Kolom

Menghormati BPOM Mencegah Bencana

Lutfi Nur Farid - detikNews
Kamis, 15 Jul 2021 11:42 WIB
Warga berbelanja kebutuhan obat dan medis di kawasan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (30/6). Membludaknya permintaan kebutuhan medis itu akibat lonjakan kasus Corona di Ibu Kota.
Membludaknya permintaan obat di Pasar Pramuka, Jakarta (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pekerjaan yang paling jarang dihargai di dunia ini adalah mencegah bencana. Semua negara pernah memberikan medali untuk relawan yang bekerja di tengah bencana, menganugerahkan bintang jasa untuk seorang politikus, atau menobatkan seorang jenderal sebagai pahlawan perang, namun langka sekali seseorang diberi penghargaan karena mencegah tragedi terjadi.

Dalam sejarah dunia, di antara yang langka tersebut adalah seorang dokter dan farmakolog Amerika-Kanada bernama Frances Kathleen Oldham Kelsey. Kelsey lahir pada tahun 1914 di Pulau Vancouver, Kanada. Dikenal cerdas sejak kecil, dia meraih gelar PhD di bidang farmakologi pada usia 24 tahun, dan menerima gelar MD pada usia 36 tahun, keduanya dari University of Chicago, Amerika. Dia memiliki ketertarikan akan pengaruh obat pada janin dan bekerja sebagai peneliti di almamaternya.

Hingga tahun 1930an, regulasi obat di Amerika sangatlah lemah. Cikal bakal FDA, BPOM-nya Amerika, sudah berdiri dua dekade sebelumnya, namun belum ada undang-undang yang memberinya wewenang mengatur soal uji klinis dan pemasaran obat. Pabrik farmasi bisa meracik obat dan memasarkannya tanpa perlu izin siapapun. Mereka hanya perlu mematuhi Undang-Undang Kemurnian Makanan dan Obat tahun 1906, yang menyebutkan semua produsen wajib mencantumkan bahan kimia aktif dan mematuhi standar kemurnian lembaga pengawas obat.

Tanpa adanya kewajiban uji klinis untuk memastikan keamanan dan klaim efektivitas sebuah obat, pasar Amerika dipenuhi obat dengan klaim palsu. Masyarakat dan media diresahkan dengan adanya maskara yang membuat kebutaan, minuman berisi isotop radium yang diklaim suplemen kesehatan namun malah membunuh konsumennya, dan bermacam obat yang diklaim bisa menyembuhkan diabetes dan tuberculosis padahal penipuan. Puncaknya pada tahun 1937, saat perusahaan SE Massengill memproduksi dan memasarkan obat minum elixir sulfonamide.

Sesuai peraturan saat itu, perusahaan tidak perlu mencoba lebih dahulu obatnya di hewan, dan sulfonamide memang sudah terbukti efektif sebagai antibiotik dan digunakan sampai sekarang. Yang tidak disadari si perancang obat, pelarut yang dia gunakan, Diethylene glycol (DEG), beracun untuk manusia dan hewan. Sebulan setelah dipasarkan, berbagai laporan kematian setelah konsumsi obat tersebut bermunculan.

FDA membentuk tim bersama para peneliti dari University of Chicago untuk mencari tahu penyebabnya, termasuk Kelsey. Saat obat tersebut akhirnya ditarik, 107 orang sudah meninggal. Si perancang obat bunuh diri saat mengetahui kesalahannya. Perusahaannya sendiri hanya didenda minimal karena pelanggaran hukum yang ditemukan hanyalah "melabeli elixir padahal tidak ada kandungan etanol".

Ironisnya bila labelnya adalah "larutan", malah benar dan FDA tidak berhak menarik produknya dari pasar. Masyarakat Amerika yang marah pun mendorong agar regulasi obat diperketat, ujicoba pada hewan, dan semua obat memerlukan review dan izin FDA sebelum boleh dipasarkan. Undang-Undang FDA pun disahkan pada tahun 1938.

Sebagai ahli farmakologi sekaligus dokter, Kelsey menjadi salah satu dari tujuh dokter yang direkrut FDA sebagai drug reviewer pada tahun 1960. Meskipun sudah ada UU FDA, regulasi obat di Amerika masih lemah. Produsen obat bisa mengajukan produknya masuk ke pasar Amerika tanpa bukti kuat untuk efikasinya, bisa menjalankan uji klinis sendiri, cukup menunjukkan bahwa obat itu tidak berbahaya. Persyaratan bukti dan uji klinis yang diperlukan pun tidak seketat saat ini.

Di bulan pertama pekerjaan resminya di FDA, salah satu aplikasi obat baru yang ditinjau Kelsey adalah Kevadon. Obat ini berbahan aktif thalidomide, obat penenang dan anti-nyeri yang populer digunakan sebagai anti-morning sickness pada wanita hamil. Di Kanada dan berbagai negara di Eropa dan Afrika, obat ini memang sudah disetujui dan telah dipasarkan. Di Jerman Barat, obat ini telah dikonsumsi 1 juta dosis per harinya. Bila pasar Amerika juga terbuka, produsennya, William S Merrell Company, bisa berharap laba yang amat besar.

