Kolom

Mengapresiasi Diri di Tengah Pandemi

Martinus Joko Lelono - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 13:00 WIB
Woman staying home for safety during coronavirus pandemic and observing empty city
Foto ilustrasi: Getty Images
Jakarta -

Hari-hari ini ketika kita sama-sama merasakan betapa ngerinya gelombang kesekian dari Covid 19. Kita dibuat kembali tanpa daya. Pengharapan yang timbul oleh karena berbagai kelonggaran yang mulai diberikan seiring terkendalinya Covid-19, kini mulai kembali harus direnggut dari diri kita. Situasinya makin tidak terkendali mengingat orang yang terkena itu tak jauh lagi. Mereka adalah tetangga sebelah rumah, saudara sekandung atau bahkan pasangan hidup.

Tak bisa lagi dikatakan Corona Virus itu jauh mengingat tak sedikit dari kita pernah mengalami, sedang mengalami, atau meski tak berharap punya kemungkinan besar akan mengalaminya pada hari-hari esok. Berbagai sinar pengharapan soal sekolah tatap muka, ibadat bersama atau sekadar makan malam bersama di luar yang menjadi harapan bersama, kini kembali diambil dari diri kita. Orang mengatakan, "Entah kapan lagi hal itu akan terjadi!"

Dalam bahasa Yunani, terdapat dua cara melihat perjalanan waktu: kronos dan kairos. Kata kronos menunjuk pada urutan (kronologi). Artinya, satu kejadian itu sekadar dilihat sebagai situasi yang terjadi setelah suatu kejadian dan sebelum kejadian selanjutnya. Sedangkan kairos berarti "waktu yang tepat" atau "suatu periode waktu". Kairos menunjuk bahwa suatu kejadian bukan hanya satu di antara yang lain, tetapi selalu ada yang istimewa dari suatu kejadian.

Pandemi Covid-19 memiliki karakteristik yang berbeda dari berbagai bencana yang lama. Dalam situasi yang demikian, banyak yang berharap bahwa situasi ini bisa segera berlalu sehingga kita bisa memulai sesuatu yang baru. Faktanya, pandemi yang bertahan lama memaksa kita untuk memberi makna kepada pandemi ini, tanpa buru-buru memikirkan "hari pembebasan dari pandemi". Mengharapkan peristiwa ini segera berlalu rasa-rasanya terlalu naif. Benar kata beberapa ahli bahwa kita harus beradaptasi dan siap menjalani normalitas baru.

Beberapa Pemaknaan

Pada 23 Maret 2021, Pemerintah Inggris menyatakan hari refleksi atas pandemi Covid-19. Dalam pidatonya, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan, "Setelah melewati tahun yang terberat dalam sejarah pelayanan kesehatan ini, kita perlu merefleksikan pandemi ini secara mendalam, menangisi mereka yang pergi, dan menandai pelayanan dan pengorbanan para tenaga medis. Inilah kesempatan untuk melihat bahwa dalam situasi ini kita melihat ketangguhan, baik sebagai teman, tetangga dan masyarakat yang sama-sama berjuang dan saling membantu melewati masa paling berat sejak Perang Dunia Kedua ini."

Di negeri kita sendiri, segala upaya untuk mencoba menjaga semangat juang bangsa ini rasa-rasanya tidak kurang-kurang. Lagu Demi Raga yang Lain yang dibawakan Eka Gustiwana menjadi begitu viral pada awal masa pandemi. Penghargaan akan upaya "jaga tangga" (menjaga tetangga) yang terus diupayakan kala itu menjadi sebuah cara untuk menghargai kehidupan orang lain. Namun, rasanya kita tidak begitu kuat. Harus diakui, pandemi ini begitu melelahkan.

Kita dibuat lelah oleh virus yang tidak kenal lelah. Dalam situasi yang melelahkan ini, teramat sering kita menyakiti diri kita dengan terus menerus menghakimi kesalahan kita. Perlu ada waktu bagi kita untuk mengapresiasi diri kita, menangis kalau memang harus menangis, dan berharap akan hari esok yang lebih baik. Izinkan saya mengantar kita semua untuk mengapresiasi perjuangan kita dalam empat ungkapan: terima kasih; selamat jalan; maaf; dan menatap pengharapan.

Terima Kasih

Kita semua tahu kepada siapa kita harus mengucapkan terima kasih berhadapan dengan situasi pandemi ini. Tentu terima kasih kepada para tenaga medis yang paling terkuras kebebasannya di antara situasi yang serba tidak pasti. Tak jarang mereka harus bekerja ekstra, pakaian ekstra yang memberatkan, dan juga risiko terpapar yang begitu besar. Tentu mereka tidak sempurna, tetapi kepada mereka dan segala pengorbanan yang mereka wujudkan dalam tindakan nyata menghadapi risiko profesi mereka, kita angkat topi kepada mereka.

Terima kasih pula kita haturkan kepada para Gugus Tugas Covid di mana pun berada. Perjuangan mereka untuk mulai menemukan jalan-jalan bagi penanganan pandemi ini rasa-rasanya membuat kita masih bisa bertahan sampai hari ini. Segala upaya untuk mendapatkan berbagai pengobatan terbaru, vaksin, dan berbagai upaya menjamin penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak rasa-rasanya tak bisa kita abaikan.

