Jeda

Pak Panut, Virus Ini, dan Rasa Kehilangan Itu

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 25 Jul 2021 11:47 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Beberapa hari lalu linimasa Twitter sempat ramai dengan trending topic "Pak Panut". Trending topic ini mengabarkan bahwa Pak Panut meninggal karena Covid. Anda yang tidak kuliah di Yogya wabil khusus tinggal di daerah Klebengan mungkin akan asing dengan sosok ini.

Saya sendiri juga bukan mantan mahasiswa yang kuliah di Yogya atau orang yang tinggal di sekitar situ, tapi saya dulu sering menginap di Yogya sebelum pandemi. Kebetulan teman baik saya yang sering saya tumpangi itu kosnya tepat berada di barat GOR Klebengan, utara Fakultas Peternakan UGM. Kadang saya diajak teman saya makan di sana karena ibaratnya tinggal nglesot juga sampai, tidak harus mengeluarkan sepeda motor.

Jadi, Pak Panut ini adalah penjual makanan model angkringan. Angkringan Pak Panut adalah salah satu stan makanan yang ada di GOR Klebengan. Saya hanya pernah dua kali dibelikan nasi kucing dan lauknya di sana. Tentu saja saya tidak tahu kalau sosok Pak Panut ini ternyata sangat legend menurut mahasiswa UGM, UNY, dan sekitarnya. Sosok yang ramah dan dikenal menyelamatkan perut mahasiswa-mahasiswa kelaparan dan berkantong cekak.

Padahal kalau saya lihat dari tempat dia berjualan, masuk akal kalau seandainya harga menu angkringannya dinaikkan secara signifikan. Namun dari obituari di Twitter yang saya baca, banyak kesaksian yang mengatakan Pak Panut tidak pernah memahalkan harga makanannya. Jadi wajar saja banyak yang bersedih ketika dia berpulang.

Hal yang sama ketika tadi pagi saya membeli sayur di tempat langganan. Ibu saya menitip makanan kesukaannya. Saya mencari kue gandhos dan rangin, tapi tidak ada. "Ngapunten, Mbak. Sing ndamel seda, kenging corona," jawab penjual sayur ketika saya tanya kenapa jajanan yang saya cari kok tidak ada. Dia mengatakan bahwa yang membuat kue tersebut sudah meninggal karena Covid.

Saya lalu mencari jajanan kesukaan saya, lentho. Makanan dari singkong yang diparut dan digoreng dengan kacang merah (kacang tholo) atau kacang tanah. Saya tidak suka lentho kacang tanah, lebih suka kacang tholo. Tapi yang saya cari tidak ada. Saya pun protes kepada penjualnya.

"Sami, Mbak. Simbahe sing ndamel kenging corona," katanya simbah yang biasa membuat lentho juga meninggal karena Covid.

Entah rasanya saya ingin memaki-maki keadaan. Tentu saja sudah saya dului dengan mengucap "inalilahi" dan berkirim Al Fatihah, itu sudah kebiasaan. Saya ingin misuh-misuh karena virus ini bangsat sekali. Sudah membuat orang berduka dan sampai kehilangan semuanya, termasuk kebahagiaan mencicip makanan enak bukan karena anosmia sementara, tapi karena pembuat atau penjualnya juga terenggut nyawanya.

Tidak cukup rasanya saya kehilangan penjual kue puthu yang biasanya lewat. Tentu lebih menggembirakan mendengar suara "thuuuuut" dari gerobak penjual kue puthu daripada sirene ambulans.

***

"Mbak Impian, besok nulis apa?"

"Mbak, aku sudah baca kolom-mu. Viral deh kayaknya soalnya di-retweet selebtwit."

"Mbak Drim. Kok bisa dapat ide terus sih? Yang hari ini lucu banget. Edan kamu, Mbak."

Saya membaca-baca lagi percakapan di sebuah grup WhatsApp yang hanya berisi empat orang termasuk saya. Itu adalah grup sementara dulunya. Grup yang dibuat agar gampang berkoordinasi mengerjakan suatu proyek. Tapi karena kami klik, grup itu akhirnya tidak jadi dibubarkan karena seringnya kami bergosip tentang segala hal. Komentar-komentar yang saya tulis di atas adalah dari teman-teman saya di grup tersebut ketika membaca tulisan-tulisan saya di detikcom.

