Pustaka

Memperbaiki Perilaku dalam Mengelola Keuangan

Ahmad Yazid - detikNews
Sabtu, 10 Jul 2021 11:00 WIB
Memperbaiki Perilaku dalam Mengelola Keuangan
Jakarta -
Judul: The Psychology of Money: Pelajaran Abadi mengenai Kekayaan, Ketamakan, dan Kebahagiaan; Penulis: Morgan Housel; Penerjemah: Zia Anshor; Penerbit: Baca, Mei 2021; Tebal: 238 Halaman

Kepedulian masyarakat kita perihal finansial tampaknya mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mereka melaporkan bahwa pada 2019, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 38,03%. Angka ini naik dibanding 2016 yang hanya sebesar 29,7%.

Peningkatan ini juga terlihat dari semakin banyaknya informasi dan edukasi mengenai keuangan yang muncul di berbagai media. Di media sosial, ada banyak akun yang membahas tentang bagaimana mengatur dan merencanakan keuangan. Begitu pula di media cetak, baik itu dalam bentuk majalah dan buku.

Bicara tentang buku, baru-baru ini ada satu buku yang cukup populer tentang keuangan. Buku tersebut berjudul The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel. Ia merupakan mantan kolumnis di The Wall Street Journal dan The Motley Fool (perusahaan yang memberikan nasihat keuangan dan investasi). Berbeda dengan buku-buku finansial lainnya, buku yang telah mendapat predikat international bestseller ini berfokus pada aspek yang lebih mendasar, yaitu tentang bagaimana psikologi manusia ketika berhadapan dengan uang.

Pengambilan sudut pandang yang demikian bermula ketika ia menulis pertama kali tentang keuangan pada 2008. Saat itu krisis ekonomi tengah berkecamuk. Terhadap bencana tersebut, para ahli cenderung menganalisisnya dengan menggunakan teori dan hukum ekonomi semata. Akibatnya, penjelasan mereka menjadi terlampau mekanistik dan abai terhadap watak manusia sebagai pelaku utama.

Bagi Housel, jawaban mereka yang demikian itu akhirnya menjadi kurang memuaskan. Ia lalu mengajukan tesis yang berbeda; ia meyakini bahwa akar permasalahan ekonomi sejatinya terletak pada perilaku dan sistem berpikir manusia (psikologis). Pandangannya tersebut bertahan hingga sekarang, dan premis buku ini ialah tentang itu.

Housel mengatakan, "Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan Anda dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku Anda." Dalam kasus yang lebih konkret, ia menjelaskan, "Untuk memahami mengapa orang terjebak utang, Anda tak perlu belajar suku bunga; Anda perlu belajar sejarah ketamakan, kegelisahan, dan optimisme."

Jadi, memahami psikologi manusia ketika menggunakan dan mengelola uang merupakan hal fundamental sebelum kita berbicara mengenai strategi dan teori keuangan.

Kaya dan Kekayaan
Buku ini terdiri dari dua puluh bab. Tulisan dalam setiap babnya ringkas, sederhana, dan sering dibubuhi dengan cerita. Gaya tulisan yang demikian membuatnya menjadi mudah untuk dipahami. Meski begitu, tulisannya ditopang dengan argumen-argumen yang cukup kuat.

Pertama-tama, dalam buku ini Housel menjelaskan bahwa setiap orang memiliki set nilai yang berbeda tentang cara kerja uang. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pengalaman, situasi, dan kondisi kehidupan mereka. Oleh karena itu, kita dapat melihat betapa beragamnya cara manusia dalam memandang dan mengelola uang mereka. Bahkan, perilaku mereka bisa terlihat tidak masuk akal dibanding dengan pilihan kita ataupun orang lain. Begitu pula sebaliknya.

