Kolom

Jepang, Pandemi, dan Olimpiade Tanpa Penonton

Primasari N. Dewi - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 12:00 WIB
A general view of Tokyo is seen from a bus Tuesday, July 13, 2021, in Tokyo. The pandemic-delayed 2020 Summer Olympics are schedule to open on July 23 with spectators banned from most Olympic events due to COVID-19 surge. (AP Photo/Jae C. Hong)
Tokyo sepi karena keadaan darurat Covid-19 menjelang Olimpiade (Foto: AP/Jae C. Hong)
Jakarta -

Akhirnya Jumat (8/7) lalu tim kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2021 tiba di Tokyo. Setiba di bandara, semua atlet dan kontingen dites PCR Covid-19 dengan protokol kesehatan ketat. Olimpiade ini akan berlangsung dari tanggal 23 Juli sampai 8 Agustus.

Olimpiade merupakan sebuah acara olah raga empat tahunan yang sangat bergengsi. Tokyo terpilih sebagai tuan rumah dengan proses yang sangat panjang dari International Olympic Committee (IOC) setelah mengalahkan kandidat Istanbul dan Madrid.

Sebagai tuan rumah, Jepang tentu berusaha mempersiapkannya dengan baik. Dimulai dari cerianya PM Shinzo Abe dengan kostum Mario Bros-nya, tarian bon dengan logo Olimpiade-nya, lagu Paprika-nya Yonezu dan Tokyo Bon dari Namewee yang cukup viral, sampai berbagai karikatur ikon Olimpiade 2020 dipersiapkan untuk memeriahkannya. Lagu-lagu dan karikatur pun diperkenalkan melalui televisi dengan harapan seluruh warga Jepang tahu dan bisa menyambut gembira perhelatan ini.

Pembangunan fasilitas dan teknologi juga digencarkan, bahkan robot khusus juga disiapkan. Teknologi pembangunan jalan yang bisa menahan panasnya matahari saat musim panas juga diterapkan. Jepang betul-betul mengerahkan segenap tenaga menyiapkan acara ini.

Namun, apa boleh buat. 2020 menjadi tahun yang buruk. Hampir semua negara di dunia sedang berjuang melawan pandemi Covid-19. Empat bulan sebelum jadwal seharusnya Olimpiade 2020 berlangsung, PM Shinzo Abe mengumumkan bahwa Olimpiade ditunda selama setahun karena pandemi.

Tahun 2021, akhirnya IOC mengizinkan Olimpiade yang memperebutkan 339 nomor pertandingan dari 37 cabang olah raga tetap digelar meski dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Korea Utara mengundurkan diri karena alasan pandemi, tetapi tampaknya 166 negara lainnya tetap ikut berpartisipasi. Sebagai konsekuensinya, pendukung dari luar negeri dilarang datang untuk menonton di Jepang.

Dua minggu menjelang penyelenggaraan kali ini, PM Yoshihide Suga malah mengumumkan status keadaan darurat Covid-19 untuk Tokyo dari 12 Juli sampai 22 Agustus. Tokyo sendiri mengalami kasus lonjakan infeksi Corona terbanyak di Jepang selama tiga minggu terakhir. Sesaat setelah pengumuman itu, Gubernur Tokyo Yuriko Koike juga mengumumkan pelarangan penonton untuk datang ke venue pertandingan.

Tidak hanya penonton asing, tetapi penonton lokal pun dilarang datang menonton. Semua pertandingan akan disiarkan melalui televisi. Olimpiade tanpa penonton tentu bukanlah impian negara tuan rumah; hal ini akan disayangkan oleh semua pihak, termasuk dari pihak IOC sendiri.

Dengan 14 ribu kematian sejak pandemi melanda, Jepang juga tidak mau mengambil risiko yang memperparah keadaan dengan nyawa taruhannya. Terlebih 27,3% dari total penduduk Jepang merupakan penduduk lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Ibarat perang, mungkin lebih baik memilih "kalah" dan menyelamatkan banyak orang dibanding harus memaksakan diri "menang", tapi banyak korban.

Selain kesehatan dan nyawa yang menjadi taruhannya, kebijakan Olimpiade tanpa penonton ini tentu berdampak pada sektor ekonomi. Namun, sepertinya Jepang tidak ingin terlalu mengambil pusing soal ini.

