Kolom

Kebutuhan Darah, Pandemi, dan Ujian Filantropi Kita

Prakoso Permono - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 11:25 WIB
PMI terus mengajak penyintas COVID-19 untuk mendonorkan darahnya sebagai bagian dari usaha untuk menyembuhkan pasien yang masih positif.
Stok plasma darah konvalesen PMI menipis (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Beberapa pekan belakangan kita mulai menjadi familier dengan kebutuhan darah setelah peningkatan tajam kasus positif Covid-19 di Tanah Air. Media sosial kita mulai dipenuhi kiriman-kiriman bersambung kebutuhan darah dari kolega dan kerabat, khususnya kebutuhan plasma konvalesen yang merupakan salah satu terapi terdepan dengan memberikan antibodi penyintas Covid-19 sebagai upaya meringankan gejala pasien Covid-19 yang dirawat di fasilitas kesehatan.

Permintaan darah dan plasma konvalesen yang bertubi-tubi tersebut telah melampaui kondisi normal kebutuhan darah nasional dan kesanggupan Palang Merah Indonesia (PMI). Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menggambarkan bahwa kini masa tunggu penerima plasma konvalesen mencapai 3.000 permintaan. Pada saat yang bersamaan PMI hanya menerima rata-rata 109 kantung darah untuk setiap hari, kini Indonesia membutuhkan setidaknya 1.000 pendonor plasma konvalesen sukarela setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan darah nasional.

Angka-angka permintaan tersebut kini terus naik. Akhir pekan awal bulan lalu (3/7) terdapat 506 kebutuhan plasma konvalesen di ibu kota Jakarta, dalam tempo berselang hanya empat hari (7/7) angka tersebut naik tajam hingga 700 kebutuhan. Seluruhnya belum dapat terpenuhi dan terus menumpuk. Artinya paling tidak terdapat 700 keluarga di Jakarta yang tengah dalam kegamangan menantikan darah.

Hal serupa terjadi tidak hanya di ibu kota namun juga di berbagai kota di Tanah Air. Analisisnya sederhana, sebab musabab kelangkaan ini ialah jumlah penyintas Covid-19 yang mencapai 1,9 juta jiwa tidak berbanding lurus dengan kesediaan para penyintas mendonorkan darah secara sukarela. Jelas, budaya filantropi masyarakat Indonesia tengah diuji.

Belum Hilang

Filantropi oleh kamus kita diartikan sebagai cinta kasih dan kedermawanan pada sesama. Secara substansial oleh sebab itu filantropi juga bermakna sifat kesetiakawanan sosial yang telah membudaya di tengah masyarakat Indonesia sejak lama. Prof. Koentjaraningrat menggambarkan budaya kesetiakawanan sosial tersebut sebagai budaya gotong royong dalam hal bertani, menghadapi bencana, hingga peristiwa duka masyarakat di seluruh Indonesia memiliki mekanisme supporting system yang salin kuat menguatkan. Dalam istilah sosiologi pola interaksi yang erat itu kemudian disebut sebagai interaksi gemeinschaft yang guyub dan rukun, solidaritas sosial.

Istilah paguyuban itu tentu tidak muncul dari imajinasi intelektual, melainkan dari temuan empiris bahwa di tengah masyarakat relasi kesetiakawanan sosial semacam itu nyata adanya. Namun demikian pandemi Covid-19 menunjukkan potret paradoks dari budaya filantropi Indonesia. Pada awal pandemi tiba di Indonesia kita disuguhkan pada tontonan penimbun masker dan alat-alat kesehatan untuk kepentingan pribadi, hari ini kita disuguhkan pada keegoisan orang-orang yang melanggar pembatasan yang secara langsung berkontribusi memperpanjang pandemi. Termasuk pada angka defisit darah hari ini, apakah budaya filantropi itu telah berangsur mati?

Kita patut meyakini bahwa budaya filantropi Indonesia belum hilang. Kita juga tentu boleh berargumen bahwa budaya itu bertransformasi dalam bentuk filantropi yang berbeda dari yang digambarkan kemudian hari oleh Prof. Koentjaraningrat sebagai budaya gotong royong yang terus menerus memudar dari masyarakat kita. Faktanya bangsa kita memiliki preseden fenomenal dalam urusan kedermawanan. Misalnya saja dukungan masyarakat Aceh pada Republik Indonesia muda, sumbangan bangsa Indonesia bagi kemerdekaan bangsa Palestina dulu dan kini, hingga kesukarelawanan masyarakat untuk menjadi relawan penanggulangan Covid-19 dalam berbagai lini tugas.

Barang kali fakta paradoks kedermawanan dan keegoisan yang kita saksikan adalah potret hitam-putih masyarakat kita. Pada satu wajah menampilkan jiwa yang begitu tinggi menjunjung kesetiakawanan sosial dan pada versi yang lain mengedepankan egoisme pribadi atau kelompok, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi namun juga politik dan kekuasaan. Oleh sebab itu budaya filantropi dan kesetiakawanan sosial mesti menang dalam ujian ini.

Panggilan Pandemi

Merefleksikan masyarakat kita, maka setiap semangat filantropi dan kesetiakawanan sepatutnya menjadi arus utama melawan keegoisan dan individualisme. Refleksi kita hari ini juga tidak boleh terlepas dari upaya mengakhiri pandemi yang kini diakui dan disebut sebagai herd immunity, kekebalan komunal, yang dalam bentuk lainnya sedikit banyak menggambarkan survival of the fittest. Oleh sebab itu untuk melewati pandemi pilihan secara bersama-sama dengan kesetiakawanan sosial vis a vis egoisme individual adalah opsi yang paling baik, berupaya selamat secara bersama-sama dari pandemi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi hari ini justru membuat kita menjadi begitu terhubung lebih dari sebelumnya. Pada awal pandemi dan kemunculan berbagai pembatasan masyarakat dihadapkan pada tantangan terisolasi dan teralienasi dari aktivitas normal, tak berselang lama muncul istilah kenormalan baru yang salah satunya adalah dengan menggeser aktivitas tatap muka menjadi tatap maya. Bagi sebagian orang kondisi ini adalah suatu jurang pemisah, padahal pada saat yang sama pandemi membuktikan bahwa kita justru sangat amat terhubung.

Buktinya Covid-19 mengajarkan pada kita makna keterhubungan, tidak ada seorangpun yang terkena Covid-19 tanpa interaksi dengan orang lain, artinya kita terhubung, apapun yang kita kerjakan berdampak bagi keselamatan orang lain. Termasuk urusan darah, keengganan menyumbang darah adalah urusan antara hidup dan mati bagi orang lain. Maka, paling tidak salah satu upaya yang paling nyata untuk membudayakan filantropi di tengah perkembangan egoisme adalah dengan menaati protokol kesehatan secara ketat dan menjawab panggilan kebutuhan darah.

Panggilan kesetiakawanan sosial ini sungguh penting. Selain untuk menjaga diri dengan protokol kesehatan beserta vaksinasi, panggilan donor darah yang tengah paceklik adalah upaya untuk keluar dari pandemi dengan selamat bersama-sama. Lebih tinggi dari itu, membudayakan kesetiakawanan sosial adalah upaya mempertahankan dan menyelamatkan jati diri bangsa Indonesia.

Prakoso Permono alumni Universitas Indonesia, penerima Lencana Teladan dari Presiden Republik Indonesia, dan Penggerak Pramuka Donor Darah

tonton juga Jiwa Sukarela Bangsa Merdeka Hadapi Perang Semesta

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)