Jeda

Baca Buku di Kereta, Buka Laptop di Kafe

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 11:51 WIB
impian nopitasari
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sebelum pandemi, saya sering pergi ke Yogya --minimal seminggu sekali. Saya biasa naik kereta Prameks (sekarang sudah diganti dengan KRL) sendirian, atau bersama teman jika pekerjaan memang memerlukan partner. Nah, saya punya teman seperjalanan yang punya kebiasaan meminjam buku bacaan yang biasa saya bawa di tas. Bukan untuk dibaca selama perjalanan, tapi buat gaya-gayaan saja.

"Biar kelihatan pinter, Im. Siapa tahu ada yang iseng motret terus diviralkan," katanya santai.

"Halah sapa sing minat njepret dhapuranmu," kata saya mengejeknya. Siapa juga yang mau minat motret. Dasar ke-GR-an. Saya pun kembali tidur. Terserah ah apa katanya.

Saya ini tipe orang yang susah untuk membaca dalam perjalanan. Lebih memilih tidur atau mengamati pemandangan di luar kereta. Tapi memang kadang-kadang saya pun membaca atau mengetik di kereta karena kondisi tertentu. Itu pun tidak terpikir sedikit pun agar dipotret orang. Buku bacaan memang selalu ada di dalam tas karena jika tidak ada sinyal, tidak ada teman ngobrol, dan sedang tidak mengantuk, saya tidak mati gaya.

Siapa sangka ketika saya berselancar di linimasa Twitter, saya menemukan unggahan di akun base buku. Ada foto teman saya membaca (yang aslinya hanya memegang saja) bukunya Mahbub Djunaidi yang berjudul Dari Hari ke Hari. Caption foto itu berisi pujian dari pemotret sekaligus pengunggah foto tersebut. Walau wajah teman saya ditutupi (sepertinya pengunggah lumayan paham soal privasi meski tetap tidak tahan mengunggah foto candid tanpa izin) saya tentu saja bisa mengenalinya. Apalagi di sampingnya ada foto saya yang sedang tertidur, untung saja saya menunduk. Di replies tweet itu banyak sekali pujian terhadap teman saya.

"Wah bacaannya Mahbub. Keren."

"Ketika semua orang sibuk dengan gadget, mbaknya jadi satu-satunya yang masih suka membaca buku di kereta. Mantap!" (saya ingin ngomel karena sekarang juga banyak orang baca buku lewat gadget lho ya).

"Pasti cantik nih mbaknya, bacaannya saja cakep." (ya kali wajah sama bacaan ngaruh)

Dan masih banyak yang lainnya.

Teman saya ngakak-ngakak ketika melihat unggahan itu. Antara merasa menang karena mematahkan anggapan saya yang meremehkannya dan merasa telah berhasil nge-prank banyak orang. Apalagi di situ ada foto saya yang sedang tidur, padahal saya pemilik buku itu. Yang punya buku siapa, yang dapat pujian siapa.

Teman saya ini sebenarnya tidak hanya meminjam buku saja. Terkadang juga laptop, hanya dibuka saja di tempat yang menurutnya oke, misal di kafe, dengan alasan yang sama tentu saja, biar dianggap keren. Karena baginya, lebih oke kalau dilihat sedang membuka laptop daripada main handphone.

***

Saya ini memang manusia kamar dalam urusan mengerjakan tugas atau gaweyan. Saya memang paling tidak bisa menggarap gaweyan di tempat umum kecuali karena kepepet dan dadakan. Dulu waktu masih mengerjakan skripsi dan tesis, di perpustakaan hanya fokus mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Karena situs perpustakaan yang tidak bisa diakses di luar kampus, mau tidak mau saya harus pergi ke perpustakaan kampus. Semua bahan itu akan saya olah di kamar.

Termasuk jika mau tidak mau harus bertemu teman di kafe, saya pun tidak bisa menunggunya sambil menulis, apalagi memang meniatkan diri ke kafe untuk menulis --selain saya sendiri memang bukan anak kafe. Jika keluar ya saatnya "kulakan". Entah ngobrol atau apa. Menulis tetap di kamar.

Saya menyukai ruangan sempit seperti kamar saya dan suasana yang hening untuk menulis atau mengerjakan tugas. Jika ada musik, saya bukannya menulis tapi dipastikan ikut nyanyi atau joget kalau musiknya mendukung untuk berjoget.

