Kolom Kang Hasan

Krisis Pandemi dan Manajemen Risiko

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 11:00 WIB
kang hasan
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Kita saat ini berada dalam situasi krisis. Krisisnya berkepanjangan. Krisis ini bukan hanya menimpa kita, tapi hampir semua negara mengalaminya, dengan berbagai jenis variannya. Tapi fakta bahwa semua negara mengalaminya tidak boleh dijadikan dalih ketika pengelola negara gagal melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka.

Kunci dalam penanganan krisis adalah manajemen risiko. Melalui manajemen risiko kita menghitung risiko apa yang akan kita hadapi, dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Yang terbaik adalah mematikan segenap potensi ancaman sebelum ia pecah menjadi masalah. Kemudian, saat ia sudah jadi masalah, bagaimana menanganinya secara cepat. Kita harus memilih mana masalah yang harus jadi prioritas tertinggi untuk ditangani, dan tindakan apa yang secara jitu bisa menyelesaikan masalah itu secara cepat.

Kita semua telah melihat dan mencatat, ada begitu banyak hal yang sebenarnya bisa diantisipasi, tapi tidak diantisipasi selama krisis ini berlangsung. Yang terakhir adalah soal mengamuknya varian-varian baru Covid-19. Kita melihat India dihantam krisis yang begitu parah. Belajar dari masa awal pandemi, ketika China masih bertarung mengatasi pandemi di Wuhan, seharusnya kita juga sadar bahwa yang terjadi di India akan segera menghantam kita. Tapi langkah-langkah antisipasi tidak diambil, sampai krisis betul-betul menghantam kita.

Contoh sederhananya, vaksinasi. Di bulan Mei sebenarnya kita punya cukup banyak vaksin. Tapi vaksinasi berjalan sangat lambat. Seakan ini kegiatan yang bisa dilakukan pelan-pelan. Padahal krisis sudah di depan mata. Bahkan saat gelombang tsunami varian Delta mulai terasa pun vaksinasi masih terasa sangat seremonial dan birokratis. Setelah benar-benar kepepet barulah prosesnya dipercepat. Padahal tidak ada hal khusus yang diperlukan untuk mempercepatnya. Seharusnya semua itu bisa dilaksanakan sejak dulu-dulu.

Hal lain adalah soal oksigen dan obat. Krisis di India disertai oleh langkanya oksigen. Kita sadar betul soal itu. Kita bahkan mengirim bantuan ke India. Mengirim bantuan itu tidak salah. Tapi mengirim bantuan saja, tanpa menyadari bahwa situasi yang sama sangat mungkin terjadi pula di sini adalah kesalahan besar. Perintah untuk memproduksi tabung oksigen secara darurat baru dilakukan setelah banyak pasien mati kekurangan oksigen. Padahal semua itu bisa dilakukan sejak bulan Mei.

Sementara itu kekacauan soal kebijakan terus terjadi. Vaksinasi Gotong Royong yang sudah dikumandangkan sejak Februari, makin tak jelas juntrungannya. Kini kebijakan sepertinya bergeser ke arah penjualan vaksin, bukan lagi vaksinasi lewat perusahaan seperti kebijakan semula. Kalau itu terjadi, ada begitu banyak kerja sia-sia saat berbagai perusahaan mendaftar untuk ikut Vaksinasi Gotong Royong.

Kenapa bisa begitu? Karena kita memang sangat lemah dalam soal manajemen krisis. Boro-boro bicara soal manajemen krisis yang memerlukan tindakan sebelum sesuatu perlu, dalam hal manajemen biasa pun kita kedodoran. Hal-hal yang seharusnya terlaksana, hal-hal rutin saja tidak terlaksana.

Presiden berulang-ulang mengomel soal tidak jalannya program penanganan krisis ini. Padahal itu adalah program-program yang sifatnya bukan program gerak cepat benar. Semua tertunda karena pelaksananya bergerak lambat, atau terkurung dalam kerangkeng birokrasi yang tak berani mereka lompati.

Di saat kita membutuhkan tindakan-tindakan cepat dan tepat, yang kita saksikan adalah kelambanan dan kekacauan. Krisis makin membesar. Semakin lambat kita bertindak, semakin banyak dan besar volume pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mengatasinya. Sekali lagi, kunci dalam penanganan krisis adalah bertindak cepat dan jitu. Ini yang belum terlihat ada pada berbagai pejabat strategis yang menangani krisis ini.

(mmu/mmu)