Kolom

Serangga, Disrupsi Lingkungan, dan Kesehatan

Firmansyah Nhe - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 11:00 WIB
Nyamuk Florida: 750 juta serangga yang direkayasa genetika akan dilepas untuk mengurangi penyakit
Foto ilustrasi: BBC Magazine
Jakarta -

Medio 1950-an, Rachel Carson, penulis buku Silent Spring, menggambarkan langit Amerika begitu biru, burung-burung berkicau dengan merdunya, pepohonan hijau dan sedap dipandang. Namun, panorama tersebut hilang seketika kala pestisida sintetis digunakan sebagai pembasmi hama serangga. Burung-burung yang berkicau dan organisme lain banyak yang mati oleh polutan kimia dan pestisida yang penggunaannya tak terkontrol. Dan pada akhirnya, musim semi Amerika menjadi sunyi.

Kita mafhum bahwa disrupsi lingkungan dari dulu hingga sekarang banyak disumbang oleh aktivitas manusia, seperti yang ditulis oleh Rachel Carson tadi. Contoh yang lain adalah ketika kunang-kunang dan capung tidak lagi menghiasi ladang-ladang kita. Itu pertanda sederhana bahwa bisa jadi lingkungan mereka telah tercemar. Dan diprediksi ke depan, disrupsi lingkungan mulai bergeser ke arah yang lebih mengkhawatirkan.

Era digital saat ini juga tidak lepas dari aktivitas yang bisa mendisrupsi lingkungan. Suatu laporan dari Jurnal Nature menyebutkan bahwa pusat data para perusahaan informasi (Facebook, Microsoft, Google, dll) menggunakan sekitar 200 terawatt jam (TWh) listrik setiap tahun. Kebutuhan energi yang tidaklah kecil. Dan kebutuhan energi tersebut akan terus membengkak sejalan dengan kebutuhan internet yang juga semakin naik. Penggunaan energi yang maha besar juga turut menyumbang disrupsi lingkungan dan juga perubahan iklim di masa mendatang, karena residu yang ditinggalkan.

Kita juga bersepakat bahwa segitiga epidemiologi --interaksi antara penyebab penyakit (agent), penjamu (host), lingkungan (environment))-- masih menjadi patokan dasar. Dalam hal ini kaitannya dengan serangga, lingkungan, dan manusia juga mirip dengan segitiga epidemiologi tersebut. Para peneliti di The Journal of Infectious Diseases menyebutkan bahwa perubahan iklim (environment) diperkirakan akan mengakibatkan pergeseran besar dalam penyebaran serangga (agent) yang berkaitan dengan kesehatan manusia, ekonomi, dll (host).

Kita ambil contoh nyamuk, yang merupakan hewan paling mematikan di bumi. Satu aspek penting ciri serangga adalah mereka merupakan hewan berdarah dingin, yang artinya bahwa kondisi tubuh mereka dipengaruhi langsung oleh suhu lingkungan (luar tubuh). Jika terdapat perubahan suhu akibat perubahan iklim atau disrupsi lingkungan, maka perkembangan, siklus hidup, jumlah, dan penyebarannya juga ikut berubah. Ketika suhu naik, nyamuk akan bertelur lebih banyak dan berdampak pada peningkatan populasi. Maka secara tidak langsung mereka akan menempati daerah-daerah di sekitar manusia dan menyebarkan penyakit-penyakit mematikan.

Laporan lain juga dinyatakan oleh beberapa peneliti di Jurnal Trends in Parasitology bahwa serangga pembawa virus dengue, yaitu nyamuk Aedes aegypti, akan melakukan perluasan sebaran ke daerah dimana banyak tersedianya wadah penampungan air bersih sebagai tempat hidup jentiknya. Nyamuk ini juga sudah menempati daerah pada ketinggian lebih dari 1.000 mdpl bersuhu sejuk yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Namun, apabila daerah pada ketinggian lebih dari 1.000 mdpl berubah menjadi lebih hangat pada masa mendatang, maka bisa dimungkinkan nyamuk ini akan melakukan perluasan sebaran dan diikuti juga oleh sebaran DBD.

Contoh lain adalah nyamuk Anopheles, si penular malaria. Nyamuk ini akan lebih beringas menggigit apabila terjadi peningkatan suhu lingkungan. Selain itu, siklus hidup plasmodium (si penyebab malaria) dalam tubuh Anopheles juga akan lebih cepat. Lalu, dampaknya adalah terjadi percepatan penularan malaria dari sebelumnya.

Gotong Royong Lintas Sektor

Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa suhu diprediksi akan naik sebesar 1,5 °C antara tahun 2030 dan 2052. Adapun kesepakatan 195 negara dalam kerangka kerja konvensi perubahan iklim (UNFCCC) sudah disetujui, serta ratifikasi Protokol Kyoto oleh pemerintah Indonesia. Dari dua hal tersebut, kemudian Indonesia dapat menerjemahkannya ke dalam kebijakan tingkatan lokal/daerah.

Komitmen pemerintah dan juga dibantu oleh lintas sektor harus kita dukung. Roadmap kebijakan jangka panjang yang dicanangkan oleh pemerintah agaknya harus dipetakan per daerah berbasis lingkungan dan diprioritaskan terhadap kelompok rentan terdampak. Mengapa? Kalau terus terjadi disrupsi lingkungan akibat aktivitas manusia ataupun anomali iklim, namun daya dukung lingkungan menurun, maka untuk memulihkannya lagi butuh ongkos dan tenaga yang tidak kecil. Meminjam kalimat dari Sonny Keraf bahwa kebijakan-kebijakan yang pro lingkungan tidak lagi berorientasi pada manusia, namun berorientasi pada komunitas ekologis.

Program gerakan masyarakat hidup sehat, program 3M (menguras, menutup, mendaur ulang) plus, dan bijak penggunaan pestisida ternyata masih sejalur dengan semangat pemberantasan penyakit tular nyamuk (DBD & malaria). Upaya lain seperti peralihan pembangkit energi dan transportasi yang rendah karbon juga senafas dengan kebijakan pro lingkungan yang berorientasi pada komunitas ekologis untuk mengurangi karbon. Program-program ini sebagian besar sudah dijalankan oleh pemerintah dengan bekerja sama lintas sektor. Semuanya masih relevan hingga saat ini.

Selain itu, pengoptimalan pemetaan risiko penyakit dengan penggunaan teknologi dan pengindraan jarak jauh juga perlu diperluas lagi untuk antisipasi masa mendatang. Pengawasan lalu lintas serangga atau organisme lain di pintu-pintu negara seperti di pelabuhan, bandara dan pintu masuk lainnya juga masih sangat penting. Serta penerapan protokol diagnostik yang cepat dan akurat juga diperlukan untuk melengkapi alat-alat yang sudah ada.

Kebijakan yang bagus tentu tidak akan berefek positif ketika masyarakat sebagai pelaksana juga tidak mengindahkan. Disrupsi lingkungan dan perubahan iklim masih menjadi isu hangat pada masa-masa mendatang. Apalagi ditambah dengan situasi pandemi Covid-19 ini yang sedikit banyak mendisrupsi segala hal. Yang pasti tidak hanya serangga yang ikut terdampak, aspek-aspek lain juga terdampak. Semua saling bertautan. Dan seperti pepatah "bumi bukan warisan nenek moyang, namun titipan anak cucu kita" adalah benar adanya dan harus kita jaga.

Nurhadi Eko Firmansyah mahasiswa S-3 Khon Kaen University

Simak juga 'Pertunjukan Wayang Serangga di Persawahan Magelang':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)