Berbagai karya di balik layar tampaknya menjadi bentuk pelayanan mereka. Bersyukur untuk mereka yang memakamkan jenazah, mereka yang mengirimkan vaksin, dan berbagai upaya di lapangan yang seringkali luput dari pemberitaan.

Terima kasih juga kepada mereka yang dengan berbagai caranya membantu para saudara yang sedang mengalami kesulitan sebagai warga terdampak. Negeri ini terbukti menjadi negeri yang kuat karena budaya gotong royong yang memungkinkan untuk secara suka rela membantu saudara yang mengalami kesulitan.

Satu ungkapan terima kasih yang tak boleh terlupa adalah terima kasih untuk diri kita sendiri. Dalam situasi ini, penting bagi kita untuk menghargai perjuangan diri kita yang dalam bentuk apa telah terlibat di dalam bantuan kepada sesama di masa pandemi. Paling tidak upaya kita dalam menjaga protokol kesehatan adalah sebentuk persembahan kita untuk negeri. Sebagai pribadi kita sudah merelakan berbagai bentuk perayaan yang biasa menjadi oase kedamaian batin, tetapi kini harus ditunda.

Diri kita dikuras oleh berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh karena naik turunnya situasi Covid. Rasanya, orang-orang di negeri ini pantas diberi ucapan terima kasih. Kalau orang lain tak sempat berterima kasih kepada diri kita, paling tidak kita bisa berterima kasih dan tak selalu menyalahkan diri kita sendiri.

Selamat Jalan

Di antara berbagai perjuangan di dalam pandemi ini, perjuangan yang paling nyata adalah perjuangan mereka yang mengalami sakit akibat paparan virus ini. Rasanya kita hanya bisa mengucap "selamat jalan" kepada mereka yang sudah berpulang karena pandemi ini.

Kita kehilangan putra-putri bangsa, saudara-saudari kita sebangsa dan setanah air. Sampai 28 Juni 2021 jumlah mereka ada 57.561 orang yang berpulang. Mereka itu adalah para bapak, ibu, saudara, anak, teman, sahabat, kakek, nenek, paman, tante, ataupun rekan kerja. Mereka juga datang dari berbagai profesi: pemimpin pemerintahan, pemimpin agama, pekerja di bidang kesehatan, para guru, psikolog, juru masak, ibu rumah tangga, dan berbagai profesi lainnya.

Ada di antara mereka yang sudah pasrah karena situasi fisiknya yang sudah membawa banyak komorbid, tetapi juga ada yang masih punya harapan untuk kembali sehat, tetapi nasib menentukan lain. Di balik setiap kematian, ada tangis perpisahan, meski juga haru kekaguman atas kisah hidup yang sudah terjadi.

Sayangnya kepada kita hari-hari ini hanya ditampilkan begitu saja jumlah mereka yang berpulang, padahal di balik kematian itu ada kisah perjuangan untuk memaknai kehidupan yang pernah mereka jalani. Sembari sujud bermohon kepada Tuhan demi kedamaian mereka, kita ucapkan "selamat jalan" kepada mereka dan berbisik, "Terima kasih sudah pernah berbagi hidup dengan kami di negeri ini."

Maaf

Tentu kita berharap berharap bahwa kita bisa saling mendukung dalam situasi sekarang ini. Pasti ada harapan untuk menghadapinya sebagai sarana untuk menyadari bahwa kita juga ingin berkurban bagi yang lain. Namun, kebosanan, keinginan untuk bebas, dan berbagai alasan lain menjadikan kita mengatakan, "Ini begitu berat dan kita ingin lari." Kita abai kepada protokol kesehatan yang sebenarnya jauh lebih ringan dari para tenaga medis.

Ah, maafkan kami yang kadang lalai protokol kesehatan, lalai menjaga diri kami dan keluarga kami, dan berbagai hal yang membuat situasi menjadi runyam dan bahkan berakhir pada kematian. Maaf, dan mari berjuang bersama menghadapi semua ini agar akhirnya semua bisa berjalan ke depan dengan pengharapan bahwa kami bisa belajar dari pengalaman ini sembari berharap "hari pembebasan" itu datang.

Menatap Pengharapan

Di tengah berbagai upaya untuk mengapresiasi perjuangan kita sebagai bangsa, kita diundang untuk melihat adanya pengharapan. Pengharapan itu ada di dalam berbagai upaya menangani mereka yang sakit, mencegah munculnya kluster baru, dan semakin taatnya masyarakat kepada protokol kesehatan.

Pengharapan itu ada di dalam berbagai upaya baik yang terus kita buat untuk saling mendukung satu yang lain. Pengharapan itu muncul dari kesadaran bahwa tak perlu menunggu pandemi berlalu sebelum kita melihat bahwa ada begitu banyak kebaikan yang terjadi di sekitar kita.

Kebaikan itu tak hanya terjadi dulu ketika pandemi belum ada, atau besok ketika pandemi sudah berlalu. Kebaikan itu terjadi juga hari ini. Di sinilah kita memaknai waktu bukan sekadar sebagai kronologi, melainkan sebagai kairos --bukan sekadar rentetan peristiwa, tetapi perjalanan yang di setiap perhentiannya memberi kita pelajaran kehidupan. Dalam kacamata pengharapan, kita melihat ada alasan untuk mensyukuri hidup kita hari ini.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik di Yogyakarta

(mmu/mmu)