Kolom

Tahun Ajaran Baru dan Keniscayaan PJJ Lagi

Kurniawan Adi Santoso - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 16:34 WIB
Siswa siswi menggunakan fasilitas WiFi gratis saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga RW 05 Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Jumat (27/8/2020). WiFi gratis ini disediakan oleh swadaya warga RW 05 guna membantu anak-anak yang melakukan pembelajaran jarak jauh yang terkendala dengan kuota internet.
Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -

Penularan Covid-19 yang cenderung melonjak menjadi salah satu pertimbangan untuk menunda rencana pembelajaran tatap muka (PTM). Sangat dimungkinkan tahun ajaran baru 2021/2022 masih akan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Makanya, inovasi PJJ mutlak dilakukan agar peserta didik tidak bosan dan tujuan pembelajaran tercapai.

Pada kondisi pandemi yang semakin memburuk, jelas PTM bukanlah pilihan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya kecenderungan Covid-19 varian Delta menyerang usia anak-anak hingga 18 tahun di sejumlah daerah yang sedang mengalami lonjakan kasus. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, sampai dengan Rabu (30/6) tercatat 12,6 persen kasus Covid-19 merupakan anak usia 0-18 tahun. Artinya, ada sekitar 271.714 anak Indonesia yang terpapar Covid-19.

Situasi ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, hingga kini sebagian besar rumah sakit belum memiliki ruang ICU (Intensive Care Unit) khusus anak. Tak ayal bila kemudian tak sedikit anak-anak kita yang terinfeksi virus korona tak tertolong nyawanya. Bahkan angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia merupakan tertinggi di dunia. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan dari total kasus positif Covid-19 nasional saat ini, 12,5% dikontribusikan anak usia 0 - 18 tahun. Ini menunjukkan, satu dari delapan kasus positif Covid-19 di Indonesia merupakan kasus anak. Memprihatinkan.

Karena itu, PTM yang seharusnya diagendakan pada tahun ajaran baru Juli 2021 sangat tepat bila ditunda pelaksanaannya. Kalau mau diadakan harus sangat selektif, hanya di daerah yang benar-benar aman. Untuk sementara ada baiknya dilakukan di zona hijau di luar Jawa dulu yang penduduknya tidak begitu padat. Itu pun dengan syarat tambahan, mereka yang sudah divaksin bukan hanya tenaga pengajar saja, tetapi juga peserta didik.

Bagi sekolah di Jawa-Bali harus merencanakan PJJ lagi. PJJ yang dilaksanakan harus kreatif, lebih menarik, inovatif, menggairahkan, dan tidak membebani siswa. Lebih baik dari yang sudah lalu.

Pakai LMS

Agar efektif, PJJ seharusnya dilaksanakan dengan menggunakan sistem pengelolaan pembelajaran atau Learning Management System (LMS). Apa bisa PJJ tanpa LMS? Jawabannya kurang lebih sama dengan analogi pertanyaan, apa bisa pembelajaran tatap muka tanpa ruang kelas dan perabotnya?

Melalui LMS itulah guru dapat menaruh dan menyampaikan seluruh bahan ajar, melakukan interaksi dan evaluasi, memberikan penjelasan dan diskusi serta memonitor perkembangan peserta didik. Hal itu adalah tugas guru dalam pembelajaran dan kesemuanya dengan mudah dapat difasilitasi oleh LMS.

Sekolah harus menyediakan LMS untuk pembelajaran daring. Apapun pilihan LMS-nya (misalnya: Moodle, Google Classroom, Edmodo, Schoology, dll) yang penting pengguna tidak kesulitan. Seperti pengalaman di sekolah kami, LMS dengan Google Classroom (GC) sebagai solusinya.

Setiap guru masuk ke dalam kelas GC yang diampunya. Selama pembelajaran guru dapat berinteraksi secara langsung dengan siswa menggunakan Google Meet (Gmeet). Pada saat guru dan siswa membuka mikrofon dan kamera maka guru dapat menyapa, memberi pujian, memberi motivasi selama pembelajaran.

Salah satu yang dibutuhkan guru untuk berinteraksi dengan siswa adalah papan tulis. Dalam pembelajaran daring tidak mudah diwujudkan. Beberapa guru berinovasi dengan banyak cara, mulai dari mengambil gambar dengan kamera saat menjelaskan sesuatu, hingga mengirim foto hasil penjelasan atau pembahasan soal yang ditulis di kertas.

Dalam pembelajaran daring guru juga kesulitan untuk meminta siswa mengerjakan soal di papan tulis. Akhirnya guru berinovasi dengan berbagai aplikasi sehingga bisa menciptakan papan tulis di dalam layar Laptop/HP misalnya Paint, Snipping Tool, PPT atau OneNote. Alat bantu yang dipakai untuk menulis menggunakan mouse pen adalah pen tablet.

Siswa juga bisa membuat papan tulis sendiri dengan aplikasi tersebut. Sehingga mereka dengan mudah bisa kembali menulis jawaban seperti layaknya saat mereka menulis di papan tulis dalam pembelajaran tatap muka.

Diskusi adalah bagian penting dari pembelajaran. Pada saat diskusi kelompok, guru akan membuat beberapa grup WA yang beranggotakan dirinya dan beberapa siswa. Guru kadang memberi motivasi dengan mengirim pesan suara, agar siswa bisa mendengar suaranya. Ternyata beberapa siswa mengikuti, terwujudlah diskusi kelompok yang aktif. Kadang guru membuat videocall di setiap kelompok tersebut, makin menyenangkan.

Kehadiran zoom meeting yang disewa sekolah dapat menjadi solusi sehingga diskusi kelompok di kelas dapat sesuai dengan yang diharapkan. Breakout room adalah aplikasi yang dimiliki zoom meeting. Siswa bisa saling berinteraksi dengan mikrofon dan kamera dan guru bisa masuk ke setiap room breakout.

Jadi, pada intinya guru itu ibarat dalang yang tidak kehabisan lakon. Seharusnya tidak ada proses yang membosankan siswa karena guru punya keleluasaan merancang seabrek model pembelajaran. Seorang guru harus mampu menciptakan terobosan agar pertemuan virtual bisa membuahkan hasil optimal bagi siswa.

Guru dituntut mampu merancang atau mendesain PJJ yang ringan dan efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau media yang sesuai materi yang diajarkan. Ia harus mampu memilih seberapa jauh cakupan materinya dan aplikasi apa yang cocok untuk materi dan metode belajarnya. Pun sukses dalam memotivasi siswanya bersemangat mengikuti PJJ dan tidak membebani psikisnya.

Perlu dipahami, PJJ bukanlah perihal perdebatan menggunakan WhatsApps, Zoom, Google Classroom, Learning Management System, video, atau bahkan HT (handy talkie). Tapi bagaimana guru memberikan pengalaman belajar pada siswa melalui berbagai sarana dan model pembelajaran online. Proses pembelajarannya juga harus mempertimbangkan kebutuhan guru dan siswanya, bukan saling membebani. Guru tidak hanya memberikan tugas jarak jauh, tetapi tetap mendidik, membangun karakter siswa sehingga tetap sehat lahir dan batin.

Kurniawan Adi Santoso guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

(mmu/mmu)