Sentilan IAD

Jalan Kaki dan Segala Nasihat yang Sulit Dijalani

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 19:08 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)Iq
Jakarta -

Pagi tadi, akhirnya saya berolahraga lagi. Bukan semata karena motif kesehatan, meski dua hari terakhir saya memang agak kurang enak badan. Tetapi karena saya juga ingin cari ide buat menulis. Menulis rutin setiap pekan selama empat setengah tahun membuat sumur ide saya terus mengering hingga level mengkhawatirkan.

Beruntunglah saya, karena di masa-masa krisis ide begini terbaca oleh saya tentang ajaran spiritual berjalan kaki. Ada banyak penulis dan pemikir melakukannya. Mulai Charles Dickens, Immanuel Kant, Nietzche, hingga Virginia Woolf. Tentu saja itu belum semua, masih ada banyak sekali pemikir lainnya yang menjalani lelaku jalan kaki demi memantik daya kreatif mereka.

Karena itulah, dengan penuh semangat mengusir masuk angin sekaligus memburu ide tulisan, pagi-pagi saya meluncur ke Lapangan Paseban, Bantul. Memarkir kendaraan saya, memastikan tali sepatu olahraga saya terikat sepantasnya, dan saya mulai mengayun kaki dengan yakinnya.

Satu putaran pertama, badan saya menghangat. Sesekali saya selingi dengan berlari kecil. Ketika butir-butir keringat mulai berleleran di leher dan punggung, saya merasa satu masalah sudah teratasi. Badan mulai segar, tak lagi lemas, masuk angin pun bablas.

Malangnya, PR kedua belum selesai. Di otak saya belum sepotong pun terlintas ide! Maka, putaran kedua saya jalani. Kali ini lebih cepat. Melangkah cepat memutar lapangan yang sepi tidak menimbulkan risiko apa pun. Kaki bisa bergerak cepat susul-menyusul, pandangan mata tak perlu sibuk mencari celah kosong sebagaimana kalau kita berjalan menembus kerumunan, dan yang terpenting adalah pikiran dan imajinasi bisa bebas melayang-layang.

Tapi, sebebas apa? Entah di langkah ke berapa ratus, tiba-tiba satpam kantor bupati menghalangi laju kaki saya. Ada beberapa sepeda motor yang mesti melintas, dan si satpam mencegat saya dulu. Lalu saya membayangkan pekerjaan satpam-satpam itu. Berapa jam mereka harus berdiri di situ? Berapa gaji mereka? Apakah mereka tidak takut korona?

Ah, tetap tak ada apa-apa yang bisa saya tulis dari mereka. Sampai kemudian mata saya tertumbuk ke gerobak milik seorang pedagang burjo di sudut tenggara lapangan. Dia duduk menunduk sambil melakukan sesuatu entah apa. Belum ada satu pun pelanggan mendatanginya. Berapa omset dia seharian? Jam berapa dia mulai memasak? Apakah angka positif Covid yang melonjak beberapa hari terakhir berpengaruh pada penghasilannya?

Duh, biasa banget semua itu kalau mau ditulis. Tak ada perspektif menarik apa pun yang bisa saya bahas. Padahal, kepada siapa pun saya selalu sesumbar, kalau cuma bercerita saja semua orang juga bisa. Yang paling dibanggakan oleh seorang penulis adalah sudut pandang. Tanpa sudut pandang, tak akan ada gagasan. Gagasan pun tak akan bernilai jika klise dan bisa disampaikan oleh kerumunan orang-orang.

Masalahnya, sudut pandang dan gagasan spesial apa yang bisa saya gali dari seorang pedagang burjo? Tidak ada. Tidak ada.

Saya mulai putus asa. Mungkin sudah lima kali saya memutari lapangan yang rumputnya mulai kehilangan hijaunya itu. Dan belum ada ide apa-apa yang menyusup ke celah batok kepala saya. Saya mulai curiga, jangan-jangan Immanuel Kant dan Virginia Woolf cuma membual dan menciptakan mitos-mitos tentang diri mereka.

