Kolom

Menyalakan Empati Kala Puncak Pandemi

Oktavianus Ken - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 14:27 WIB
ilustrasi empati
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, komunitas psikolog klinis dalam Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia dihebohkan dengan foto-foto yang dipublikasikan oleh organisasi psikologi lain yang cukup terkenal. Foto itu menampilkan banyak orang di Wisma Atlet dengan pakaian alat pelindung diri (APD) COVID-19 yang dibuka setengah untuk menunjukkan kaos identitas dari organisasi psikologi tersebut. Tagar yang disematkan di posting-an Instagram memperingati ulang tahun organisasi tersebut.

Seketika para psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan dan tergabung dalam organisasi profesi resmi psikolog klinis mengkritik publikasi foto tersebut. Selain melanggar protokol kesehatan, foto-foto pencitraan untuk meraih simpati kala situasi genting saat ini di Wisma Atlet adalah tidak etis dan tidak berempati. Foto-foto itu pun kemudian dihapus, tanpa klarifikasi atau permintaan maaf sampai saat tulisan ini dibuat.

Matinya Empati

Pencitraan dengan memanfaatkan pandemi merupakan indikator matinya empati. Sangat disayangkan, ketidakpedulian ini justru ditunjukkan oleh organisasi psikologi yang beranggotakan orang-orang yang mengerti tentang ilmu psikologi dan bahkan dilatih untuk berempati.

Apa itu empati? Empati berasal dari kata empatheia yaitu bahasa Yunani Kuno yang artinya afeksi fisik. Dua filsuf Herman Lotze dan Robert Vischer menyerap makna empatheia untuk menciptakan istilah dalam bahasa Jerman yaitu einf├╝hlung yang berarti memasuki perasaan orang lain. Istilah empati sendiri dipopulerkan oleh psikolog Inggris yaitu Edward B. Titchener pada tahun 1909 yang merupakan terjemahan dari kata einf├╝hlung.

Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami apa yang orang lain rasakan secara emosional. Seseorang yang memiliki empati akan mudah membayangkan dirinya berada dalam posisi orang lain atau melihat sesuatu dari kacamata orang lain. Kemampuan ini sangat penting bagi psikolog untuk membantu klien atau pasien dalam memecahkan masalah psikologis maupun dalam menyembuhkan trauma psikologis yang dialami oleh klien atau pasiennya.

Daniel Goleman dalam bukunya berjudul Emotional Intelligence memasukkan empati sebagai bagian dari kecerdasan emosi yang selayaknya dimiliki oleh setiap orang agar dapat berinteraksi dan menjalin relasi dengan baik satu sama lain. Lima elemen kunci dari empati menurut Goleman adalah memahami perasaan orang lain, bereaksi terhadap kebutuhan orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain, menerima perbedaan dan memahami kepentingan dalam suatu kelompok tertentu.

Empati adalah kunci utama manusia untuk menjaga keharmonisan dalam interaksi sosialnya sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Berbagai masalah dalam hubungan manusia saat ini terjadi karena tidak adanya rasa empati. Setiap orang atau pihak yang terjebak dalam ego akan merasa dirinya paling benar dibandingkan orang lain. Pada akhirnya mereka bertindak tanpa mempedulikan apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh orang lain.

Menyalakan Empati

Saat ini, negara kita sedang dilanda gelombang kedua pandemi COVID-19. Situasinya sangat kritis karena COVID-19 varian Delta memiliki daya penularan tinggi di segala usia sehingga lonjakan penderita COVID-19 tak terelakkan.

Pemerintah dan tenaga kesehatan bekerja lebih keras untuk menangani lonjakan ini. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tidak sebanding dengan jumlah penderita COVID-19 berat yang terus berdatangan. Fasilitas kesehatan pun penuh, banyak orang mengantre dan berburu oksigen untuk anggota keluarganya karena terpaksa harus merawatnya sendiri di rumah. Banyak orang berduka kehilangan orang-orang tercinta dalam perpisahan yang sangat cepat tanpa ada seremoni perpisahan.

Saatnya kita bersama menyalakan empati dalam diri kita. Empati berbeda dengan simpati. Empati akan menggerakkan kita pada perilaku moral yang baik dan perilaku tolong-menolong, sementara simpati hanya sebatas rasa senang atas perilaku baik yang dilakukan oleh orang lain.

Cara menyalakan empati dalam diri kita sangat sederhana. Mari kita lihat tenaga kesehatan yang berjibaku melayani penderita COVID-19. Bagaimana rasanya jika diri kita menjadi tenaga kesehatan yang harus melayani pasien COVID-19 bergejala berat yang terus berdatangan? Bagaimana rasanya jika diri kita menjadi tenaga kesehatan di IGD yang rentan terpapar virus COVID-19? Bagaimana rasanya jika diri kita menjadi tenaga kesehatan yang akhirnya terkulai dalam lelah, bahkan dinyatakan tertular COVID-19?

Jika empati kita mulai menyala, kita akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Kita akan tergerak untuk membantu dan menolong para tenaga kesehatan saat ini. Mulai dari hal sederhana saja, yaitu agar diri kita tidak tertular atau menularkan COVID-19 dengan cara menjaga protokol kesehatan yang ada, misalnya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Mari kita contoh orang-orang di sekitar kita yang sudah menyalakan empati di kala puncak pandemi ini. Beberapa penjual obat, vitamin, atau agen-agen oksigen tidak menaikkan harga selama pandemi. Pengrajin peti mati susah payah mencari kayu untuk menyediakan peti mati meski harga tetap. Para relawan pemulasaraan jenazah terus bertambah dan tak kenal lelah. Beberapa pemuda lulusan tenaga kesehatan merelakan diri tidak ikut seleksi ASN untuk menjadi relawan tenaga kesehatan. Banyak orang meminjamkan tabung oksigen tanpa minta bayaran atau sekadar mendahulukan antrean oksigen untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Banyak lagi perilaku tolong-menolong dan moral yang baik yang didasari karena adanya rasa empati. Jika empati terus menyala dan menyebar, maka perusahaan-perusahaan tidak akan memborong obat-obatan dan oksigen hanya untuk stok karyawannya, orang-orang tidak akan menimbun oksigen hanya untuk memenuhi rasa aman, dan tentunya partai atau organisasi tidak memanfaatkan puncak pandemi ini hanya untuk sekadar pencitraan, apalagi pencitraan dalam rangka ulang tahun organisasinya.

Oktavianus Ken psikolog klinis

(mmu/mmu)