Hal mendasar lainnya yang penting dari buku ini ialah ketika berbicara mengenai fungsi uang. Saat kita berupaya mengumpulkan uang, yang sejatinya ingin kita miliki ialah waktu dan pilihan. Apabila kita memiliki persediaan uang yang cukup, kita lantas punya kendali atas waktu. Kita juga menjadi bebas untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan. Oleh karenanya, kita perlu memiliki kekayaan. Namun, harus diketahui terlebih dahulu bahwa Housel membedakan antara apa itu "kaya" dan "kekayaan".

Ini menarik. Bagi Housel, kaya "merujuk pada pendapatan sekarang." Sementara kekayaan ialah "pendapatan yang tak dibelanjakan." Kaya terkait erat dengan apa yang terlihat: rumah, kendaraan, perhiasan, dan sebagainya meskipun itu semua hasil dari utang. Sebaliknya, kekayaan merupakan aset finansial yang tak terlihat dan belum menjadi barang.

Ketika kita selesai dengan konsep kaya dan kekayaan, kita jadi tahu bahwa yang mesti diraih sebenarnya ialah kekayaan, bukan kaya. Sementara itu, untuk bisa mencapai kekayaan, diperlukan kemampuan untuk menahan diri, bersedia menabung, dan berinvestasi. Bukan malah menghambur-hamburkan uang yang didapatkan hanya untuk terlihat kaya di hadapan orang lain.

Untuk bisa sampai pada tahap itu, kita mesti tahu batas, alias tahu kapan harus berkata cukup. Dengan merasa cukup, kita akan terhindar dari hasrat untuk berlebih-lebihan dalam menggunakan uang. Dengan merasa cukup, kita dapat melihat secara jernih mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang tidak. Sehingga, sisa uang yang tidak digunakan dapat menjadi dana tabungan dan investasi.

Ketika kita hendak melangkah ke tahap menabung dan berinvestasi, kita mesti yakin terhadap kekuatan penumpukan. Housel menyarankan bagi siapa saja yang hendak menabung dan menginvestasikan uangnya untuk memiliki kepercayaan ini. Ia mencontohkan bagaimana Warren Buffet, investor yang terkenal itu, kesukesannya dalam dunia investasi didasarkan pada kekonsistenannya. Buffet sudah memulai semuanya sejak kecil. Lamanya waktu yang ia jalani inilah yang melahirkan penumpukan. Dan penumpukan itulah yang kemudian memberinya kekayaan.

Ini juga berlaku dalam menabung. Kata Housel, menabung bukan tentang besarnya nilai nominal yang kita masukkan, melainkan kekonsistenan kita. Meski uang yang ditabung nilai nominalnya kecil, jika konsisten, penumpukan akan terjadi.

Pada akhirnya, beberapa perilaku itu perlu ditumbuhkan demi mencapai kekayaan. Sementara itu, apabila perilaku kita berkebalikan dengan yang di atas: tidak pernah merasa cukup, senang pamer, dan tidak percaya pada penumpukan, kacaulah kondisi keuangan kita.

Kekayaan perlu dicapai agar kita punya kendali atas kehidupan kita. Atas apa yang ingin kita kerjakan. Atas waktu yang ingin kita gunakan. Karena manfaat inilah yang membuat hidup kita menjadi lebih bahagia dan sejahtera. Jangan sampai keuangan kita lemah sehingga kita tidak mendapatkan keuntungan di atas. Namun, jangan pula keinginan untuk menimbun kekayaan menjadi berlebihan sehingga fungsi dari uang tidak dapat kita rasakan.

Dalam buku ini, masih banyak lagi perilaku dan sistem berpikir yang mesti kita miliki untuk menjadi pengelola keuangan yang baik. Misal, bagaimana sebaiknya kita melihat keberhasilan dan kegagalan, menyikapi labilnya kita dalam kehidupan dan keuangan, hingga mengantisipasi gemarnya kita meniru perilaku orang lain dalam menggunakan uang (khususnya ketika berinvestasi).

Akhirnya, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kondisi keuangan mulai dari level yang paling dasar, yaitu dari perilaku dan sistem berpikir kita. Selamat membaca.

Ahmad Yazid
pengajar di IAIN Pontianak

(mmu/mmu)