Mereka memang pembaca setia kolom saya. Bahkan mereka yang sering update ketika kolom saya menjadi perdebatan. Ya, memang kadang saya menulis tema yang sensitif. Tak jarang juga saya meminta masukan dari mereka. Masukan dari mereka selalu enak didengarkan. Mengobrol dengan mereka membuat awet muda. Saya memang secara umur paling senior di grup itu.

Tapi sudah tiga kali tulisan saya tayang, tidak ada komentar dari mereka. Bukan karena mereka sibuk, bukan karena mereka sedang tidak ingin berkomunikasi di WhatsApp, tapi karena mereka sudah tidak bisa menulis di sana lagi. Ya, hanya jarak dua minggu saya kehilangan mereka. Semuanya. Selamanya. Mereka adalah anak-anak muda usia 20 tahunan. Taat prokes, dua di antaranya tanpa komorbid. Dan virus ini merenggut mereka.

Tidak hanya menimbulkan kesedihan bagi keluarga dan teman-teman dekat mereka, tapi juga saya yang mereka tinggalkan sendirian di grup WhatsApp. Bayangkan kalian adalah orang yang tersisa sendiri dalam grup WhatsApp bukan karena anggota grup lain keluar grup, tapi karena mereka meninggal dunia dengan jarak waktu yang dekat. Nggrantes rasanya. Duka yang beruntun ini bahkan sampai membuat saya tidak sanggup mengunggah berita duka di story WhatsApp.

Virus ini sudah tidak tebang pilih lagi. Bukan hanya berbahaya bagi mereka yang lansia atau punya penyakit bawaan, tapi anak-anak muda yang minggu kemarin masih "haha-hihi" di grup WhatsApp.

Saya curhat pada seorang teman saya yang sempat dirawat di rumah sakit beserta istri dan seorang anaknya. Dia bisa memahami kesedihan dan kekosongan perasaan saya. Dulu ketika dirawat dia berkali-kali melihat kematian secara dekat. Pasien yang sejam lalu masih dia ajak ngobrol tiba-tiba mengalami perburukan dan akhirnya meninggal. Dia sempat merasakan berjam-jam harus berdampingan dengan jenazah karena untuk mengurus jenazah juga harus antre.

Lapor infus habis saja tidak bisa segera tertangani karena tenaga kesehatan yang kurang. Itu juga mereka kejlungup-jlungup jalannya saking capeknya. Tidak mengherankan kalau ada cerita bagaimana pasien kesulitan minum dan makan. Jangan buru-buru menyalahkan tenaga kesehatan yang bertugas. Karena tenaga kesehatan tidak sempat mengurusi printilan semacam itu. Kondisi memang chaos. Memang susah ketika pasien tidak ditunggu keluarga. Banyak dari mereka meninggal dalam kesendirian. Intinya, virus ini mengerikan.

Saya memang dalam kondisi yang gampang baper dan marah. Ketika ada dua teman yang sudah bertahun-tahun kenal dengan saya yang bangga bahwa dia covidiot dan meremehkan virus ini, saya langsung memblokirnya. Terserah mereka mau bilang apa. Orang-orang seperti ini biasanya kalau kena virus juga akan merepotkan. Karena abai, jadi menularkan kepada orang lain. Kalau kena dan mereka berhasil bertahan, juga akan sombong. "Sudah dibilang, virus ini seperti flu biasa, tidak usah dilebih-lebihkan." Virus ini tidak urusan dengan kepercayaan seseorang. Dia bisa menyerang siapa saja, mau Anda percaya atau tidak.

Mereka tidak merasakan bagaimana kehilangan orang-orang tersayang. Mereka tidak merasakan menderitanya ketika tubuh terinfeksi virus ini. Mereka tidak merasakan berebut oksigen. Mereka tidak paham kalau banyak anak-anak tiba-tiba menjadi yatim piatu. Boro-boro menyumbang bantuan, berkata yang tidak menyinggung perasaan saja mereka tidak bisa. Pandemi membuat saya kehilangan beberapa teman, tidak hanya karena virus, tapi juga karena anosmia empati.

Gondangrejo, 24 Juli 2021

Impian Nopitasari penulis cerita, tinggal di Solo

Simak juga 'Syarat Agar Level PPKM Suatu Daerah Bisa Turun':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)