Kolom

Bagaimana Pandemi Menggeser "Hospital" ke "Home-spital"?

dr. William - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 10:18 WIB
Gugus COVID-19 RW 03, Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jaksel, berinisiatif menyediakan ruangan untuk isolasi mandiri warga positif Corona. Begini ruangannya.
Ruang isolasi mandiri hasil swadaya masyarakat (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -
Terhitung sejak awal tahun 2020 lalu, sudah satu setengah tahun dunia dilanda pandemi Covid-19. Hampir dua ratus juta orang telah didiagnosis positif dan nyaris empat juta jiwa meninggal akibat infeksi virus ini.

Beberapa minggu terakhir, Indonesia bahkan sedang mengalami gelombang kedua pagebluk dengan mencatatkan jumlah kasus terkonfirmasi yang meningkat tajam. Rekor kasus positif harian terus terpecahkan hingga banyak fasilitas kesehatan (faskes) yang melaporkan keterisian tempat tidur hingga 100%. Suatu kondisi yang dapat dikatakan bahwa "Indonesia sedang tidak baik-baik saja."

Tingginya bed occupancy rate (BOR) mau tidak mau membuat tenaga kesehatan (nakes) harus memutar otak dan memilah pasien mana yang perlu diprioritaskan untuk mendapat perawatan di rumah sakit. WHO maupun Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan klasifikasi pasien Covid-19 berdasarkan berat-ringannya gejala dan merekomendasikan orang tanpa gejala atau yang bergejala ringan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Salah satu tujuan terbitnya rekomendasi ini adalah agar faskes tidak kolaps. Berbagai dampak muncul akibat diterapkannya kebijakan ini. Rumah sakit (hospital) tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk merawat pasien terkonfirmasi positif Covid-19, namun rumah-rumah masyarakat juga difungsikan layaknya rumah sakit (home-spital), terutama sebagai lokasi isolasi mandiri pasien tanpa gejala atau bergejala ringan.

Berobat dari Rumah

Pemerintah terus mengimbau agar perusahaan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), khususnya di daerah yang termasuk zona merah. Dari aspek kesehatan, masyarakat dengan gejala ringan yang ingin berobat juga disarankan untuk mengakses pelayanan medis dari rumah melalui layanan telemedicine. Hal ini dimungkinkan akibat semakin pesatnya perkembangan teknologi serta semakin banyaknya aplikasi telemedicine di Indonesia.

Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah meluasnya fungsi rumah-rumah penduduk. Tidak berlebihan jika perlahan rumah menjelma sebagai perpanjangan tangan rumah sakit untuk menangani pasien. Beberapa tahun lalu mungkin masih asing bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan di rumah, namun saat ini pandangan tersebut telah berubah 180 derajat.

Rangkaian prosedur pengobatan yang dimulai dari pendaftaran, tanya-jawab keluhan, penegakan diagnosis, hingga pemberian obat maupun vaksin saat ini bisa dilakukan tanpa beranjak ke luar rumah. Pada kondisi ringan, nakes bahkan tidak perlu datang ke rumah pasien karena data dasar seperti berat dan tinggi badan, tekanan darah, suhu tubuh, hingga saturasi oksigen dalam darah dapat diperiksa oleh pasien secara mandiri.

Kalaupun diperlukan kehadiran sosok profesional, nakes bisa "jemput bola" mengunjungi rumah pasien untuk melakukan beberapa tindakan seperti merawat luka, mengambil sampel darah, memasang infus, serta menyuntikkan obat atau vaksin.

Fleksibilitas menjadi kelebihan yang tidak dapat dielakkan sehingga model "home-spital" menjadi banyak dianut, khususnya selama masa pandemi. Pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala atau dengan gejala ringan dan tengah melakukan isolasi mandiri misalnya, dapat dengan mudah berkonsultasi dengan dokter umum atau spesialis secara virtual. Obat yang diresepkan dokter pun bisa langsung dipesan dan diantar ke rumah pasien.

Apakah konsep kehadiran "rumah sakit" di dalam rumah ini akan terus berlanjut di masa depan? Berkaca dari berbagai keuntungan dan fleksibilitas yang ditawarkan, bukan tidak mungkin setelah pandemi pun konsep "home-spital" akan terus menjadi tren di masyarakat. Salam sehat!

dr. William staf pengajar Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Residen Andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo
Simak video 'Lampu Hijau Uji Klinis Ivermectin Sebagai Obat COVID-19':

(mmu/mmu)