Kolom

Media Sosial dan Gerakan (Baru) Mahasiswa

Imran Duse - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 12:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Posting-an BEM UI soal "The King of Lip Service" tiba-tiba saja viral dan menjadi diskursus publik. Melalui media sosial, pesan tersebut bergegas hingga menjangkau mereka yang berpandangan sama (atau pun yang berseberangan). Tak sedikit yang menyahutinya, bahkan mengkonfirmasi, terutama dari BEM di sejumlah universitas di Tanah Air.

Sebagaimana halnya BEM UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) yang bahkan menyematkan julukan baru sebagai "The King of Pura-pura Tidak Paham". Julukan ini diberikan setelah muncul video Presiden Jokowi menanggapi kritikan mahasiswa UI tersebut, yang menurut BEM UMY tidak menyentuh substansi kritikan dimaksud.

Bak bola salju, kritikan BEM UI tersebut segera saja menjadi topik hangat perbincangan khalayak. Baik dalam talk show di televisi maupun dalam debat dan diskusi yang digelar secara virtual. Tak ketinggalan analisis ikut menyampaikan sudut pandangnya melalui berbagai platform media sosial, terutama YouTube.

Fenomena tersebut menggambarkan efektivitas media sosial sebagai saluran partisipasi dan penciptaan opini publik. Dengan piawai, aktivis mahasiswa kemudian mendayagunakan fasilitas ini. Mereka menaruh pendapat dan kritik di sana. Hal yang tak pernah dijumpai dalam gerakan-gerakan mahasiswa era 90-an, apalagi sebelumnya.

Dapat dikatakan, aktivitas mahasiswa yang muncul dan bergerak di dunia maya merupakan pengalaman baru dalam dua dekade terakhir. Ini memperlihatkan bagaimana pola interaksi komunikasi publik di masa depan. Media sosial dan internet pun kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia.

Semua itu ditopang oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan yang tidak hanya memperpendek "jarak", tapi juga nyaris menghapus separasi ruang privat dan ruang publik. Dan, dunia pun kini bertumbuh menjadi "desa global" --istilah McLuhan. Di sana, peristiwa-peristiwa yang terjadi di ranah privat dengan mudahnya ditransfer ke ruang publik, dan bahkan ke ruang pribadi orang lain.

Pertumbuhan Media Sosial

Dewasa ini, jumlah pengguna media sosial di Tanah Air menunjukkan angka yang begitu impresif. Tujuan penggunaannya pun beraneka macam. Beberapa individu menggunakan media sosial untuk bergabung dalam gerakan sosial, mengorganisasi kelompok dan komunitas, atau sekadar sarana aktualisasi diri.

Sebuah laporan pada Januari 2021 menunjukkan sekitar 61,8 persen penduduk Indonesia (sekitar 170 juta dari total 274,9 juta penduduk) aktif menggunakan media sosial. Angka ini bertumbuh 6,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara pengguna internet tumbuh mencapai 15,5 persen menjadi 202,6 juta penduduk. Dari jumlah tersebut, sebanyak 99,1 persen pengguna media sosial mengakses lewat perangkat mobile seperti smartphone.

Laporan Hootsuite (We Are Social) tersebut menunjukkan dominasi kalangan muda (usia 25-34 tahun) dalam penggunaan media sosial di Indonesia. Disebutkan pula, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 194 menit (3 jam 14 menit) sehari untuk mengakses media sosial.

Adapun aplikasi terpopuler yang digunakan, secara berturut-turut, adalah YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter. Selain itu, rata-rata orang Indonesia ternyata memiliki 10 akun media sosial. Dan 60 persen di antaranya menggunakan media sosial untuk maksud menjalin relasi dan bisnis.

Perkembangan tersebut berbanding terbalik dengan keberadaan media konvensional yang kini mulai diabaikan. Berdasarkan data GlobalWebIndex, jumlah penonton televisi, pendengar radio, pembaca koran dan majalah mengalami kemerosotan signifikan.

Kemerosotan juga terjadi dalam hal belanja iklan pada media konvensional. Angka ini ditunjukkan oleh survei Mobile Market Association (MMA) Indonesia tahun 2020, yang menemukan 58 persen perusahaan mulai fokus meningkatkan anggaran iklan melalui marketplace. Hanya 19 persen perusahaan yang mengaku akan meningkatkan nilai iklannya di TV.

Kita (saya dan Anda) tentu mempunyai pengalaman mengenai itu. Apakah kita masih membaca koran dan majalah? Kalau pun iya, sebesar banyak waktu yang kita habiskan? Bandingkan dengan waktu yang kita lalui bersama gadget atau smartphone. Apalagi ketika PKPM Darurat tengah diberlakukan!

Salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya peminat media sosial dikarenakan kecepatannya dalam mendapatkan feed back dari khalayak. Dibandingkan media konvensional, akses media sosial juga sangat mudah (dan murah), bersifat real time dan dua-arah, serta dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Pola Baru

Pertumbuhan media sosial tersebut tidak saja berpengaruh terhadap pola penyampaian pesan, tetapi juga mempengaruhi perilaku khalayak. Secara gradual, realitas ini mewarnai perubahan struktural dan dinamika budaya masyarakat. Sebagaimana halnya (sampai beberapa waktu lalu) kehadiran televisi yang berhasil menjadikan ruang keluarga sebagai muster point, tempat anggota keluarga berkumpul menghabiskan waktu menonton bersama.

Dalam konteks ini, kita lalu teringat ungkapan pakar komunikasi Marshal McLuhan bahwa medium is the message. Dalam karyanya Understanding Media: The Ekstensions of Man (1964), McLuhan menggambarkan pentingnya "medium" (sebagai media komunikasi dalam pengertian yang luas) dikarenakan memengaruhi perubahan perilaku, bentuk pergaulan dan tindakan manusia.

McLuhan menunjuk bola lampu sebagai tamsil ketika menjelaskan gagasannya tentang "medium adalah pesan". Menurutnya, bola lampu tidak memiliki konten sebagaimana halnya televisi atau surat kabar. Tetapi, kehadirannya memberikan efek: manusia kemudian mampu menciptakan ruang di malam hari --yang sebelumnya hanya diselimuti kegelapan.

Kini, ketika internet dan media sosial hadir sebagai medium baru, ia datang tidak hanya membawa konten. Layanan media sosial yang dengan mudah diakses melalui layar smartphone, pada gilirannya akan mewarnai perilaku khalayak. Termasuk akan memengaruhi perilaku "gerakan mahasiswa" –sebagaimana kritik BEM UI yang dilakukan melalui media sosial tadi.

Ini tentu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Di mana media sosial memfasilitasi organisasi gerakan mahasiswa. Dan ketika gaungnya menggelinding ke sejumlah BEM universitas lainnya (yang juga berlangsung melalui jaringan internet), boleh jadi akan semakin membesar. Semua terjadi tanpa komando dari sebuah kepemimpinan gerakan. Inilah pola baru gerakan mahasiswa: membawa aksi lapangan ke lingkungan virtual melalui jaringan media sosial.

Imran Duse mahasiswa Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda


(mmu/mmu)