Kolom

Memastikan Kembali Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka

Tundung Memolo - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 13:29 WIB
330 sekolah di Kota Bandung menggelar simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Ujicoba ini digelar dan dipantau langsung Pemkot Bandung dari Tanggal 7-18 Juni 2021 mendatang.
Protokol kesehatan di lingkungan sekolah harus terus didengungkan (Foto: Wisma Putra)
Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menegaskan pembelajaran tatap muka terbatas tidak sama seperti sekolah tatap muka biasa, melainkan dengan berbagai protokol kesehatan ketat. Hal ini sebagai bentuk penjelasan maksud dari pernyataan Presiden Joko Widodo terkait pembelajaran tatap muka terbatas pada masa pandemi Covid-19.

Panduan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah diatur dalam Surat Keputusan Bersama 4 Menteri sejak Januari lalu. Sekolah yang sudah atau dalam proses melakukan PTM terbatas dengan durasi belajar dan jumlah murid berbeda tetap diperbolehkan selama mengikuti protokol kesehatan dan di bawah batas maksimal yang tercantum dalam SKB 4 Menteri.

Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri mengatakan, vaksinasi Covid-19 bagi pendidik dan tenaga kependidikan baru mencapai 35 persen dari target yang telah ditetapkan. Artinya dari 5,5 juta jumlah pendidik dan tenaga pendidikan, pada kisaran 2 juta yang baru mendapatkan vaksinasi. Vaksinasi guru dan tenaga kependidikan yang ditetapkan molor dari target. Nadiem Makarim menargetkan vaksinasi guru selesai pada pertengahan Juni hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun kini Nadiem menetapkan vaksinasi paling telat selesai Agustus 2021.

Lonjakan Covid di Kudus misalnya, penyebab utamanya berupa mobilitas dan protokol kesehatan kendor. Selanjutnya, barulah faktor varian baru mulai berkontribusi. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, salah satu penyebab ledakan kasus Covid-19 di Kudus adalah karena keberadaan varian baru Covid-19 baru di sana. Nadia mengkonfirmasi bahwa varian Covid-19 yang ada di sana adalah dari India, yakni B1617.2.

Kegamangan pemda menyelenggarakan pembelajaran tatap muka pun masih tergolong sangat sedikit. Nadiem menyebut jumlah sekolah yang sudah menggelar pembelajaran tatap muka masih sangat rendah, yakni 15 persen.

Berdasarkan penjelasan data di atas, setidaknya terdapat tiga tantangan utama yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Pertama, vaksinasi Covid-19 bagi tenaga guru yang belum tuntas sebelum tahun ajaran baru. Kedua, kekhawatiran adanya gelombang tsunami corona seperti India, yang mana sudah munculnya kluster-kluster piknik, ziarah, pengajian, dan lain-lain serta menambahnya zona merah di daerah tertentu seperti di Kudus dan Bangkalan. Ketiga, belum beraninya pemda memutuskan kewenangan untuk menetapkan pembelajaran tatap muka sekalipun Pemda sudah menguji coba sekolah-sekolah tertentu melaksanakan tatap muka terbatas.

Tiga tantangan di atas tentu saja akan menjadi batu sandungan ketika Pemda ingin melakukan pembelajaran tatap muka. Mereka takut nantinya siapa yang akan bertanggung jawab bilamana terjadi banyak kluster di sekolah. Di sisi lain, kesiapan PTM baru mencapai 79,54 persen, dan yang belum siap 20,46 persen sebagaimana dijelaskan Retno, Komisioner KPAI, dalam rapat Persiapan Pembelajaran Tatap Muka melalui kanal YouTube KPAI.

Demikian juga, kesiapan sekolah untuk menyelenggarakan protokol kesehatan dalam pelaksanaan pembelajaran bisa dikatakan sangat siap. Semisal pengecekan suhu saat masuk sekolah, mencuci tangan, menjaga jarak, pembatasan jumlah siswa, meminimalkan kerumunan, penggunaan masker, kebertahanan guru menggunakan masker selama berjam-jam, dan lain-lain.

Namun ketika tatap muka tidak dilakukan, maka bagaimana nasib kualitas kompetensi peserta didik akankah masih dapat dibangun dengan pembelajaran online semata? Seandainya kualitas kompetensi masih bisa dicapai lalu bagaimana dengan pembinaan karakternya? Jika saat pembelajaran tatap muka saja karakter yang dicita-citakan masih jauh dari harapan, maka bagaimana lagi bisa diraih dengan pembelajaran online semata?

Faktanya saat pembelajaran online, siswa tidak semua bisa mengaksesnya, masih banyak siswa yang main game, banyak pula yang mereka bermain di jalanan hingga lupa waktu, bahkan keluar untuk bekerja yang akhirnya malas kembali ke sekolah dengan bukti tugas-tugas sekolah yang terbengkalai. Hingga angka putus sekolah menjadi meningkat.

Lalu bagaimana mengatasinya? Tentu saja sesegera mungkin prioritas untuk guru dan tenaga pendidikan untuk dilakukan vaksinasi. Target yang sudah ditetapkan jangan sampai molor lagi. Protokol kesehatan yang tidak henti-hentinya didengungkan di lingkungan sekolah jangan sampai lengah. Dan yang terakhir, pemda sesegera mungkin membuat pemetaan. Mana daerah yang merupakan zona hijau, zona kuning, zona merah, atau zona hitam berdasarkan zonasi sekolah. Jadi, dengan semakin sempit batas zonasi yang dapat dipetakan, akan memudahkan keberanian pemda memetakan pembelajaran tatap muka terbatas.

Yang terpenting juga, pemda jangan sampai takut untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas asalkan protokol kesehatan benar-benar diterapkan dan tidak lengah untuk selalu mengontrolnya. Semoga, di tahun ajaran baru nantinya 100% sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka terbatas.

Tundung Memolo, M.Sc guru SMPN 3 Kepil, Wonosobo

(mmu/mmu)