Kolom

Risau Hati Batal Haji

Fajar Ruddin - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 09:46 WIB
Ilustrasi ibadah haji dan umrah
Ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -

Hari-hari ini bude saya sedang sibuk membagikan jilbab ke para tetangga. Jilbab-jilbab itu sejatinya mau dibagikan tahun lalu, sepulangnya beliau dari ibadah haji. Tetapi sayang rencana haji yang sudah rapi tahun lalu itu jadi berantakan karena pandemi. Dan seperti de javu, beliau yang sudah optimis bisa berhaji tahun ini harus menelan kekecewaan lagi. "Daripada jilbabnya bau apek karena terlalu lama disimpan, mending dibagikan saja" ujarnya lirih.

Bude saya bukan satu-satunya calon jemaah yang kecewa karena gagal berangkat haji. Bersamanya ada 221.000 calon jemaah lain yang juga harus memperpanjang kesabaran. Saga corona yang belum juga usai membuat pemerintah lagi-lagi harus mengambil keputusan yang tidak populis.

Saya memahami bagaimana beratnya beban psikologis yang ditanggung bude dan calon jemaah lainnya yang gagal berangkat, sebagaimana saya juga memahami sulitnya posisi pemerintah dalam urusan ini.

Bagi bude dan mayoritas calon jemaah haji Indonesia, penantian menuju tanah suci tak ubahnya gelaran maraton kesabaran. Bude saya sendiri telah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian haji sejak tahun 2012. Artinya, ada delapan seri ibadah haji yang beliau lalui hingga tiba gilirannya tahun lalu. Ini belum termasuk periode menabung yang mungkin sudah dimulai jauh lebih lama.

Mengentaskan masa tunggu selama itu tentu bukan aktivitas yang menyenangkan. Dengan usianya yang sudah tergolong senja, bude bersama para lansia lainnya harus melalui hari-hari penantian dengan kecamuk harap dan cemas. Berharap karena nomor pendaftaran haji telah direngkuh, tetapi juga cemas lantaran usia yang kian sepuh.

Ya, memang benar bahwa batasan usia manusia hanya Tuhan yang tahu. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata dari dinamika fisik dan psikologis yang dihadapi para lansia. Bahwa fisik tidak selamanya prima, seperti halnya psikologis yang tidak mungkin selalu sejahtera. Masa lansia adalah masa di mana terjadinya perubahan gradual kedua komponen tersebut.

Fisik yang semakin rapuh tentu menjadi perhatian serius para jemaah haji lansia. Terlebih haji adalah salah satu ibadah yang paling menguras stamina. Cemas dan khawatir yang muncul karena penundaan haji sangat wajar jika kemudian membayangi mereka. "Masih kuat kah fisik saya untuk berhaji tahun depan?" mungkin begitu kerisauan mereka.

Beban pikiran itu diperberat dengan kabar burung yang hilir mudik membanjiri media sosial. Seperti misalnya isu yang menyebutkan bahwa dana haji telah habis dipakai pemerintah sehingga jemaah tidak bisa diberangkatkan. Atau kabar bahwa pemerintah memiliki utang pembayaran akomodasi di Arab Saudi.

Meskipun berbagai isu tersebut sudah berulang kali ditepis Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), tetapi karena kekhawatiran yang kadung menumpuk di kepala, kabar tersebut akhirnya memicu stres juga. Ada rasa takut yang membayangi para calon jemaah, terutama lansia, bahwa kehendak mereka beribadah di tanah suci tidak akan kesampaian sama sekali.

Di samping itu, psikologi jemaah yang akan berangkat haji juga turut berperan menambah kecemasan. Sudah menjadi tradisi orang Indonesia, terlebih masyarakat pedesaan, bahwa orang yang akan berhaji biasanya akan menggelar pengajian bersama warga sekitar. Selain mengharapkan doa, pengajian itu juga bertujuan untuk memotivasi warga lain agar bisa juga pergi haji.

Di kampung kami, tradisi pengajian yang demikian bahkan dilakukan tidak hanya sekali, tapi berkali-kali sejak berbulan-bulan sebelum keberangkatan. Karenanya kabar tentang sesiapa yang akan berhaji akan cepat tersiar ke seantero kampung. Sekali lagi tujuannya baik, untuk mengharapkan doa dari warga dan handai taulan.

Seiring menyebarnya kabar dan persiapan yang semakin matang, harapan jemaah menjadi semakin melangit. Tertundanya pelaksanaan haji akan membuat jemaah terpukul, tidak hanya karena niat baik yang urung terwujud, tetapi juga karena ada rasa malu yang ditanggung. Di berbagai media, sudah beberapa kali kita dapati berita calon jemaah haji yang stres karena gagal berangkat.

Menghadapi situasi yang demikian, pemerintah mesti tanggap. Betul bahwa kebijakan pembatalan haji diambil pemerintah demi kebaikan jemaah itu sendiri. Tetapi pemerintah juga harus memahami kerisauan para jemaah. Bimbingan dan arahan tetap harus diupayakan dengan mengacu pada analisis keluhan-keluhan yang muncul ke permukaan.

Jika melihat gejolaknya, masyarakat sebenarnya membutuhkan jaminan rasa aman atas pembatalan haji. Rasa aman itu terbagi menjadi dua, yaitu keamanan finansial dan keamanan psikologis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) bagi sebagian besar orang Indonesia tergolong tinggi. Sehingga menjadi sangat manusiawi jika jemaah khawatir kehilangan haknya. Terlebih sebagian besar jemaah membutuhkan proses yang panjang untuk mengumpulkan biaya tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh bosan untuk menyosialisasikan bagaimana dana haji itu dikelola. Sosialiasai yang dimaksud bukan dari Kemenag pusat saja, tapi juga dari perwakilan masing-masing daerah dan juga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Berharap dengan begitu pesannya betul-betul sampai ke telinga calon jemaah. Transparansi dan kejelasan informasi akan membuat mereka merasa aman menitipkan bekal hajinya kepada pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjamin keamanan psikologis para jemaah. Stres dan kecemasan yang muncul akibat batalnya haji mesti diatasi agar tidak berdampak semakin buruk. Pemerintah bisa mengoptimalkan peran ustadz dan kyai untuk menenteramkan hati jemaah yang kalut.

Biar bagaimanapun, haji adalah ibadah yang mensyaratkan istitha'ah (kemampuan) bagi para pelakunya. Dan pandemi telah membatalkan istitha'ah tersebut bagi mayoritas umat Islam di dunia. Artinya tidak ada dosa bagi mereka yang gagal berangkat haji tahun ini. Sebaliknya, niat dan kesungguhan mereka mempersiapkan haji telah tercatat sebagai kebaikan.

Jika pesan itu sampai dan dipahami calon jemaah, niscaya mereka akan lebih ikhlas menyikapi penundaan keberangkatan ini.

Fajar Ruddin, M.Sc Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2016-2018

(mmu/mmu)