Awalnya Merrell berharap persetujuan FDA tinggal formalitas, toh obat ini sudah diterima di berbagai negara. Kali ini mereka menghadapi batu yang kokoh di tengah jalan, seorang Frances Kelsey. Kelsey meninjau data yang diajukan Merrell dan mendapatkan banyak kejanggalan. Kelsey saat diwawancara puluhan tahun kemudian masih ingat reaksi awalnya, "Data ini terlalu positif, tidak mungkin ada obat yang sempurna tanpa resiko."

Bukti dari penelitian klinis yang diajukan Merrell dangkal, bahkan lebih banyak diisi testimoni pengguna saja. Bersama suaminya yang bekerja sebagai farmakolog di NIH, Kelsey menganalisis pengajuannya bersama-sama. Obat ini diklaim tidak memiliki dosis mematikan, sifat yang tidak dimiliki senyawa lain, air dan oksigen sekalipun. Banyak paragraf yang mereka nilai hanya "berisi jargon pseudosains yang dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca yang tidak memahami ilmu kimia."

Kelsey semakin yakin saat dia membaca laporan kasus di Jurnal British Medical Journal terbitan Februari 1961, mengenai laporan peripheral neuritis pada pasien-pasien yang mengonsumsi Kevadon di Inggris. Laporan ini tidak ikut disertakan oleh Merrell. Saat itu FDA masih bersifat open door, produsen farmasi bisa berdiskusi secara langsung dengan drug reviewer yang menangani obat mereka. Merrell sudah menyewa dokter terkenal sebagai pendukung, politisi untuk melobi, juga peneliti untuk menulis artikel ilmiah mendukung thalidomide.

Tidak terhitung berapa kali eksekutif Merrell menelepon, menyurati, dan menghadap ke Kelsey, namun dia bergeming. Empat kali Merrell mengajukan izin obat, empat kali juga Kelsey menolak dan meminta lebih banyak data mengenai efek sampingnya. Merrell memprotes ke atasan Kelsey, namun lembaga FDA dengan tegas menyampaikan bahwa mereka menghormati keputusan Kelsey.

Keteguhan Kelsey menemukan buktinya. Lebih dari sepuluh ribu bayi di 46 negara, mayoritas di Eropa, ditemukan lahir cacat, banyak yang mengalami phocomelia, tidak memiliki tangan dan kaki, yang setelah diselidiki ibunya memiliki riwayat mengonsumsi thalidomide saat hamil. Ribuan keguguran juga dihubungkan dengan obat tersebut. Di Amerika Serikat sendiri meski obat tersebut belum memiliki izin untuk dijual, lebih dari 2.5 juta tablet telah dibagikan ke ribuan dokter untuk uji klinis oleh perusahaan Merrell, sesuatu yang tidak perlu izin FDA saat itu.

Paling tidak 17 anak di Amerika dilahirkan dengan cacat yang dihubungkan dengan thalidomide, angka yang bisa menjadi ribuan bila Kelsey tidak berpegang teguh atas pendiriannya mengenai bukti ilmiah. Setelahnya, UU baru mengenai persyaratan bukti efikasi dan keamanan obat yang lebih ketat disahkan di Amerika, serta semua uji klinis memerlukan izin FDA. Frances Kelsey menerima medali penghargaan dari Presiden JFK tahun 1962, dan Kelsey Award menjadi nama penghargaan untuk karyawan FDA.

Saya teringat kisah di atas saat membaca berbagai isu yang menerpa BPOM selama pandemi ini. Selain wabah virus SARS-CoV-2, ada juga wabah pseudosains yang diciptakan oleh kalangan non medis yang gampang sekali mengklaim efektivitas produk mereka sebagai vaksin ataupun obat. Bukti yang ditawarkan sekedar berupa testimoni, klaim sepihak bahwa produknya hanya punya efek positif dan tidak punya efek samping, juga jargon-jargon pseudosains yang membuat kalangan medis mengernyitkan dahi, pantas bila BPOM bersikukuh menolak produk-produk tersebut.

BPOM sebagai gatekeeper dalam bidang farmasi memang harus ketat dan berlandaskan sains untuk mencegah tragedi. Persyaratan bukti dan data ilmiah tidak bisa ditawar, sekalipun diserang dengan isu tidak nasionalis, baik oleh politisi, media, ataupun pendengung lainnya. Terobosan dalam bidang sains bisa melawan hierarki maupun otoritas, namun tidak pernah mengabaikan metodologi ilmiah. Untuk itu, saya bersama sains dan BPOM.

Lutfi Nur Farid dokter

(mmu/mmu)