. Kita mana tahu? Namanya manusia wajar dong ketika ada masa-masa buntu. Di Twitter saja sampai ada akun plesetan dari buku dan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menjadi "Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini." Tidak hanya akun, bahkan sudah ada bukunya juga. Terbukti sebenarnya banyak orang yang butuh wadah untuk mengekspresikan rasa sambat.

Meski juga ada yang menyindir, "Orang yang kuat itu bukannya sambat, tapi misuh." Halah coba tidak bisa kentut, paling juga sambat. Kalaupun misuh, itu sebenarnya juga bentuk sambat. Dan soal jadi orang yang kuat, tidak selamanya kita harus kuat. Ada masa-masanya kita harus mengakui kalau memang sedang tidak kuat.

Kawan saya pernah menulis di status Facebook-nya bahwa rasa bersyukur itu sudah otomatis seotomatis napas kita. Tidak perlu berkelimpahan dulu baru bersyukur. Tidak perlu diberkati dulu baru bersyukur. Tidak perlu membandingkan taraf hidup untuk bersyukur. Tidak perlu membandingkan masalah hidup dulu baru bersyukur.

Banyak alasan untuk bersyukur. Untuk saya pribadi, bangun tidur saja sudah otomatis berdoa alhamdulilahiladzi ahyana ba'dana amatana wailaihin nusyur alias masih bisa bangun sudah bersyukur. Nanti salat, bisa sujud, bersyukur. Bahkan kadang tidak perlu alasan untuk bersyukur. Tapi hanya beberapa alasan untuk sambat. Jadi ya tidak apa-apa jika diekspresikan daripada jadi penyakit.

Soal mau mengekspresikannya bagaimana, tergantung masing-masing orang, yang penting tetap diekspresikan kalau menurut saya. Saya ini dengan teman-teman di media sosial menganggap wajar kalau mereka kadang sambat, sedih, marah, dan tertawa. Ya berarti mereka benar-benar manusia. Kalau memang tidak suka mengumbar kesambatan secara umum (karena tidak semua teman di media sosial akan menanggapi sesuai mau kita, salah-salah malah kita jadi tambah tertekan), tetaplah punya teman sambat. Kalau memang belum bisa cocok dengan manusia, bicara dengan tumbuhan atau benda mati juga tidak apa-apa. Jangan dipendam sendiri.

Kalau saya sendiri punya akun alter di Twitter yang isinya hanya buat nyampah dan marah-marah saja. Tidak butuh follow dan di-follow, hanya sebagai tempat menumpahkan unek-unek. Kadang kalau sambatnya masih aman untuk dibaca secara umum, saya tulis di akun asli. Tentu saja tidak berlebihan. Tidak setiap hari. Ya apapun yang berlebihan memang tidak baik kan?

Saya ini memang golongan orang yang kurang cocok memberi motivasi. Saya tidak bisa memaksa orang untuk semangat terus menerus seperti semangat pagi para motivator. Optimis boleh tapi tidak usah berekspektasi berlebihan. Ketika banyak teman yang curhat tidak konsen menyimak materi dari dosen, tidak konsen presentasi atau bekerja karena kondisi memang sedang suram, saya tidak pernah menyalahkannya.

Saya sendiri tidak memaksa diri harus berkarya dan harus produktif di masa-masa sekarang. Yang penting adalah bertahan hidup dulu. Bahagia secukupnya, sedih seperlunya. Dan tentu saja, sambat sewajarnya.

Gondangrejo, 31 Juli 2021

Impian Nopitasari penulis, tinggal di Solo

(mmu/mmu)