Pandemi telah mengakibatkan 31,9 juta wisatawan dan pemasukan Rp 637 triliun pada 2019 harus turun menjadi hanya 4,1 juta wisatawan (2020). Berkurangnya wisatawan secara drastis ini juga mengakibatkan banyak toko, hotel, maupun perusahaan gulung tikar. Kebijakan memberi diskon perjalanan juga sudah dilakukan demi menyelamatkan pelaku sektor wisata, tapi tetap saja tak mendongkrak banyak. Hal ini sebenarnya sudah cukup membuat Jepang syok.

Tidak mendapatkan keuntungan ekonomis tentu sudah dipertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan tetap menyanggupi penyelenggaraan Olimpiade di tengah pandemi. Beberapa saat sebelumnya, kontroversi penolakan Olimpiade juga datang dari warganya sendiri. Perwakilan dokter sempat berunjuk rasa agar Olimpiade ini dibatalkan saja. Dari hasil jejak pendapat penduduk, sebagian besar menentangnya. Ketakutan melonjaknya kasus infeksi varian baru Covid-19 dan keterbatasan tenaga medis menjadi alasan utamanya. Pihak China juga buka suara akan mampu menyelenggarakan Olimpiade seandainya Jepang tidak sanggup.

Bagi Jepang sekarang, alih-alih mencari keuntungan, Olimpiade dapat terselenggara dengan baik dan semua pihak dalam keadaan sehat tanpa ada kluster baru Covid-19 menjadi prioritas utamanya. Kepercayaan internasional terhadap Jepang menjadi poin yang harus diraih sepenuhnya meski tahu risiko berat yang harus dihadapi. Terlebih jika sudah berhubungan dengan China, sepertinya Jepang juga akan lebih berusaha lebih baik.

Seandainya tidak ada perhelatan Olimpiade ini, mungkin Jepang juga masih menutup rapat pintu imigrasi dan belum menerima pendatang asing dari luar secara besar-besaran. Hanya warga asing yang mempunyai visa khusus dan terbatas yang bisa masuk Jepang sekarang. Untuk visa umum seperti pelajar, pekerja, dan wisata, mereka belum bisa masuk.

Sejak menutup diri Maret 2020 lalu, hanya sekitar 3 bulan pada akhir 2020 Jepang membuka diri dan membiarkan warga negara asing masuk untuk bekerja dan belajar. Januari 2021 dimulai lagi penutupan itu sampai sekarang. Indonesia sendiri sangat menaruh harapan besar agar Jepang segera membuka diri. Ribuan calon pekerja migran Indonesia yang seharusnya sudah bekerja di Jepang terpaksa harus menunggu lebih lama.

Kalau membicarakan Jepang yang "menutup" diri dari asing, tentu kita akan teringat zaman Edo (1603 - 1868). Jepang hanya menerima pengaruh asing dari perdagangan Belanda dan China. Politik itu disebut sakoku, yakni kebijakan yang mengatur warga Jepang tidak boleh keluar Jepang dan orang asing tidak boleh masuk Jepang. Selagi menutup asing, mereka fokus berbenah diri dan mengumpulkan kekuatan.

Jika sakoku sebelum Restorasi Meiji itu sangat berbau politik, maka kebijakan sekarang tentunya terpaksa karena pandemi. Namun kalau diperhatikan, keadaannya mungkin sama seperti sekarang. Aturan status keadaan darurat dari pemerintah sangat membatasi pergerakan warga negaranya. Selain itu, orang asing juga tidak sembarangan diperbolehkan masuk Jepang.

Sampai semua warga negaranya mendapat vaksin, Jepang masih ketar-ketir dan harus bersiap diri sebelum perang imun. Di Jepang sendiri saat ini sedang berlangsung proses vaksinasi untuk semua warga negaranya, termasuk WNA yang tinggal di sana.

Tentunya Olimpiade bisa menjadi tolok ukur dan gambaran bagaimana seandainya Jepang membuka diri lagi untuk asing secara besar-besaran. Sebelas ribu orang untuk jumlah atlet dan kontingen tentu bukanlah angka yang sedikit.

Simak video 'Olimpiade Tokyo Akan Dibuka saat Jepang Masih Darurat Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)