Kolom

Para Penjaga Prokes di Tengah Ketidakpercayaan yang Sepele

Ahmad Baharuddin Surya - detikNews
Selasa, 06 Jul 2021 15:00 WIB
Kampanye bahaya COVID-19 dan ajakan menerapkan protokol kesehatan terus dilakukan lewat karya jalanan seperti mural.
Kampanye protokol kesehatan lewat mural (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Persoalan menjaga kesehatan wajib hukumnya bagi semua orang. Di tengah pandemi seperti sekarang ini, kesehatan menjadi hal paling mutlak yang wajib kita jaga bersama-sama. Tidak hanya kesehatan pribadi, melainkan kesehatan orang di sekeliling kita juga perlu diperhatikan. Karena yang namanya virus menular, selain menjaga kesehatan, cara membentenginya adalah dengan saling menjaga agar sama-sama tidak tertular. Entah bagaimanapun itu cara menjaganya.

Setiap orang punya cara sendiri menjaga kesehatannya. Begitupun dengan saya. Di tengah kesibukan yang tak terkira, saya juga termasuk orang yang punya cara tersendiri dalam menjaga kesehatan. Meskipun beda dengan orang lain, namun saya sendiri punya usaha untuk menjaga tubuh agar tetap stabil di tengah-tengah padatnya aktivitas. Di dalam insting tubuh, awalnya saya menerapkan indikator kesehatan individualistik. Itu gunanya agar tubuh saya mempunyai daya rangsang yang cukup kuat. Ketika sakit itu datang, pikiran saya langsung memberi sinyal ke semua organ tubuh, apakah dengan sakit yang datang itu masih bisa digunakan untuk beraktivitas.

Ada semacam indikator sendiri mengenai kondisi tubuh seperti apa ketika saya harus memaksa keluar dan beraktivitas. Kalau pun pikiran memberi informasi jika tidak bisa diganggu, maka organ saya akan kompak tidak mau dibuat ke mana-mana. Kondisi itu terjadi jika tubuh memang benar-benar sakit dan lemas. Kadang jika masih di tahap gejala sakit, belum sakit sungguhan, otak selalu beraksi sesegera mungkin mengajak ke luar sebelum sakitnya tambah parah.

Tetapi kalau dipikir-pikir metode seperti itu salah besar. Gejala sakit justru perlu diantisipasi supaya tidak terlalu parah. Caranya tetap di rumah saja, karena meski masih gejala, tetapi gejala itu tentu ada virus yang kemungkinan besar bisa menular ke orang lain. Kasihan orang yang sebelumnya tidak sakit apa-apa, kemudian karena saya tidak peduli kesehatan diri sendiri, akhirnya mereka bisa turut ikut merasakan sakit juga.

Tapi untuk masa pandemi ini, dibanding dengan urusan lain, kesehatan adalah prioritas utama saya. Sebab, apabila sakit sudah melanda, pekerjaan lain akan terganggu penggarapannya. Belum lagi orangtua di rumah, hukumnya wajib menjaga kesehatan mereka, dengan cara peduli terhadap kesehatan pribadi.

Saya merasa sangat prihatin ketika melihat kabar pemberitaan media yang menyebutkan orangtua sangat berpeluang besar terkena Covid-19. Ada yang mereka sama sekali tidak pernah keluar rumah, tapi saat anaknya pulang dari luar kota, mereka tiba-tiba terjangkit virus. Bahkan kabar terakhir yang saya baca beberapa hari lalu, ada anak menyengaja tertular virus agar dia bisa menjaga orangtuanya di ruang isolasi, karena sesaat sebelumnya, orangtuanya terkena terlebih dahulu.

Beberapa teman di sekeliling saya juga ada satu-dua orang yang hampir tidak percaya dengan Covid-19 ini. Alasannya cukup kuat, tidak bisa digoyahkan oleh alasan apapun dan dari mana pun. Ia sangat kuat memegang prinsip keilmiahan. Padahal ibu dan kakak laki-lakinya sudah tertular, tetapi sampai tulisan ini saya buat, ia masih canggung mempercayai keberadaan virus itu.

Alasan paling logis menurutnya adalah karena selama ini tidak ada uji lab yang mampu membuktikan virus itu. Saya juga tidak bisa mengelak dan membantah, lantaran saya tidak begitu paham ada atau tidak uji lab yang membuktikan keberadaan Covid-19 tersebut.

