Sentilan IAD

Mencintai karena Tragedi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 18:25 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Beberapa hari terakhir, saya rajin naik tangga, kemudian memanjat ke atap rumah di sebelah bak penampung air. Bukan untuk membetulkan genting bocor, tetapi buat berjemur. Di atas dak beton yang tak terlihat oleh siapa pun selain kamera drone dan Tuhan, saya bisa bebas membuka baju, lalu menikmati siraman sinar matahari semerdeka-merdekanya.

Ini jelas bukan kebiasaan lama. Benar-benar saya melakukannya karena situasi yang memaksa. Istri dan anak sulung saya tersambar korona, mereka isoman di rumah, dan saya harus mati-matian mempertahankan benteng fisik saya biar tidak ikutan kena. Salah satunya ya dengan berjemur itu tadi.

Memang, begitu saya berbagi kabar kepada segelintir kawan tentang istri dan anak saya itu, datang bermacam-macam pesan. Selain soal vitamin, uap minyak kayu putih, juga ada dua saran yang paling bestseller: jangan begadang, dan rajin-rajinlah berjemur.

Soal tidur lebih sore memang jadi tantangan terberat saya. Sebagai manusia kalong, otak saya sering tidak ada gunanya ketika matahari masih menyala. Tapi tentang berjemur, saya masih sanggup melakukannya. Dan ternyata ketika mulai mempraktikkan lelaku berjemur itu, sehari, dua hari, saya merasa konyol sendiri.

Kenapa? Karena sebenarnya perkara berjemur ini sudah dijelaskan oleh pelajaran IPA ketika saya SD, puluhan tahun silam. Sinar matahari membantu tubuh kita memproduksi vitamin D. Vitamin D baik untuk tubuh. Kekurangan vitamin D akan menyebabkan gangguan kesehatan ini dan itu. Jelas sekali.

Begitu lama saya tahu teori itu, tetapi begitu lama juga saya melupakannya. Dan saya yakin bukan cuma saya, tetapi juga Anda. Kita. Kenapa kita lupa? Ya, alasannya menyebalkan sekali, yaitu karena saking mudahnya manusia negeri tropis macam Indonesia mendapatkan sinar matahari.

Apa pun yang terlalu mudah didapatkan akan cenderung kita abaikan. Begitu, bukan?

Itulah kenapa buku-buku yang kita peroleh dari hasil give away akan kita baca nanti-nanti saja daripada yang kita beli dengan menabung dulu. Itulah kenapa Anda tidak menyimak sungguh-sungguh saat mengikuti webinar gratis, tetapi ketika ikut kelas online berbayar Anda bela-belain mencatat semua materinya--meski kualitasnya belum tentu lebih bagus ketimbang webinar gratis itu.

Dengan alasan yang sama, kita mengabaikan hujan sinar matahari yang datang nyaris setiap hari, padahal sebenarnya ia jadi kemewahan impian bagi banyak orang di berbagai belahan bumi.

Perlu pengorbanan untuk memunculkan penghargaan, memang. Perlu jarak, sehingga sesuatu bukan merupakan milik kita sewaktu-waktu. Bahkan kadangkala perlu kesakitan, juga ancaman-ancaman dan reproduksi ketakutan.

Maka, pada hari-hari ini ancaman itu mendatangi kita. Mendatangi saya. Saya takut diterkam korona. Dan, meski sudah seumur hidup dengan begitu mudahnya saya mengakses sinar matahari, tiba-tiba makhluk itu jadi bernilai sangat tinggi. Sinar matahari jadi mahal sekali. Saya sampai memanjat-manjat untuk mendapatkan efek maksimalnya, dan gusar sekali ketika tiba-tiba awan bermendung menghalanginya.

Saya jadi ingat The Little Prince, novel tipis karya Antoine de Saint-Exupery. Ada satu dialog di sana, yang menyebutkan bahwa sesuatu menjadi penting bagi kita karena kita menghabiskan waktu bersamanya. Saya membaca novel itu ketika masa kuliah, lalu menggunakan potongan adegan itu sebagai jurus default untuk pendekatan ke para calon pacar saya (tak usah dibahas bagaimana hasilnya).

Tetapi sekarang saya tahu, de Saint-Exupery telah berdusta (itulah kenapa hasil jurus darinya kurang membikin gembira). Sesuatu menjadi penting bukan karena kita menghabiskan waktu bersama. Sekadar menghabiskan waktu bersama, tanpa ancaman dan ketakutan, ternyata tidak akan membuat sesuatu terasa jadi penting bagi kita.

Bukan cuma sinar matahari. Coba lihat saja video dan foto-foto yang sekarang beredar di mana-mana itu. Puluhan orang mengantre untuk mendapatkan tabung oksigen. Bayangkan, oksigen! Itu benda yang setiap saat kita hirup, tanpa pernah kita tahu berapa kadar dan volumenya, juga berapa kali isapan ke lubang-lubang hidung kita setiap harinya.

Tetapi, sekarang kita memburu oksigen, mau melakukan apa pun demi mendapatkan oksigen, setiap jam memeriksa jempol kita untuk mengukur saturasi oksigen, padahal selama ini kita tak peduli kepadanya karena saking murahnya dan karena saking "dekat"-nya dengan diri kita.

Lalu tiba-tiba kita peduli. Kita menumpahkan perhatian. Kita jatuh cinta setengah mati kepadanya. Gara-gara satu hal, yaitu kita terancam untuk kehilangan akses atasnya.

Kemarin, seorang kawan curhat sama saya. Dia punya seorang teman dekat. Meski dekat, kawan saya itu sering sebal dan nggak sayang sama temannya itu, karena beberapa perilaku. Tetapi, tiba-tiba pada hari-hari ini kawan saya sangat merindukan temannya. Dan karena itulah dia curhat kepada saya.

Kerinduan kawan saya itu muncul tiba-tiba, karena teman dekatnya yang menyebalkan itu sekarang dalam kondisi drop, tentu saja karena kesabet kuku korona. Lihat, seseorang tiba-tiba menjadi penting untuk kita, menjadi sangat penting, karena bisa jadi sekarang adalah hari-hari terakhir saat kita masih bisa berkomunikasi dengannya.

Setelah segala kutukan ini berlalu nanti, akankah kita terus-menerus menanti tragedi, hanya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang mesti kita hargai?

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)