Jeda

Menjadi Generasi yang Selalu Dituntut

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 04 Jul 2021 11:27 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seseorang bengong memandang saya ketika saya bilang padanya bahwa umur saya 30 tahun. Saya sudah ke-GR-an karena saya pikir dia sedang menganggap saya imut atau awet muda. Tapi ternyata saya terlalu berbaik sangka.

"Kamu sudah 30 tahun dan belum punya tempat tinggal tetap gitu? Gajimu besar lho, buat nyicil rumah gitulah. Jangan buat hura-hura terus," katanya entah heran entah mengejek entah menghakimi.

Saya tidak mau memperpanjang obrolan karena terlalu malas dan membuang energi tubuh saya yang kebetulan sedang kurang fit. Jawaban diplomatis dengan meminta doanya saja agar dilapangkan rezeki untuk membeli rumah menjadi pilihan saya untuk memutus obrolan. Saya pikir mau sepanjang apapun saya menjelaskan, orang tipe begini akan tetap bebal juga.

Mungkin benar gaji saya menurutnya besar, setidaknya dari orang-orang seumuran saya yang dia kenal. Tapi dia hanya fokus kepada pemasukan. Dia sedikit pun tidak mempertimbangkan pengeluaran. Gaji saya boleh besar menurutnya, tapi berapa orang yang menjadi tanggungan saya? Orangtua yang butuh pengobatan terus menerus, jatah baju Lebaran dan THR buruh-buruh tani, cicilan ini-itu dan biaya endebre-endebre lainnya. Lah giliran saya dapat rezeki lebih buat mentraktir teman-teman makan bakpia sudah dibilang hura-hura. Dibilang tidak bisa menabung untuk beli rumah. Huh, dasar orang tidak paham investasi silaturahmi.

Saya punya teman baik, gajinya tiga kali lipat besarnya dibanding gaji saya. Tapi dia hampir tidak bisa menabung. Ada tiga adik yang harus ia sekolahkan, ada orangtua yang harus ia tanggung biaya pengobatannya. Teman saya sampai sambat karena tahun ini dia harus membayar biaya masuk perguruan tinggi dan biaya masuk SMA adiknya. Biaya kuliah semakin mahal. Itu baru biaya kuliah saja, belum biaya tinggal dan biaya hidup serta biaya praktikum. Orang yang tidak paham kondisinya memang sering mengatakan teman saya ini gajinya besar, tapi hanya habis untuk ngopi saja. Gaji sebesar itu harusnya sudah punya rumah sendiri, apalagi masih singel.

Ya, kami ini singel hanya status saja di masyarakat, tapi tanggungannya ya melebihi keluarga berencana dua anak cukup. Teman saya senasib dengan saya sebenarnya. Giliran mumet dengan hidup dan mlipir dengan ngopi, eh dibilang anak milenial uangnya habis untuk ngopi. Andai saja orang-orang itu tahu bahwa ada orang-orang yang pemasukan besar, tapi tanggungan hidup juga besar.

Menjadi generasi yang banyak dituntut memang menyebalkan. Generasi milenial disuruh punya uang 100 juta sebelum 25 tahun, disuruh punya rumah sebelum umur 40 tahun, disuruh lulus magister sebelum 30 tahun, dituntut pintar segala hal, tapi tidak sedikit yang digaji rendah, pekerjaan banyak tuntutan, biaya hidup tinggi, harga tanah dan properti yang semakin tak terbeli. Apalagi jika di saat pandemi seperti ini.

Boro-boro punya uang 100 juta atau punya rumah dan punya tabungan banyak. Masih hidup saja sudah syukur. Hidup saja banyak yang mentalnya kena. Itu saja masih sering disalahkan karena dibilang generasi gampang mengeluh; generasi yang disalahkan karena tidak bisa ini-itu.

Bayangkan generasi yang hidup di masa pandemi. Punya uang sedikit untuk beli masker, ada lebihan sedikit untuk beli obat vitamin yang harganya ratusan ribu. Itu juga kalau tidak langka dan naik berkali-kali lipat harganya. Giliran ada pemasukan besar, eh untuk swab antigen dan PCR, begitu saja terus. Beberapa teman memilih tidak masuk kerja dengan izin sakit biasa tanpa swab PCR karena biaya swab PCR tidak ditanggung kantor. Belum efek keruwetan yang ditimbulkannya.

Ada juga teman yang kantornya menanggung biaya swab PCR, tapi malah banyak yang berharap positif Covid agar mereka bisa istirahat. Bisa dibayangkan seberapa toksiknya lingkungan kerja sampai mereka lebih memilih untuk positif Covid agar bisa istirahat! Meski mereka juga mengaku, ketika sedang isolasi mandiri gaji mereka habis untuk biaya makan, jasa antar barang, beli obat, dan lain-lain. Sehat memang mahal, tapi sakit lebih mahal lagi.

Ketika saya dan sekeluarga sakit, saya tidak bisa istirahat begitu saja. Selain masih ada tanggungan bekerja dari rumah, saya masih harus mencuci baju, mencuci piring, masak nasi, mengepel, dan membersihkan segalanya. Belum cukup, saya juga harus merawat ibu yang juga sakit dan sungguh membuat emosi ketika rewel. Rasanya antara kombinasi marah, capek, dan memaki-maki keadaan. Kondisi yang hanya dimengerti oleh sesama orang yang merawat orangtua yang rewel dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak dirawat juga tidak mungkin wong bagaimanapun tetap orangtua.

Imun bisa meningkat kalau kita bahagia dan senang, tapi sungguh berbahagia dalam kondisi seperti ini sangat tidak mudah. Teman saya boleh tidak punya tanggungan merawat orangtua, tapi dia punya atasan yang super menyebalkan. Kalau saya sakit, atasan saya masih sangat memaklumi untuk tidak menanyakan laporan. Kalau perlu malah ditransfer uang. Tapi tidak dengan teman saya. Ketika dia harus isolasi mandiri, tetap saja bosnya mengirim pekerjaan kantor.

"Kan gejalanya ringan to? Bisalah ya mengerjakan gaweyan dari rumah!" begitu kata atasannya.

Pada mulanya teman saya memaksa mengerjakan gaweyan, tapi malah membuat tubuhnya drop. Akhirnya dia memilih menge-block nomor atasannya sampai dia sembuh. Ketika saya tanya apa tidak takut dipecat, teman saya lebih takut mati. Ada yang lebih parah; teman sekantornya sampai dikirimi laptop kantor oleh atasannya via jasa ojek daring agar tetap bisa mengerjakan pekerjaan dari rumah. Itu mereka dalam kondisi sakit lho, tidak sedang pelesir. Saya mikirnya kok bos teman saya itu sebenarnya ingin berkata begini kepada karyawannya, "Belum mati kan? Ayo kerja, kerja, kerja!"

Dalam kondisi seperti ini, kata-kata ibu-ibu Lady Yakult terasa lebih menenangkan daripada atasan teman saya itu. Ucapan "semoga sehat selalu" sekarang memang sangat berarti, tidak hanya sekadar abang-abang lambe saja. Karena kalau tidak sehat, tentu saja sulit mengumpulkan abang-abang dhuwit untuk membeli rumah seperti tuntutan para penasihat finansial itu. Untuk sementara ini sepertinya generasi saya harus puas menjadi generasi "di rumah saja," daripada generasi yang bisa membeli rumah.

Gondangrejo, 3 Juli 2021

Impian Nopitasari penulis cerita, tinggal di Solo

Simak juga 'Tips Sukses Dari Bos Cat Avian Untuk Generasi Milenial':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)