Kolom

Menyalamatkan Anak dari Dampak Pandemi

Rita Pranawati - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 13:02 WIB
Hari Anak Nasional tahun ini dirayakan di tengah PPKM Darurat. Masih dibayangi Corona, tema Hari Anak Nasional tahun ini Anak Terlindungi, Indonesia Maju.
Menjaga anak tetap ceria di masa PPKM Darurat pandemi corona (Foto: Antara Foto)
Jakarta -

Tentu semua sepakat bahwa anak memegang peran penting dalam kehidupan hari esok. Oleh karenanya, menyiapkan mereka menjadi generasi hebat menjadi sebuah keniscayaan. Persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana nasib anak di tengah pandemi Covid-19? Sudah lebih dari setahun bangsa Indonesia bergulat dengan Covid-19. Kebijakan sering berganti menjadi penanda bahwa sebenarnya pemerintah masih terus mencari strategi.

Kondisi tersebut karena pemerintah sampai saat ini belum berhasil menangani atau mencari cara jitu menyelesaikan Covid-19 dengan baik. Keterbatasan data tentang Covid-19 menambah pelik persoalan pemerintah ini. Di tengah penularan Covid yang masih tinggi, kita tetap perlu memikirkan masa depan anak Indonesia.

Anak Indonesia perlu diselamatkan dari bahaya virus corona. Ini kata kunci yang perlu sama antara pemerintah pusat, daerah, sampai rumah tangga warga bangsa. Mengapa anak Indonesia perlu selamat dari bencana ini? Pasalnya, mereka adalah bagian dari kelompok rentan. Mereka sangat rentan terpapar Covid-19. Penanganan mereka pun perlu lebih khusus, di tengah masih banyaknya usia dewasa yang terpapar.

Selain itu sebagaimana rekomendasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam momen Hari Anak Nasional 23 Juli adalah "pemilahan data yang lebih rinci terkait jumlah anak-anak yang kehilangan salah satu orang tuanya dan atau jumlah anak-anak yang kehilangan kedua orang tuanya."

Literasi tentang Covid

Persoalan pengasuhan anak di tengah pandemi Covid-19 dihadapkan pada permasalahan yang kompleks. Salah satunya masih cukup rendahnya pemahaman masyarakat terkait Covid-19. Rendahnya pemahaman masyarakat ini salah satunya digempur oleh informasi yang simpang-siur. Informasi hoaks seakan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia. Ironisnya, informasi hoaks itu dianggap benar oleh sebagian masyarakat.

Saat orang dewasa minim pengetahuan tentang Covid-19, maka akan berimbas pada kehidupan anak. Anak-anak akan menjadi "mangsa" ketidaktahuan orang dewasa. Inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor tingginya angka anak terpapar Covid-19 di Indonesia. Anak juga dapat terhambat mendapatkan vaksinasi karena ketidaktahuan dan salah informasi yang diterima orang tua. Ketidaktahuan, untuk tidak menyebut sebagai kebodohan, dapat menghancurkan semua.

Literasi Covid-19 tampaknya perlu menjadi agenda kebangsaan. Literasi Covid-19 bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu media sosial. Media sosial memiliki peran cukup signifikan dalam membentuk pemahaman seseorang tentang Covid-19. Oleh karena itu, media sosial perlu dibanjiri dengan informasi benar dengan meminimalisasi adanya hoaks.

Ini tidak mudah, karena membuat konten positif membutuhkan effort lebih dibandingkan dengan membuat konten hoaks. Konten hoaks mudah saja dibuat, karena tanpa harus mikir. Sedangkan konten benar/positif membutuhkan pemikiran matang, apakah ini layak atau tidak. Maka dari itu, kita perlu menjadi bagian masyarakat literate yang mau memproduksi konten positif. Tanpa hal ini masa depan bangsa dapat tergadaikan.

Lebih lanjut, tempat ibadah perlu menjadi ruang publik menciptakan masyarakat sadar Covid-19. Tempat ibadah merupakan sentral kehidupan umat yang perlu mewartakan kebenaran. Jika kini masjid, gereja, pura, wihara, klenteng nonaktif dari aktivitas ibadah, ini adalah wujud dari pendidikan sadar Covid-19. Menutup tempat ibadah untuk sementara waktu menjadi sarana komunikasi aktif rumah ibadah dalam menyelamatkan kehidupan.

Peran tokoh agama, dai, mubaligh, ulama, dan pemuka agama lainnya perlu menjadi suluh di tengah jumudnya masyarakat. Mereka perlu terus bersuara, bahwa Covid-19 itu benar adanya. Dai di daerah perlu merujuk pada keputusan-keputusan ormas Islam besar dalam menangani hal ini. Keputusan Muhammadiyah dan NU misalnya, dapat menjadi pedoman dalam mendidik warga bangsa tentang bahaya Covid-19. Melalui berbagai kegiatan itu, anak dapat terselamatkan. Menyelamatkan anak dari hulu ini menjadi agenda kebangsaan saat ini.

Pengasuhan Anak Terdampak

Ada beberapa kondisi anak terdampak situasi Covid secara langsung, yaitu anak yang salah satu orangtuanya meninggal karena Covid, anak yang kehilangan kedua orangtuanya karena Covid, anak yang harus menjalani isolasi mandiri bersama keluarga, dan anak yang menjalani isolasi sendiri, serta anak yang sementara di rumah sendiri karena salah satu orangtua mengurus orangtua lain yang terpapar Covid.

Saat anak kehilangan kedua orangtuanya, maka persoalan perencanaan pengasuhan harus dituntaskan. Bagaimana mengasuh mereka, siapa yang akan mengasuh mereka? Pemerintah harus memastikan kesejahteraan anak tersebut. Pemerintah memastikan bahwa anak sebaiknya tetap diasuh oleh keluarga hingga derajat ketiga. Mengirim anak yatim ke lembaga kesejahteraan anak (panti asuhan) adalah alternatif terakhir.

Anak merasakan situasi yang sangat berat kehilangan orangtua, jangan sampai kondisi psikologis anak memburuk karena harus dipisahkan dari lingkungannya. Pemerintah harus memberikan dukungan kepada anak melalui keluarga pengasuh dengan bantuan sosial Program Keluarga Harapan, kepastian pembiayaan sekolah anak, hingga pendampingan psikologis. Masyarakat juga harus membantu agar anak dapat menjalani tumbuh kembangnya dengan baik.

Pemerintah juga harus mengalokasikan ruang isolasi mandiri anak tanpa orangtua yang disesuaikan dengan kebutuhan usia tumbuh kembang anak. Selain itu, bantuan dan pendampingan pemerintah untuk anak yang harus berada di rumah sendiri juga menjadi hal yang penting. Masyarakat pun dapat berperan lebih mengulurkan tangan kepada anak-anak tersebut sebagai pengejawantahan rasa kemanusiaan.

Meskipun seringkali muncul dalam benak masyarakat bahwa anak dapat menularkan Covid, hal ini harus disikapi dengan protokol kesehatan. Pemerintah pun perlu memberikan amunisi yang memadai bagi tenaga kesehatan, pekerja sosial, serta lembaga yang mendampingi anak-anak tersebut agar mereka juga nyaman mendampingi anak-anak.

Pada akhirnya, pandemi tidak boleh menambah luka dan kesedihan bagi anak Indonesia. Senyum anak Indonesia perlu terus tersungging dalam keceriaan wajah mereka. Nyanyian kegembiraan anak pun perlu terus didendangkan di tengah kondisi yang semakin tidak menentu.

Rita Pranawati Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dosen FISIP UHAMKA

(mmu/mmu)