Jeda

Protokol Kesedihan

Mumu Aloha - detikNews
Sabtu, 10 Jul 2021 12:15 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seseorang bertanya kepada saudaranya di kampung, di sana lagi musim apa? Dijawab: musim meninggal.

Cerita itu mungkin terdengar karikatural, tapi kita tahu dan bisa merasakan itulah realitas yang kita hadapi hari-hari ini.

Berita kematian berseliweran di udara lewat corong masjid, status Facebook, dan timeline Twitter. Juga menelusup di grup-grup WA dan email kantor. Seperti musuh yang mengintai dan mengepung dari berbagai penjuru, terus merangsek, lalu menyergap, menghantam bertubi-tubi, tiada ampun.

Tak jarang, yang meninggal dunia adalah teman kita sendiri, yang mungkin beberapa minggu lalu masih janjian dengan kita untuk bertemu ngopi-ngopi, tapi karena situasi belum memungkinkan, maka janji tinggal rencana, dan kabar duka justru yang kemudian menyapa.

Seorang gadis lincah dan lucu mendadak menjadi yatim-piatu dalam hitungan tak sampai dua minggu, itu bukan cerita fiksi penguras air mata. Kematian beruntun pasangan suami-istri, atau orangtua, atau ibu dan ayah mertua, terdengar akrab di telinga, dekat sekali, karena menimpa teman-teman kita selingkaran pergaulan atau selingkaran pertemanan di media sosial, dan grup-grup alumni.

Seseorang meng-update perkembangan dari hari ke hari kesibukannya mengurus ayahnya, atau ibunya, yang tengah dirawat di ICU, sedang kritis oleh infeksi virus dan memiliki penyakit bawaan yang mengancam nyawa setiap waktu.

Kehidupan mendadak menjadi seperti lirik lagu Krisdayanti: Menghitung hari/ detik demi detik

Dan setiap detiknya terasa mencekam, menyakitkan, nyaris tak pernah terbayangkan. Kita kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bela sungkawa. Kita tenggelam dalam kubangan air mata.

Seorang dokter yang bertugas sekaligus mengepalai Instalasi Gawat Darurat di sebuah rumah sakit mengulang kembali cerita pada masa awal pandemi, ketika dia harus memilih pasien mana yang diselamatkan karena keterbatasan alat dan fasilitas medis.

Seorang teman pontang-panting mencari ruang perawatan yang tersedia untuk ayahnya, bertanya ke sana kemari, mengumumkan di Twitter, hingga akhirnya mendapatkan titik terang. Namun, tak sampai hitungan 10 jam kemudian, ia memperbarui pengumumannya, mengabarkan bahwa sang ayah sudah meninggal dunia.

Seseorang berdiri dalam antrean panjang pengisian tabung oksigen dengan perasaan tak menentu, sampai semuanya berakhir ketika sang ibu menghampiri dan berkata: Nak, pulang...tidak usah antre lagi, bapak sudah tiada. Anak muda itu pun mengusap air matanya, mengemasi tabungnya, menggandeng tangan ibunya dan pulang dengan lobang menganga di dada.

Seorang teman yang bekerja di industri farmasi menambahi cerita-cerita pilu itu. "Di aku juga mulai lagi. Butuh obat untuk mama saya. Terus habis itu update udah nggak butuh karena sudah meninggal."

Seseorang bisa kehilangan untuk selama-lamanya, adik dan kakaknya sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan. Seseorang kembali ke tempat pemakaman yang sama dalam hitungan hari, kali ini untuk menemani istrinya yang melepas kepergian ibunya, setelah sebelumnya ia ditemani sang istri mengantarkan jenazah ayahnya.

Orang-orang di media sosial saling membagikan puisi Joko Pinurba berjudul Ambulans yang agaknya secara spontan ditulis karena kegelisahannya menghadapi situasi saat ini:

Negara
meraung-raung
menjemput
warganya
yang telantar
dan terlambat
ia selamatkan

Terngiang-ngiang kembali pula larik-larik dari puisi Subagio Sastrowardoyo:

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar

Yang mengajak tertawa

Berhadapan muka seperti lewat kaca bening

-Lihat tak ada batas di antara kita

Lalu kita pun melihat bayangan wajah sendiri di cermin. Pucat. Murung. Marah. Tak berdaya. Hanya mampu menggumamkan kembali kata-kata dalam Alkitab, yang mungkin pernah disampaikan oleh bapak pendeta di gereja tua yang sepi dekat rumah: Mereka tidak akan dapat berduka atas kematian mereka, mereka tidak akan dapat menguburkan mereka yang mati. Mereka tidak akan pergi ke rumah kesedihan.

Kita kehilangan orang-orang terdekat kita, orang-orang yang kita cintai, seperti kita melambai pada orang-orang di balik kaca, kata penyair Gratiagusti Chanaya Rompas. Kita hanya suara yang berkeliaran di speaker HP. Suara yang letih mencari penghiburan, mengingat-ingat nubuat lama, semacam, bukan kematian benar menusuk kalbu/ kerindlaanmu menerima segala tiba.

"Tapi, Tuhan, bukankah ini sudah berlebihan?" Seandainya kita bisa berteriak! Tapi kita menelan kembali suara kita sendiri yang lemah, serak, dan putus asa.

Sebab, kita tahu, Tuhan hanya akan berkata: Masuk ke kamarmu, dan tutup pintumu. Sembunyikan dirimu sampai amarah itu berlalu.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)