Jadi memang saya tidak relate dengan teman-teman yang menceritakan pengalamannya menulis di kafe. Ada yang bercerita bahwa sebenarnya dia kalau bisa memilih juga ingin menulis di kamar saja, tapi dia sangat butuh wifi. Tentu saja saya tidak relate karena di kos saya wifi-nya kencang kecepatannya. Mau mengunduh film juga was-wus. Jadi keluar untuk mencari wifi sudah tidak perlu.

Ada yang memang tipenya hanya bisa menulis juga di luar, dan tentu saja sudah beda dengan saya. Tidak semua punya fasilitas seperti saya dan tidak semua orang harus sama dengan saya. Sah-sah saja.

Beberapa hari lalu saya menyimak ada keributan di Twitter. Ada seseorang yang menyebut dirinya coach, entah pelatih klub apa saya tidak paham, menge-tweet seperti ini: "Sekarang banyak yang gaya banget pakai laptop di coffee shop, setelah saya lirik ternyata cuma buka WA. Kirain kerja bikin dokumen atau programmer."

Tweet itu panen hujatan yang membuat penulis tweet menghapusnya dan meminta maaf meski tweet permintaan maaf itu di-setting terbatas untuk pemberi komentar. Ya bagaimana tidak panen hujatan. Selain dia tidak paham bahwa sekarang banyak pekerjaan yang mengharuskan orang membuka WA web (termasuk saya) dia juga kurang kerjaan. Buat apa coba lirak-lirik layar laptop orang lain hanya untuk dikomentari dengan nada julid? Sungguh menantang netizen negara ini saja.

Sekelas coach ya mosok tidak paham kalau banyak tautan zoom atau pekerjaan lain itu dikirim via WA dan tentu saja lebih mudah mengaksesnya via WA web karena sering sekali tautan tersebut tidak diperpendek. Ya bayangkan saja betapa keritingnya jari jika harus mengetik tautan tersebut. Banyak juga dokumen yang tersimpan di laptop dan lebih mudah jika dikirim menggunakan WA web daripada harus memindah-mindah di handphone.

Belum lagi jika saya membaca curhatan teman-teman bakul online yang lebih enak membalas chat calon pembeli dan reseller melalui WA web. Sebegitu tergantungnya umat manusia dengan WA web, bukan perkara mau gaya-gayaan. Meski memang yang benar-benar hanya ingin bergaya seperti teman saya pun ada, dan menurut saya kalaupun mau gaya-gayaan ya terserah juga sih selama tidak mengganggu yang lain.

Saya mencoba cek ombak kasus ini di Facebook. Hampir semua teman saya juga kontra dengan tweet si coach itu. Kecuali satu teman yang mengamini kalau memang ada orang-orang yang suka bergaya dengan mengetik di kereta atau mengerjakan tugas kuliah di kafe sambil bicara keras-keras tentang referensi ilmiah seolah pengunjung lain tidak pernah kuliah saja. Saya sudah menduga akan banyak yang membalas komentar ini. Termasuk saya sendiri juga kontra.

Lha saya kalau mau milih juga malas sekali mengetik di kereta. Lebih pilih tidurlah. Tapi mau bagaimana lagi karena memang kepepet. Ada juga yang memang kerjanya dadakan, kalau tidak mengetik saat itu juga ya tidak terkejar. Boro-boro mau pamer.

Untuk yang dimaksud berbicara keras-keras tentang referensi ilmiah di kafe, mungkin saya setuju kalau konteksnya mengganggu karena volume suara, tapi kalau soal isi pembicaraan, ya bagaimana tidak membahas referensi ilmiah lha wong memang lagi mengerjakan tugas? Bukan masalah mau pamer atau menganggap orang lain tidak pernah kuliah.

Kalau kata teman saya yang punya kafe, dia tidak peduli orang mau membuka apa di kafenya. Mau membuka aib orang juga terserah yang penting orang itu bayar. Orang yang suka lirak-lirik seperti coach itu rasah digagas. Yang perlu digagas adalah lirikan pelayan kafe kepada pengunjung yang hanya memesan satu minuman paling murah, duduk di tempat favorit, dan tidak pergi-pergi sampai kafe mau tutup.

Mendungan, 19 Juni 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)