Kolom

Beradaptasi (Lagi) dengan Lonjakan Corona

Akhmad Faozi Sundoyo - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 15:06 WIB
Lapangan Puputan Badung Denpasar, Bali ditutup usai lonjakan kasus virus Corona (COVID-19).
Sebuah lapangan di Denpasar ditutup menyusul lonjakan kasus corona (Foto: Sui Suadnyana/detikcom)
Jakarta -

Situasi hari ini bisa disimak dari headline berita: Corona Menggila, Corona Ngegas, Kasus COVID Melejit. Grafik perkembangan paparan Covid-19 di negeri kita telah melewati ambang dua juta kasus (detikcom, 21/6). Berarti kita tidak sedang baik-baik saja.

Belum ada seminggu yang lalu (19/6) saya tiba-tiba mendapat pesan WA dari teman saya di Pati, "Karantina 15 hari, BB turun drastis, mugo sehat kabeh." Ia mengirimkan foto selfie, menunjukkan wajahnya yang menipis drastis. Lalu kami chatting-an seperti biasa. Namun nuansa yang saya rasakan tidak seperti biasanya. Kemarin, ketika Lebaran saya bertamu ke rumahnya, ia pun bertamu ke rumah saya. Masih baik-baik saja. Belakangan ia berkabar positif corona.

Untung saja anak-anaknya (yang paling besar belum 4 tahun, yang paling kecil belum setahun) cepat pulih, istrinya juga pulih lebih cepat. "Anak-anak tangguh. Ibune sakit, tapi Alhamdulillah cuma sedelok. Aku sing parah," katanya.

Longsoran bola salju corona memang sempat tertahan, minimalnya dari pemberitaan yang beredar. Tetapi bisa dipastikan laju itu tidak berhenti, terus bergulir mendekat. Orang-orang terdekat, bahkan kita sendiri tidak punya cukup keyakinan untuk tidak terpapar.

Penyakit Simalakama

Dari sejak awal pandemi, saya tidak pernah mendapat cukup keyakinan untuk mengukuhi "informasi" mana pun selain dari "yang saya saksikan dan alami sendiri". Seperti jenis virusnya, informasi terkait corona ini semacam simalakama: ditelan tak enak, tak ditelan buta data.

Saya mafhumi itu, karena memang suasana pandemi ini adalah suasana yang benar-benar baru. Kita sama-sama tidak cukup bukti untuk mengkonfirmasi atau membantah informasi yang beredar.

Saya sempat dua kali menghadiri pemakaman dengan standar prosedur Covid-19. Dan dari keduanya, semuanya "negatif".

Pertama, adalah Pak Dhe dari istri saya. Karena paru-paru bocor dan komplikasi penyakit usia tua, ia dirawat intensif di RS. Melihat kondisi yang cukup parah, ia dipindah-pindah rujukan. Setiap pindah RS, dicek Covid atau tidak --hasilnya selalu "tidak"-- lalu diisolasi dengan ketat.

Di RS yang dirujuk terakhir, ia meninggal dunia sebelum terkonfirmasi status Covid-nya. Sesuai protokol resmi jadilah ia dimakamkan dengan seluruh prosedur Covid: dibungkus, dipeti, dibungkus lagi, keluarga tidak boleh melihat kondisi jenazah. Saya saja yang bukan keluarga inti merasakan nyeri menyaksikan rangkaian pemakaman, apalagi istri dan anak-anaknya, yang tentu mendapat duka ganda karena tidak bisa melihat jenazah untuk terakhir kalinya.

Lebih-lebih setelah dua hari pasca pemakaman, keluar hasil yang menyatakan bahwa almarhum "negatif Covid-19". Tapi mau bagaimana lagi.

Kedua, adalah seorang tokoh agama (kiai) yang punya pesantren (di Kretek, Bantul) lumayan dekat dengan rumah saya. Karena saya mengajar di tempatnya, saya takziyah. Saya kaget, ternyata prosesi pemakaman berlangsung dengan standar jenazah Covid. Walaupun berkali-kali disampaikan kepada para peziarah bahwa "almarhum bukan meninggal karena Covid", tetapi apakah itu mengubah fakta bahwa keluarga —istri dan anaknya— tidak diperbolehkan melihat almarhum untuk terakhir kali?

Ketika saya sowan ke keluarga almarhum setelah pemakaman, mereka bercerita, ternyata dari pihak RS telah menyatakan "negatif", hanya saja ada satu-dua warga yang ngotot minta di-covid-kan sehingga tidak mengizinkan jenazah dipulasarakan secara mandiri. Warga hanya mau menerima jenazah yang telah ditangani RS. Anehnya, pihak RS juga tidak bisa berbuat banyak.

"Jika penanganan jenazah diserahkan ke pihak RS, kami hanya bisa memulasara sesuai protokol Covid," kutip anak pertama almarhum dari pernyataan pihak RS. Benar-benar simalakama.

Mencari Padanan Adaptasi (Lagi)

Nuansa serba bingung, serba meraba-raba, adalah kondisi epistemis dan psikologis secara umum di tengah wabah ini. Saya pikir sebagai masyarakat sudra, kami sudah cukup beradaptasi. Minimalnya kami sudah mulai terbiasa menyiasati "sakit hati" dan "tanda tanya" terkait kebijakan-kebijakan janggal —prosedur pulasara jenazah, tempat wisata, dan sebangsanya— dari pemerintah.

Malah kemarin sempat lamat-lamat ada beberapa manuver politis agenda Pilpres 2024, kami pun sudah bisa tatag dengan itu. Hanya saja, saya masih berharap lebih terkait penanganan Covid-19 ini, khususnya menyangkut share pengetahuan dan fakta medis. Karena ini urusannya hidup-mati.

Jika rumah sakit sudah kewalahan dengan daya tampung dan tenaga penanganan yang semakin tak memadai, bagaimana bila pola penanganan dipindah ke rumah-rumah? Metode dan penanganan dasar Covid-19 bisa disosialisasikan ke masyarakat. Apa yang paling mungkin dilakukan, formasi asupan-asupan seperti apa yang perlu diberikan, pola istirahat bagaimana yang paling menunjang pemulihan, disosialisasikan sebagaimana 3M dulu atau 5M yang sekarang.

Intinya, kita perlu membangun-menyegerakan imunitas strategis yang lebih mandiri.

Koreksi bila saya keliru. Sekolah, tahlilan, dan seminar-seminar bisa didaringkan, saya kira model penanganan orang terkonfirmasi Covid-19 bisa saja dilakukan secara mandiri —semacam pola daring. Dan masyarakat kita akan menyambutnya dengan kedua tangan terbuka. Selain itu, langkah ini pun penting sebagai "edukasi medis" yang, hari-hari ini sangat kami butuhkan. Edukasi yang bukan bersifat menakut-nakuti.

Masyarakat sudah memiliki beragam sinonim atas kata "adaptasi" dari dampak pandemi, sudah saatnya diskursus medis beradaptasi juga. Bukankah lebih baik kita lelah bersama dalam bekerja menangani sakit, daripada sakit menahan "tidak tahu apa-apa"?

Akhmad Faozi Sundoyo penyuluh agama honorer; lahir di Pati, mukim di Bantul

(mmu/mmu)