Kolom

Media, Manusia, dan Serigala Sosial

Hamidulloh Ibda - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 13:27 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Media sosial (medsos) menjadi kebutuhan dasar manusia abad ke-21. Namun apakah pengguna medsos sudah sepenuhnya menjadi makhluk sosial? Tentu tidak! Manusia merupakan makhluk sosial. Apa wujudnya? Manusia tak dapat hidup sendirian dan membutuhkan orang lain. Kebutuhan dasar ini menjadikan manusia memiliki perbedaan dibandingkan makhluk lain. Namun teknologi digital abad ke-21 yang mencerabut interaksi manusia dengan manusia lain melalui medsos melahirkan banyak problem.

Seperti contoh lahirnya "dunia sosial baru" yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pameo medsos "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat" menjadi gambaran riil pemanfaatan medsos mencerabut ruang sosial yang sebenarnya. Idealnya, medsos memang melahirkan ruang sosial untuk silaturahmi, berinteraksi, komunikasi, berelasi, dan meneguhkan hakikat manusia sosial seutuhnya. Namun realitasnya tak demikian, karena medsos justru "menjauhkan yang dekat".

Ruang Bertikai

Medsos memudahkan semua pekerjaan manusia. Melalui medsos, kita dapat berinteraksi dengan keluarga, teman sekantor, rekan kerja, dan kolega bisnis. Tetapi, media yang hakikatnya menjadi ruang sosial justru melahirkan ruang bertikai, penyebaran hoaks, berita palsu, perundungan siber, perjudian, penipuan online, pasar gelap, pornografi, bahkan radikalisme.

Fenomena di atas menunjukkan medsos mengikis dan meruntuhkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Medsos harusnya menjadikan manusia sebagai manusia sosial seutuhnya. Namun manusia abad ke-21 ini cenderung destruktif, kagetan, temperamen, dan menjadi pribadi terbelah ketika bermedsos. Padahal medsos hanya alat berinteraksi melalui internet yang hakikatnya sama seperti kehidupan nyata. Lalu, mengapa manusia justru terbelah akibat medsos?

Dalam kamus filsafat, manusia identik dengan hewan. Maka istilah seperti al-insan hayawan natiq (manusia adalah binatang berpikir), animal rationale (hewan yang berpikir), animal symbolicum (hewan yang menggunakan simbol), homo sapiens (kera besar/manusia modern) meneguhkan manusia tak berbeda dengan hewan.

Filsuf Titus Maccius Plautus (254-184 SM), Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 M), dan Thomas Hobbes (1588-1679) membagi manusia ke dalam dua bentuk. Pertama, homo homini socius (manusia menjadi teman bagi sesamanya). Intinya, manusia adalah makhluk sosial bagi manusia lain. Kedua, homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesama manusia). Manusia jenis kedua ini diindikasikan suka mengelabui, menikam, dan melakukan kekejaman kepada manusia lain.

Hal itu dibuktikan dengan temuan di lapangan. Disebutkan Lararenjana (2020), penggunaan medsos berlebihan dapat berakibat pada kecemasan, kesepian, menyakiti diri sendiri, risiko depresi, bahkan dorongan bunuh diri. Triastuti, dkk (2017:70) menemukan medsos memiliki pengaruh kepada kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, dan terbukanya privasi seorang.

Berbagai kasus kriminal dan radikalisme sering terjadi lantaran medsos. FKPT Jawa Tengah tahun 2020 menemukan pergeseran penyebaran radikalisme dan terorisme melalui platform medsos. Jika dulu pola penyebaran hanya melalui pengajian, baiat/janji, dan pengajian/halaqah khusus, kini penyebaran radikalisme bergeser ke medsos.

Menurut Ma'arif (2021) cara baru dalam perekrutan anggota kelompok radikal dan teroris bergeser melalui dunia maya, internet, atau medsos. Ide-ide radikal yang berasal dari jaringan teroris disebarkan secara masif melalui medsos. Hal ini menjadikan manusia tak menjadi makhluk sosial yang humanis karena medsos. Manusia yang harusnya menjadi manusia sosial seutuhnya justru menjadi "serigala" bagi manusia lain.

Apakah manusia serigala ini hanya terjadi di kalangan milenial? Ternyata tidak. Jumlah pengguna internet Indonesia sampai Januari 2021 mencapai 202 juta. Dalam laporan Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital disebutkan dari total 274,9 juta penduduk Indonesia, 170 juta pengguna media sosial. Dari data itu, angka penetrasinya sekira 61,8 persen.

Data ini menunjukkan penduduk Indonesia tak bisa terlepas dari medsos karena sudah menjadi kebutuhan dasar. Di sela-sela aktivitas manusia seperti makan, minum, bekerja, rapat, bahkan sebelum dan setelah ibadah manusia menggunakan medsos. Bisa disebut manusia kecanduan dan tak bisa hidup tanpa medsos.

Ruang Gema

Lahirnya kejahatan di medsos hakikatnya disebabkan karena echo chamber (ruang gema). Fenomena ruang gema menurut Prasetyo (2020) menggambarkan pengguna medsos berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran sama. Pikiran yang dilontarkan segera mendapat dukungan dari rekan dan terus berulang hingga dia seolah percaya bahwa inilah fakta yang terjadi.

Ruang gema ini berbahaya, sebab antara kebenaran dan kebatilan menjadi bias. Fenomena ini sering disebut sebagai pascakebenaran. Di medsos, kita akan menjumpai bahwa warganet cenderung akan berkumpul dengan orang yang berpandangan mirip dengannya. Hal ini menunjukkan munculnya hoaks, berita palsu, radikalisme, dan teori konspirasi hanya berkembang di kalangan tertentu.

Di medsos kita memang digiring mencari teman seide, dan memburu like, subscribe, follower, dan komentar sebanyaknya. Jika unggahan kita benar, bersih, dan toleran kita dapat membumikan perdamaian. Sebaliknya, jika kita terpapar ideologi radikal, justru ruang gema ini menggiring manusia menjadi serigala. Masalahnya, unggahan kita yang demikian minim respons, dan yang viral kebanyakan yang mengandung unsur isu SARA, menyulut api, dan ini meneguhkan diktum bad news is a good news (kabar buruk adalah berita bagus).

Untuk menjadi manusia sosial di medsos kita harus melek literasi digital dengan beberapa strategi. Pertama, memahami peta media, mulai dari konvensional (media cetak, radio, televisi), media baru (Youtube, media siber, streaming), media sosial (Facebook, Twitter, Instragram), dan layanan pesan (WhatsApp, Messengger). Kedua, saring sebelum sharing sumber dan isi informasi, apakah produk jurnalistik atau non-jurnalistik. Jika medsos merupakan non-jurnalistik, maka perlu tabayun secara detail.

Ketiga, memutus lingkaran setan hoaks dan berita palsu. Mulai dari membaca berita dari sumber terpercaya dan terverifikasi Dewan Pers, tak kagetan dan menelan mentah, tak mudah terprovokasi, cek fakta, lihat alat situs, dan tidak bernafsu membagikan ke sesama teman. Keempat, menjaga privasi media sosial, keamanan akun, menghindari hoaks, menyebarkan informasi edukatif dan positif, dan menggunakan seperlunya.

Hamidulloh Ibda dosen dan Pjs Wakil Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung; Kabid Media, Hukum, dan Humas FKPT Jawa Tengah

(mmu/mmu)