Kolom

Pandemi, Uang, dan Kebahagiaan

Titin Andriani - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 11:15 WIB
Petugas kesehatan merawat pasien COVID-19 di tenda darurat Rumah Sakit QIM, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (23/6/2021). Sebanyak tiga pasien COVID-19 dirawat di tenda darurat Rumah Sakit QIM Batang karena kapasitas ruang isolasi sebanyak 29 sudah penuh. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/hp.
Ketika uang tak bisa 'membeli' ranjang di rumah sakit (Foto ilustrasi: Harviyan Perdana Putra/Antara)
Jakarta -

"Uang tak akan bisa membeli kebahagiaan. Kalau uangnya sedikit." Dalam keadaan normal, humor ini mampu membuat saya tertawa-tawa. Tentu saja saya tertawa, karena plesetan dari kalimat bijak yang selama ini sering kita dengar itu seolah menjadi sindiran. Sindiran bagi saya yang uangnya sedikit, maksudnya. Hehee....

Tapi dalam keadaan muram seperti ini, plesetan di atas justru lebih terasa sebagai kegetiran. Getir, karena pandemi ini sudah menghantam semua sektor, semua kalangan, dan juga semua sisi kehidupan. Dan, sektor perekonomian adalah salah satu yang terdampak dengan begitu hebatnya.

Berbicara tentang uang, maka secara praktis kita akan bicara tentang aktivitas jual-beli. Dalam skala rumah tangga, keadaan sarat ancaman (baik secara fisik maupun emosi) ini memaksa kita semua untuk jatuh-bangun. Menyeimbangkan segala hal agar tetap berjalan ke depan meskipun terseok. Menyeimbangkan penerimaan dan pengeluaran. Mempertahankan dapur agar selalu bisa mengebul.

Uang dengan fungsi utamanya sebagai alat tukar itu seolah semakin langka bagi sebagian kalangan. Bukan langka keberadaannya, tapi langka kebermilikannya. Dan kelangkaan ini bukan hanya milik kalangan menengah ke bawah (yang selama ini selalu menjadi kalangan paling rentan secara ekonomi), melainkan juga kalangan menengah. Konon, kaum middle class ini justru menjadi pelaku ekonomi yang terdampak yang paling hebat.

Berapa banyak kita melihat (atau bahkan menjadi pelakunya) usaha yang sepi, bahkan gulung tikar. Berapa banyak kita mendengar (atau bahkan yang mengalami) pekerja yang dirumahkan. Berapa banyak kita turut merasakan (atau bahkan yang ikut menangis), para oran tua yang kesulitan mencukupi kebutuhan pangan keluarganya.

Ah, uang memang tak bisa membeli segalanya. Tapi tanpa uang, bahkan beras pun tak akan bisa terbeli.

***

Sejak sebelum subuh, sebuah mobil sudah mendatangi tiga fasilitas kesehatan di kota ini. Mulai dari Klinik Bersalin sampai UGD Rumah Sakit. Di dalam mobil tersebut, ada seorang ibu hamil yang sedang mengalami kontraksi. Usia kehamilan si calon ibu sudah cukup untuk menjalani proses lahiran, meskipun maju 10 hari dari HPL (Hari Perkiraan Lahir).

Klinik Bersalin mensyaratkan hasil tes negatif Covid untuk menerimanya sebagai pasien. Sayangnya, perempuan muda berusia 23 tahun ini belum membawa hasil tes yang dimaksud.

Faskes terakhir yang dituju adalah UGD RSUD di kota ini. Syarat yang sama juga diajukan oleh pihak Rumah Sakit. Lagi-lagi, karena belum mengantongi hasil PCR ataupun swab antigen, pihak RS belum bisa mengambil tindakan. Ditambah dengan kondisi RS pagi itu yang sangat sibuk dengan pasien di UGD masih menumpuk. Dokter UGD mengatakan bahwa ruang bersalin pagi itu sedang full, akhirnya pihak keluarga mengambil jalan lain.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, keluarga membawa ibu hamil ke dukun bayi. Iya betul, Anda tidak salah baca. Dukun bayi. Yang namanya saja mungkin sudah sangat lama tidak kita dengar.

Keputusan mendatangi dukun bayi in, diambil oleh pihak keluarga karena alasan praktis mengarah ke nekat. Tidak tega melihat ibu muda ini kesakitan, kemudian memilih keputusan yang sebenarnya sangat berisiko.

Dalam keadaan normal, dukun bayi ini hanya membuka praktik sebagai dukun pijat (kebetulan perempuan muda ini memang menjadi langganan pijat oyok, pijat khusus untuk ibu hamil). Tapi saat datang, sang jabang bayi sudah dalam posisi siap dilahirkan. Demi alasan kemanusiaan, maka mau tidak mau, dukun bayi ini akhirnya membantu proses persalinan.

Beruntung, akhirnya bayi lahir dengan sehat dan selamat. Meskipun pagi itu penuh drama, sang ibu berhasil menjalani persalinan normal dengan lancar. Sluman slumun slamet.

Pandemi ini memang memporak-porandakan segala hal yang selama ini kita idealkan. Alih-alih menjalani proses kelahiran yang nyaman, dengan fasilitas kesehatan yang memadai, ibu hamil ini terpaksa harus menjalani proses persalinan yang jamak dijalani oleh nenek kita dulu. Bukan karena tidak mampu membayar fasilitas kesehatan yang memadai, tapi keadaan yang akhirnya memaksa untuk begitu.

***

"Beli Mama, ada ta?" seorang gadis kecil yang baru berusia 5 tahun bertanya pada neneknya. Belum sehari keranda membawa mamanya pergi. "Dipanggil Allah, karena Allah sayang Mama", begitu hibur si nenek pada putri cantik ini.

Hati siapa yang tidak patah seketika saat mendengar obrolan ini. Pernahkah Anda merasa tiba-tiba tenggorokan terasa tercekat? Ingin menangis tapi tidak mampu karena dada terasa sesak? Begitu kira-kira yang saya rasakan ketika mendengar obrolan nenek-cucu itu.

Pandemi turut membawa mama si gadis kecil in, pergi. Pagi itu, di dalam mobil, mamanya mengembuskan napas terakhir. Mobil yang bahkan belum sampai di halaman UGD Rumah Sakit.

Gadis kecil ini mempunyai keinginan sederhana. Membeli mama, kemudian membawanya kembali pulang untuk memeluknya di atas ranjang. Menemaninya seperti hari-hari sebelum pagi itu.

Bagi si gadis kecil, uang mampu ditukar dengan segalanya. Beli mama, dalam angannya yang sederhana, tak jauh beda dengan beli boneka, beli susu, atau beli jepit rambut pink yang biasa dia pakai.

Tapi sayangnya tak bisa, Nak. Jangankan 'membeli' mamamu, hari-hari ini, bahkan tak jarang, uang tak bisa membeli susu bergambar hewan galak itu, uang tak bisa membeli oksigen, tak bisa 'membeli' ranjang di Rumah Sakit, tak lagi bisa 'membeli' ventilator.

Jadi, benarkah kebahagiaan bisa dibeli dengan uang?

Titin Andriani ibu rumah tangga, tinggal di Sidoarjo

(mmu/mmu)