Kolom

"Herd Stupidity" dan Ketidaknyamanan Sosial

Lina Prabawanti - detikNews
Selasa, 06 Jul 2021 14:22 WIB
Ilustrasi gowes
Foto ilustrasi: freepik
Jakarta -

Akhir pekan lalu, ketika sedang gowes pagi sendirian sambil asyik melamun, saya dikejutkan oleh rombongan pegowes di depan saya yang menggayuh sepeda mereka dengan sangat perlahan dalam formasi horisontal hingga memblokir lebih dari setengah badan jalan.

Situasi yang rumit, karena saya harus sedikit ngebut kalau mau nyalip, padahal ketika saya lirik sekilas beberapa di antara mereka tidak bermasker. Selain risiko tersambar kendaraan dari sisi kanan, saya lebih ngeri terpapar sisa doplet dari rombongan pegowes yang asyik bercanda sambil tertawa-tawa itu.

Salah seorang dari mereka, yang terlihat paling sepuh dan tampaknya pentolan acara itu, sibuk mengomando pasukan gowesnya agar tak jauh-jauh dari dirinya. Alhasil formasi horisontal itu pun terus bertahan hingga ujung jalan dan anggota rombongan yang lebih muda, yang mestinya bisa lebih gesit dan trengginas pun terpaksa mengikuti iramanya.

Bikin Runyam

Istilah herd stupidity tengah marak belakangan ini. Digaungkan sebagai bentuk sinisme atas belum tercapainya herd immunity yang sempat dengan sangat positif diharapkan menjadi solusi berakhirnya periode pandemi bersamaan dengan dimulainya distribusi vaksin beberapa waktu yang lalu.

Sindiran ini niatnya memang ditujukan kepada pemerintah yang dianggap sedikit abai terhadap penanganan covid karena lebih terfokus pada pemulihan sektor ekonomi. Namun demikian, melihat perilaku komunal seperti rombongan pegowes di atas, apakah bukan masyarakat kita yang justru berkontribusi dalam hal terbentuknya herd stupidity?

Saya ingat cerita lawas Abu Nawas ketika mengatakan bahwa hanya orang baik yang bisa melihat surga dan bidadari di dalam topi butut miliknya. Ketika topi itu diperlihatkan kepada raja, terbeban dengan stigma 'orang baik' yang ingin dijaganya, maka dengan penuh keyakinan sang raja pun mengiyakan hal yang mustahil itu. Akibatnya, dengan stimulasi statement sang penguasa, semua orang yang melihat topi butut itu pun akhirnya mengatakan hal yang sama. Surga dan bidadari tampak menari-nari di sana. Padahal sebenarnya tidak ada apapun selain jejak keringat dan sisa-sisa keusangan belaka.

Ketika semua orang mengatakan ketidakbenaran yang sama yang kemudian secara kolektif dianggap sebagai kebenaran, pada saat itulah herd stupidity bermula. Meskipun jauh di lubuk hati pasti akan terasa janggal dan menganggap kebenaran kolektif itu sebagai hal yang tak masuk akal, biasanya tak ada keberanian untuk menyangkal.

Berbeda memang seringkali membuat canggung. Apalagi berbeda pendapat dengan orang dari strata sosial yang tidak linier. Seorang murid yang mendapat penjelasan salah dari gurunya, atau staf di kantor yang berbeda pendapat dengan manajernya, mungkin hanya bisa menyimpan kegundahan dalam hati saja. Meskipun kita tidak mengenal kasta, namun tingkatan sosial ini nyatanya masih ada.

Urusan pakewuh atau ketidaknyamanan sosial memang sering bikin runyam. Saya sendiri pernah kesandung gara-gara urusan ini. Waktu itu saya bertugas menemani atasan melakukan negosiasi suatu proyek. Atasan saya memang orang yang cukup dominan sehingga sepanjang pertemuan dengan klien, mulai dari presentasi hingga negosiasi dimonopoli oleh atasan.

Maka ketika atasan menyebutkan sederet angka sebagai penawaran kepada klien, saya tidak berani angkat bicara meskipun dalam hati merasa heran. Menurut perhitungan saya, angka itu jauh di bawah harga wajar yang mestinya ditawarkan, tetapi mengoreksi atasan di depan klien kok rasanya sungkan. Belakangan saya menyesali kebodohan itu, karena kesalahan harga yang diberikan atasan ternyata berbuntut sangat panjang hingga membuat saya menderita berbulan-bulan kemudian.

Ketidaknyamanan sosial ketika berbeda pendapat dengan atasan atau pemuka masyarakat yang disegani bisa terjadi karena latar belakang keharusan bersikap santun yang telah mendarah daging dan diyakini sebagai kewajaran perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya. Tingkatannya bisa berbeda-beda. Dimulai dari level terendah yang sekedar sungkan membantah di depan atasan namun tetap menggerutu di belakangnya, sampai ke titik paling ekstrem ketika seseorang menjadi teramat patuh bahkan terhadap perintah yang tak masuk akal. Kita sudah melihatnya sendiri dalam diri pelaku terror bom bunuh diri beberapa waktu yang lalu.

Cukup Cerdas

Masyarakat kita sebenarnya cukup cerdas untuk sekadar menimbang argumen dasar, terlebih dengan berlimpah ruahnya data yang bisa diakses dengan sangat mudah. Hanya bermodal ketersediaan kuota dan kelincahan jemari, siapapun kini bisa melakukan verifikasi. Namun siapa yang mau repot mengakses internet hanya demi sebentuk klarifikasi? Mengikuti pergerakan arus informasi yang memang serba cepat, serta kekhawatiran menyimpan berita basi, maka alih-alih melakukan verifikasi, yang ada adalah segera menggerakkan jemari untuk mem-forward informasi.

Trump dan polemiknya hingga saat ini masih menjadi pembahasan di kalangan akademisi terkait kesuksesan kasus herd stupidity yang bahkan membawanya hingga puncak tertinggi. Bila di negara semaju Amerika saja masih bisa terjadi penyimpangan opini berstandard deviasi cukup besar, apalagi dalam kultur masyarakat Indonesia yang budaya ewuh pekewuh atau serba sungkannya masih sangat kental.

Saatnya bertanya pada diri apakah kita mau menjadi manusia bodoh yang dengan mudah dibodoh-bodohin untuk menularkan kembali kebodohan kepada orang lain yang lebih bodoh? Ah, daripada mengumpati rombongan pegowes yang seenaknya memblokir jalan tadi, akhirnya saya memilih memasang headseat dan mendengarkan lagu lama Ada Band sambil bersenandung sendiri: Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh....

Margaretha Lina Prabawanti karyawan swasta, penggerak literasi asuransi, berdomisili di kawasan penyangga ibu kota

(mmu/mmu)