Dalam menghadapi pikiran sejenis itu, saya mempunyai cara sendiri menghadapinya. Cara ini sangat halus dan cenderung sangat tidak frontal. Soal kepercayaan, saya tidak bisa membantah alasan dia. Toh saya juga tidak ahli menjelaskan keberadaan Covid-19. Saya hanya diam mendengarkan, lebih-lebih saya tanggapi dengan sikap santai dan kalem.

Cara pandang saya cukup realistis kalau melihat sesuatu. Dipercaya atau tidak, saya selalu melihat Covid-19 dari perspektif korban yang terpapar. Bagaimana mereka berjuang mempertahankan napasnya agar tetap ada. Bagaimana mereka berjuang di dalam komplikasi penyakit yang bermacam-macam. Mereka pasti sakit menanggung penderitaan itu. Mereka harus menjaga dirinya sendiri di ruang isolasi tanpa ditemani keluarga.

Sekali lagi, dipercaya atau tidak, rumah sakit di mana-mana penuh. Banyak rumah sakit yang sudah tidak bisa lagi menampung pasien dengan gejala Covid-19. Beberapa rumah sakit dekat rumah saya juga sudah memberi edaran kalau tidak bisa menerima pasien lagi. Ada yang terlantar di luar ruangan UGD. Ada juga mereka ditangani di luar ruangan rumah sakit dengan beralas hanya kasur kecil dan tabung oksigen satu-satu. Miris rasanya.

Belum lagi pasien-pasien lain di luar kasus Covid-19. Mereka juga butuh penanganan darurat. Seperti ibu hamil, korban kecelakaan, serangan jantung, dan jenis kasus lain. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tragisnya mereka harus menunggu lama hanya sekadar antre kamar. Iya kalau hanya menunggu kamar, bagaimana kalau antre menunggu penanganan dokter? Pertaruhannya bukan lagi sakit, tapi antara hidup dan mati. Setidaknya kita bisa turut prihatin atas kondisi semacam itu. Acuh tak acuh kadang sedikit perlu, tetapi untuk urusan kesehatan, kita harus sedikit belajar menghilangkan ego itu demi kesehatan bersama.

Ambulans pembawa pasien Covid-19 juga masih seliweran di jalanan. Petugas pemadam kebakaran tetap setia menyemprot desinfektan ke perkampungan warga secara berkala. Andaikan orang tetap tidak percaya, coba main ke rumah sakit, bukti itu nyata. Mereka yang terpapar Covid-19 nyata adanya.

Teman saya yang sedikit agak percaya pun ada. Mengapa saya mengatakan sedikit percaya? Karena dia awalnya kurang percaya. Dulu waktu awal-awal Covid-19 datang ke Indonesia, sikap dia cukup percaya, tapi bukan full percaya. Sikapnya sangat tenang. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak terlalu histeris menyikapi itu. Kadar percayanya setengah-setengah.

Namun waktu gejolak Covid-19 "gelombang kedua" ini, sikapnya terlihat gugup. Ke-"parno"-annya meningkat lebih tinggi dari ketenangannya. Dulunya ketika beraktivitas di luar, ia tenang-tenang saja. Sekarang hanya untuk keluar membeli sesuatu pun ia sangat memenuhi protokol kesehatan. Dari mencuci tangan, memakai masker, sampai di sakunya membawa hand sanitizer kecil. Kesadarannya baru muncul saat ia peduli dengan kesehatan anak-anaknya di rumah yang masih kecil-kecil.

Penyikapan datangnya Covid-19 setiap masing-masing orang berbeda-beda. Cuma yang saya takutkan dari ketidakpercayaan itu justru mengakibatkan kerugian untuk orang lain. Janganlah seperti itu. Saya merasa sangat risih terhadap orang yang sangat tidak menjaga protokol kesehatan, karena apabila orang yang tidak menjaga prokes itu terkena Covid-19, maka lingkaran tertularnya adalah orang lain di sekitarnya. Kasihan, mereka sudah sangat menjaga kesehatan, namun dipatahkan dengan hal-hal yang sangat sepele.

Lamongan, 29 Juni 2021

Ahmad Baharuddin Surya aktivis muda NU, tinggal di Lamongan

(mmu/mmu)