Kolom Kang Hasan

Memahami (Kembali) Covid-19

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 28 Jun 2021 11:05 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kasus infeksi Covid-19 meledak di negeri kita. Sepanjang perjalanan kita menghadapi pandemi ini, saat ini adalah saat paling buruk. Secara nasional ada 200 ribu lebih kasus aktif, dengan pertambahan di atas 20 ribu kasus per hari. Di berbagai tempat, rumah sakit kekurangan tempat untuk merawat pasien. Kita belum tahu kapan situasi buruk ini bisa kita buat mereda.

Ironisnya ledakan ini justru terjadi saat kita sudah relatif bisa mengendalikan pandemi, di akhir bulan Mei, menjelang Lebaran. Semua ini terjadi karena kita sebagai bangsa tidak bisa bersatu dalam sikap. Ingat, satu sikap ini satu-satunya cara kita untuk mengendalikan pandemi. Kita ibarat sedang menjaga sekantong air. Ada satu titik saja yang bocor kecil sebesar lubang jarum, maka usaha kita menjaga sekantong air itu gagal.

Masalahnya, ada banyak sekali orang yang tidak mau bersikap benar. Sebagian besar karena salah dalam memahami karakter virus Covid-19 ini. Ada yang terlampau berani, sehingga mengabaikan protokol kesehatan. Ada yang terlampau takut, sehingga tidak hanya mengalami ketakutan sendiri, tapi juga menebar ketakutan yang berlebihan.

Covid-19 ini adalah virus dari anggota keluarga virus corona, yang sudah sangat lama dikenal di dunia medis. Karakter utamanya, yang membuatnya sangat berbeda dari virus corona yang lain, adalah bahwa ia sangat mudah menular. Virus dapat menumpang pada butiran uap air yang dikeluarkan manusia saat bernapas, juga pada butiran lendir yang dikeluarkan saat orang batuk atau bersin. Butiran mengandung virus itu kalau terhirup oleh orang lain, menyebabkan orang itu kemasukan virus.

Di dalam tubuh orang itu virus akan mencari sel untuk dihinggapi, lalu berkembang biak. Kalau itu terjadi, orang itu terkena infeksi virus. Apakah penyakit ini berbahaya? Data sudah banyak tersedia menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat virus ini secara nasional adalah 1,6%. Ini angka yang relatif rendah. Artinya, kalau pun seseorang tertular virus ini, sangat besar kemungkinan ia akan sembuh. Sebagian besar kasus infeksi virus ini hanya menghasilkan gejala ringan dan sedang.

Kalau Anda atau anggota keluarga tertular, sebenarnya tidak perlu panik. Anda bahkan tidak perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Penanganan bisa dilakukan dengan isolasi mandiri di rumah. Anggota keluarga yang lain juga tidak serta merta tertular. Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.

Tapi ingat, karena ringan tidak lantas membuat kita boleh lengah. Virus ini dapat berakibat fatal pada sekelompok orang. Kasus kematian yang secara persentase rendah tadi menjadi sangat besar kalau banyak orang yang tertular. Bukan hanya soal itu, ada setidaknya 10-15% dari orang yang terinfeksi itu memerlukan perawatan serius.

Di DKI Jakarta saat ini ada 57.000 kasus aktif. Artinya, setidaknya ada 6000 orang yang memerlukan perawatan serius secara serentak. Jumlah yang terlalu banyak itu membuat rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan.

Jadi, ada sisi yang tidak menakutkan pada Covid19 ini, yang membuat kita bisa menghadapinya dengan tenang. Tapi ada sisi menakutkan yang membuat kita harus waspada. Sikap yang tepat akan sangat berarti dalam membantu mengendalikan wabah ini.

Apa yang harus kita lakukan? Sadari bahwa pandemi ini ada, ancamannya nyata. Jangan percaya pada segala macam cerita konspirasi. Yang terjadi di berbagai rumah sakit itu bukan drama TV. Itu kejadian nyata. Orang-orang yang kehilangan anggota keluarga sudah terlalu banyak.

Yang perlu kita lakukan hanya soal sederhana, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. Jangan keluar rumah bila tidak penting benar. Hindari kerumunan. Hal-hal yang sudah setahun ini diulang pemerintah, tapi masih terlalu banyak orang mengabaikannya.

Jaga diri agar tidak tertular. Jaga keluarga. Kalau sudah tertular, segera lakukan pemantauan gejala, agar tidak berakibat fatal. Yang tidak kalah penting, jaga agar tidak menulari orang lain.

Tanggung jawab itulah yang terpenting saat ini. Jangan tertular. Kalau pun terpaksa tertular juga, jangan sampai menulari. Kalau setiap orang sadar dan bersikap tepat soal ini, kita akan bisa segera mengendalikan pandemi ini.

Ini bukan imbauan baru. Tapi penting untuk terus diingat kembali, dijadikan sikap dalam keseharian setiap orang.

Simak video 'Kasus Harian Corona RI 27 Juni Tertinggi ke-2 di Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)