Jeda

Seperti Arisan, Kita Menunggu Giliran

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 27 Jun 2021 11:30 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Dalam berinteraksi di media sosial saya punya peraturan untuk diri saya sendiri dalam menulis status. Ketika suasana sedang berduka, biasanya saya menahan diri untuk tidak menulis cerita yang lucu-lucu. Empan papan, kalau kata orang Jawa. Tapi sepertinya hal tersebut sungguh membingungkan jika konteksnya di waktu sekarang, ketika setiap hari berita duka berseliweran di lini masa. Bukan hanya orang-orang asing, tapi orang-orang yang dikenal dan dekat secara personal --di dunia nyata tiada beda. Setiap hari "toa" masjid mengumumkan berita duka. Belum suara sirine yang seperti sudah menjadi musik latar sehari-hari.

Saya tidak sendiri. Seorang teman yang terkenal suka mem-posting video lucu yang menghibur teman-temannya merasakan hal serupa. Ada rasa pekewuh dan dilema ketika harus melucu dalam suasana duka. Berat rasanya. Melucu baginya butuh mood yang bagus dan bahagia, bukan dalam suasana muram. Teman lainnya merasakan hal serupa; dia adalah pedagang online yang tentu saja sering mengiklankan dagangannya di dinding Facebook-nya. Tapi suasana yang tidak mengenakkan sempat membuatnya sungkan untuk memasang iklan.

Memang kondisi sedang tidak baik-baik saja. Ketika kita menulis hal sedih, dianggap memberi efek buruk, tapi ketika kita menulis guyonan, dibilang nir empati. Rasa sungkan memang selalu ada walau beberapa teman yang sedang isolasi mandiri meminta saya untuk biasa saja, tetap menulis cerita lucu agar mereka tetap bisa tertawa.

Berita duka yang setiap hari menghajar lini masa sempat membuat saya tidak bersemangat mengerjakan pekerjaan. Daripada sesak menanggung sendiri, saya curhat ke teman saya sesama pengajar di perguruan tinggi, apakah tidak apa-apa kalau saya meliburkan kelas sehari saja. Karena, mau dipaksakan seperti apa pun tetap tidak bisa.

Terlalu sedih ternyata bukan alasan yang lucu untuk meliburkan kelas. Sungguh saya belum bisa sekuat seperti salah satu personel grup lawak Indonesia yang tetap melawak di panggung padahal sebelumnya dia mendengar kabar ibunya meninggal. Profesionalitas yang sungguh belum bisa saya tiru. Ternyata saya payah sekali.

Maksud hati ingin mendapat penghiburan, ternyata malah kesedihan yang bertambah. Teman saya bilang, tidak apa-apa meliburkan kelas sehari daripada dia yang malah meliburkan kelasnya seminggu dengan alasan yang sama, terlalu sedih.

"Kamu tahu kan si M, mahasiswa lucu yang sering aku ceritakan. Dia ditemukan bunuh diri di rumahnya. Bapak-ibunya sebelumnya meninggal karena Covid," balas teman saya dengan emotikon menangis.

Saya bisa merasakan kesedihannya. Sering teman saya itu menulis story di WhatsApp tentang kelucuan mahasiswanya itu ketika kuliah daring. Saya tidak menyangka mahasiswa lucu itu memilih mengakhiri hidupnya seperti itu. Mahasiswa teman saya itu baru saja pulang dari luar kota, ternyata dia dalam kondisi OTG dan menulari kedua orangtuanya. Orangtuanya akhirnya meninggal berurutan. Karena merasa bersalah telah menjadi sebab kematian kedua orangtuanya, mahasiswa teman saya memutuskan mengakhiri hidupnya. Dia memang sembuh dari Covid, tapi meninggal karena Covid secara tidak langsung.

Belum selesai saya bersedih, teman lain mengabari bahwa bapaknya meninggal dunia karena tidak segera mendapatkan penanganan dari rumah sakit. Bapak teman saya kecelakaan dan butuh penanganan segera, tapi tiga rumah sakit menolaknya karena semua ruangan sudah penuh dengan pasien Covid. Tentu kita tidak bisa menyalahkan pihak rumah sakit karena memang kondisinya tidak memungkinkan.

Teman saya hanya bisa memaki-maki virus ini yang membunuh bapaknya secara tidak langsung. Pasien non Covid yang seharusnya bisa tertangani menjadi terbengkalai bahkan meninggal karena tidak bisa mendapatkan penanganan segera karena IGD pun sudah menolak pasien karena over kapasitas untuk pasien Covid.

Dulu saya tidak pernah membayangkan virus ini akan sampai di sini. Sesuatu yang jauh dan hanya terbayang di film-film, sekarang benar-benar dekat. Tetangga kanan, kiri, depan, belakang positif. Teman saya di dusun sebelah juga sekeluarga kena. Ada teman yang harus mengambil risiko dirinya terpapar karena bapaknya yang positif Covid juga terkena stroke. Tidak mungkin pasien stroke mengurus dirinya sendiri selama isolasi. Teman yang lain juga merelakan dirinya terpapar ketika suami dan bayinya positif Covid. Saya bisa memahami perasaan seorang ibu yang tidak mungkin tidak menyusui dan mengurus bayinya. Bayi belum bisa mengurus dirinya sendiri.

Kondisi seperti ini membuat saya gampang tersulut emosi dengan orang-orang yang menganggap Covid tidak nyata. Saya sudah menahan diri untuk tidak berkonfrontasi dengan mereka, tapi akhirnya pertahanan saya jebol juga. Begini, tidak hanya mereka yang bosan dengan Covid ini, semua juga bosan. Saya pun lelah mendengar kebijakan pemerintah yang entahlah saya sendiri tidak paham apa maunya.

Saya juga sedih melihat drama Satpol PP dengan pedagang kaki lima ketika mereka harus mengukuti dagangannya karena terbentur aturan jam malam, PSBB, PPKM atau apalah namanya. Saya paham kita semua sedang ada di masa yang sulit. Saya pun tidak pernah lebay memaksa orang harus di rumah saja. Saya paham tidak semua orang punya privilese untuk bisa bekerja di dalam rumah.

Tapi semua hal itu tidak menutup fakta bahwa Covid memang benar-benar nyata. Seberdamainya kita dengan virus ini, akui saja bahwa kita sudah benar-benar lelah. Sangat wajar jika ada orang yang tidak percaya Covid pasti banyak yang mendoakan kena. Tapi saya melihat sendiri ada orang yang benar-benar terkena Covid saja masih tidak percaya. Jelas-jelas hasil tes swab-nya positif, masih saja menyangkal bahwa itu hanya sandiwara rumah sakit, menganggap bahwa dia hanya sakit flu biasa.

Banyak juga orang di sekitar saya yang bilang kalau lebih banyak pasien yang sembuh daripada yang meninggal karena yang meninggal "hanya" sekian persen. Saya marah sekali mendengar kata "hanya". Sekian persen itu tetaplah nyawa manusia.

Statistik kematian yang "hanya" sekian persen ini kalau ada keluarga dan teman-teman dekat kita apakah masih kita anggap "hanya"? Kematian adalah kematian. Sesuatu yang membuat berduka orang-orang yang ditinggalkannya. Seperti arisan, kita pun sebenarnya juga tinggal menunggu giliran.

Gondangrejo, 25 Juni 2021

Impian Nopitasari penulis cerita, tinggal di Solo

Simak juga 'Epidemiolog: Semua Varian Baru Covid-19 Ada di Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)