Sentilan IAD

Pandemi dan Jurang Komunikasi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 16:02 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Berondongan pelor-pelor korona terus menggerus kekuatan benteng pertahanan di kampung saya. Minggu lalu, Lik Karjo kena. Lik Karjo ini rumahnya dekat sekali dengan rumah saya. Memang, kabar orang kena Covid sudah mulai terdengar "biasa saja" saking banyaknya. Yang tidak biasa, Lik Karjo yang berstatus wajib isoman itu kepergok keluar rumah, bahkan berjalan-jalan menengok kandang sapinya di timur desa!

Tentu saja banyak orang jadi panik. Terutama Mas Pur, yang rumahnya bersebelahan tanpa penghalang dengan pekarangan rumah Lik Karjo. Mas Pur punya diabetes cukup lama. Dia juga paham sekali bahwa sakit gula dipadu korona akan jadi adonan yang sangat berbahaya.

Maka, segera saya kirim pesan WA ke Pak Dukuh. Beserta anggota Satgas Covid kampung, Pak Dukuh pun mendatangi Lik Karjo, dan dari sebuah rentang jarak mereka menyuruh Lik Karjo kembali masuk rumah untuk melanjutkan isoman-nya. Toh segala kebutuhan logistik untuk Lik Karjo sudah disediakan rutin oleh para tetangga.

Selesai masalah? Ternyata tidak. Beberapa kali Mas Pur mengintip dan melihat Lik Karjo masih duduk-duduk di depan rumah, mengobrol dengan Simbah Karjiyah. Nama yang saya sebut terakhir ini juga santai saja berbincang sore-sore dengan orang yang sudah diketahui tertempel korona.

Pak Dukuh datang lagi, memaksa Lik Karjo masuk rumah lagi. Saya belum tahu kabar selanjutnya setelah Pak Dukuh pergi.

***

Anda yang menyimak cerita saya itu sudah pasti geregetan. Jangan khawatir, saya sendiri masih normal, dan saya juga geregetan. Tapi pertanyaannya, terus Lik Karjo mau diapain lagi? Dikerangkeng? Dipasung? Digebuki?

Soal-soal seperti ini agaknya tak pernah masuk dalam pertimbangan kemarahan mereka yang jarang bersentuhan dengan orang-orang semacam Lik Karjo dan Mbah Karjiyah. Orang-orang semacam Lik Karjo tuh yang gimana? Orang yang ngeyelan, ignorant, ekstremis-fatalis dalam beragama, sekaligus penganut teori konspirasi?

Hehehe. Sama sekali bukan. Dua tetangga saya itu jauh sekali dari sifat-sifat demikian. Mereka cuma orang yang minim pemahaman. "Lho! Kenapa tidak segera diberi pemahaman? Mana tanggung jawab sosialmu sebagai tetangga?" Saya langsung melihat bibir Anda ambil ancang-ancang untuk berkomentar seperti itu.

Tentu saja pemahaman sudah diberikan. Masalahnya, apakah Anda juga paham bahwa di dunia ini ada jutaan orang yang daya tampungnya sangat minim atas pemahaman-pemahaman?

Ya, benar, Lik Karjo dan Mbah Karjiyah itu orang bodoh. Sesederhana itu. Mereka mungkin pernah mencicipi sekolahan, tapi ya cuma asal icip-icip saja. Mereka tak kenal buku, tak kenal koran, apalagi internet. Jangankan nama-nama seperti Siddharta Mukherjee atau Yuval Harari, bahkan Lambe Turah pun mereka tak pernah tahu. Dan populasi orang seperti itu masih sangat banyak di desa-desa. Nah, bayangkan, kalau di desa saya saja (yang dekat dengan so called sentrum kebudayaan bernama Yogyakarta) masih ada orang seperti itu, apalagi di lipatan-lipatan ketek peradaban yang lebih pelosok lagi.

Sebenarnya, ada saluran penyebar informasi yang juga efektif di level kampung, yaitu masjid dan ruang-ruang guyub desa lainnya. Menjelang Ramadhan 2020, yakni pada awal wabah ini merayap masuk ke wilayah Indonesia, saya pribadi pun diminta oleh beberapa bapak warga kampung untuk berbicara di masjid terkait potensi serbuan virus korona. Saya sampaikan pelan-pelan dengan bahasa sederhana di hadapan warga, dengan analogi-analogi sesimpel mungkin, lalu menutupnya dengan pahit, "Jangan sedih kalau pas puasa nanti kita tidak tarawehan di masjid nggih, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu."

"Nggiiih!" Tentu saja semua mengiyakan seperti itu. Jelas, banyak yang sangat paham dengan paparan saya. Toh banyak juga orang sekolahan di kampung saya. Tetapi, ada banyak juga yang hanya pura-pura paham. Buktinya, esok lusanya yang dilakukan oleh beberapa orang adalah mencuci tumpukan karpet di sudut masjid, karena khawatir virus korona akan angrem alias mengeram dan berkembang biak di sana!

Wabah ini memang kutukan baru. Informasi-informasi tentangnya juga relatif baru. Saking barunya, prosesor untuk mengolah informasinya belum ada, dan sering kali yang digunakan masih prosesor lama. Contohnya ya prosesor logika gurem alias kutu yang biasa merebak di kandang ayam. Maka karpet-karpet itu pun dicuci dengan sepenuh keyakinan.

Itu masih mending, karena para pencuci karpet itu bapak-bapak yang prosesornya sekadar produk lama. Masalahnya, ada juga yang prosesornya sudah rusak, atau bahkan hampir tak pernah punya prosesor sama sekali. Lik Karjo dan Mbah Karjiyah itu segelintir contohnya.

Benar, problem mereka bukan pada kurangnya informasi, bukan pula pada fanatisme atau kebebalan hati, melainkan sungguh-sungguh pada kapasitas intelegensi. Itulah fakta konkret yang agaknya jarang disadari.

Sialnya, para kelas menengah terdidik, seperti saya dan Anda, sudah kadung nyemplung lama dalam filter bubble masing-masing. Bukan cuma balon pergaulan digital, melainkan juga kerangkeng sosial dalam pertemanan-pertemanan. Kita yang makan sekolahan ini terlalu lama membayangkan bahwa kecerdasan dapat dibangun cukup dengan persebaran informasi. Padahal ada fondasi kebodohan puluhan tahun pada banyak sekali orang, yang mustahil dapat dihancurkan hanya dalam lima-enam bulan.

Itu belum kalau kita bicara betapa sekarang ini jalur-jalur informasi banyak yang tidak efektif lagi. Salat berjamaah di masjid memang masih ada, tapi ya sebatas ritual saja. Adapun kumpul-kumpul ala jagongan RT untuk terus menjaga komunikasi sudah pada berhenti, karena datang surat edaran larangan dari Pak Bupati.

"Lha kan pasti ada grup Whatsapp kampung, to? Mustahil nggak ada! Jadikan itu sebagai sarana kampanye prokes yang paling efektif dan tepat sasaran untuk edukasi masyarakat!"

Nah, kan, sampean mulai kumat lagi. Boro-boro grup WA, sampean kira Lik Karjo dan Mbah Karjiyah pernah punya hape?

***

Mohon jangan berburuk sangka kepada saya. Segala ocehan di atas itu saya sampaikan bukan dalam rangka membenarkan pelanggaran-pelanggaran protokol kesehatan, apalagi untuk menyebarkan pandangan bahwa wabah ini tidak berbahaya.

Harap tahu, saya sendiri rajin bermasker, meski kadangkala melepasnya juga saat nongkrong dengan teman-teman (terus terang karena saya belum menemukan teknik ngopi dan rokokan sambil maskeran). Dan karena keberuntungan perkawanan yang barangkali sedikit mengganggu rasa keadilan, saya bahkan ambil vaksin jauh lebih duluan daripada sampean-sampean.

Tetapi, yang ingin saya sampaikan adalah betapa diam-diam kita ini acap kali menghadapi jurang-jurang komunikasi yang susah sekali diseberangi. Kita tahu bahwa kualitas komunikasi publik dari pemegang otoritas pun amburadul sekali terkait penanganan pagebluk ini. Namun, kita sendiri tak jarang sulit keluar dari kotak imajinasi, sembari berkhayal bahwa suplai informasi dipadu dengan niat baik saja sudah pasti akan mampu membangun persuasi.

Akibatnya, ketika muncul orang-orang yang abai dengan prokes, misalnya, serta-merta kita melihat mereka sebagai gerombolan makhluk bebal, tak berniat baik, bahkan jahat. Iya, bahwa di muka bumi ini orang jahat dan minim kepedulian itu ada banyak, saya juga tahu. Tapi tak sedikit di antara yang tertuduh jahat itu sebenarnya semata berada di ujung sebelah sana, agak jauh dari orbit dunia terdidik kita.

Maka, jadi lebih mengkhawatirkan lagi ketika kemudian muncul ide-ide impulsif untuk melakukan represi keras kepada mereka, dengan mengacu kepada apa yang dijalankan di Rusia, India, dan sebagainya. Sembari itu kita lupa bahwa alam berpikir komunal masyarakat kita berbeda dengan negara-negara nun di sana, belum lagi keterbatasan infrastruktur keamanan yang pasti bikin semakin rumit situasinya.

Sehingga ketika represi dijalankan, ledakan konflik besar pasti tak terelakkan, dan api konflik sosial bukan mustahil malah jadi monster pembunuh yang jauh lebih mematikan.

***

Kemarin malam, akhirnya ada korban nyawa pertama gara-gara Covid di kampung saya. Namanya Pak Lanjar, yang punya komorbid gula dan jantung. Jenazah Pak Lanjar segera dimakamkan dengan protokol ketat, tentu saja.

Sebelum jenazah datang, beberapa warga diberi tugas untuk menggali lubang kuburan. Saya sendiri tidak berani mendekat, dan cuma dapat fotonya dari grup Whatsapp.

Ketika foto itu saya unggah di Facebook, sontak banyak kawan berteriak, "Kenapa para penggali kubur itu nggak pakai masker?! Mbok ya kamu ngasih tahu mereka, to!"

Sebenarnya saya bisa mengenali dua wajah di foto itu. Salah satunya Slamet, lelaki seumuran saya yang membedakan duit lima ribu sama lima puluh ribu saja tidak bisa. Dengan kata lain, dia berada pada strata intelektual yang bahkan lebih rendah daripada Lik Karjo dan Mbah Karjiyah.

Saya kepingin menyampaikan itu kepada teman-teman saya. Tapi daripada kepanjangan, saya jawab saja, "Mas, sudah pernah macul belum? Mbok coba njenengan coba macul sambil maskeran, nanti pasti tahu gimana rasanya hehehe."

Lalu terbayang beberapa bulan lalu, bagaimana saya yang masih kuat skipping dua ratus lompatan sekali tarik ini langsung ngos-ngosan habis-habisan, cuma gara-gara mencangkul tanah untuk menggali kuburan buat kelinci saya.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)