Atau sebenarnya memang segala tips dan nasihat yang tampak ilmiah di dunia ini tak bisa berlaku universal, alias cuma dapat dijalankan oleh orang-orang tertentu saja? Mirip-mirip celetukan siapa pun tiap kali berobat ke pengobatan alternatif: cocok-cocokkan. Itu saja. Jadi bukan perkara manjur dan enggak, tetapi cocok dan tidak. Kalau cocok ya lanjut, kalau tidak cocok ya sudah.

Ini tak bedanya keluh kesah saya dua hari lalu, tentang nasihat-nasihat pengasuhan.

Ceritanya, dulu di masa kuliah, saya membaca buku klasik Totto Chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Buku itu benar-benar membuat saya kepingin jadi guru, atau setidaknya menjalankan fungsi guru. Poin utama yang saya ingat dari buku itu adalah tentang wajibnya kita untuk telaten dalam menyimak pertanyaan anak-anak, sekaligus menjawabnya satu demi satu.

Pernah dalam dua bulan, selama kuliah kerja (agak) nyata di pelosok desa, saya coba menerapkan spirit buku itu. Waktu itu saya mengajar anak-anak SD untuk bercerita dan menulis tentang diri mereka, dan anak-anak itu saya bebaskan nyeletuk apa saja. Saya simak baik-baik celotehan mereka, saya jawab satu per satu pertanyaan mereka, saya besarkan hati anak-anak itu dengan memberikan tepuk tangan heboh usai setiap penampilan mereka.

Kesabaran Pak Iqbal ternyata membawa buah. Beberapa anak yang awalnya pendiam dan takut-takut tiba-tiba mengangkat tangan dan dengan percaya diri maju ke depan. Saya pun merasa sukses besar, menjadi guru semulia-mulianya.

Sampai kemudian saya sendiri punya anak. Dua anak yang amat pemalu di luar rumah, tapi begitu ceriwis saat di dalam rumah. Keceriwisan dan pertanyaan-pertanyaan mereka, yang sering kali sampai membuat saya gagal melakukan berbagai aktivitas saya, membuat Si Totto Chan tak lagi berarti apa-apa. What? Menjawabi semua-mua pertanyaan, satu demi satu? Lah, apa dikira saya ini mesin penjawab, yang default tugasnya cuma itu dan itu?

Saya mesti bekerja, mesti menulis, mesti nonton film, mesti baca buku, jenis-jenis aktivitas yang mau tak mau harus saya jalankan, dan tak bisa diselingi distraksi berupa berondongan pertanyaan dengan pola tak beraturan. Memangnya ibunya Si Totto Chan itu pekerjaannya apa, sih?

Saya mulai berpikir, jangan-jangan yang ditulis di buku itu tujuh puluh persen mitos dan baru sisanya fakta. Segera pula terngiang di telinga saya nasihat-nasihat keayahbundaan lain yang bijak-bijak itu. "Parents, tahan napas, jangan ikut emosi melihat anak Anda tantrum di depan umum. Dudukkan dia, duduklah pula Anda, dan bicarakan baik-baik semuanya."

Hei, hei. Ya kalau memang si "parents" itu punya cukup waktu dan energi untuk itu. Kalau pekerjaannya membuat dia harus memeras keringat habis-habisan, banting tulang, dan waktu yang terbuang akan berarti pula periuk yang hilang, apa iya semua nasihat bijaksana itu dapat dijalankan sepenuhnya?

Saya juga teringat motivator kondang itu. Dia seorang yang tampak sangat ideal dalam menjalani hidup, rumah tangganya rukun aman sentausa indah permai, dan selalu menasihatkan kepada pendengarnya bahwa kehidupan seperti itu sangat bisa diwujudkan asal kita mau.

Sampai kemudian kita mendengar bahwa di balik pesona panggungnya, ternyata keluarganya berantakan, dan si motivator berkelahi keras sekali dengan anak lelakinya.

Urusan privat orang memang bukan urusan saya. Tetapi, yang terjadi di luar lingkaran privat itu agaknya mengerikan. Banyak orang telanjur meratapi kondisi keluarga mereka. Mereka merasa gagal, merasa buruk, merasa nggak becus membangun rumah tangga. Kenapa? Karena mereka selalu menonton keluarga Sang Motivator itu, dan menjadikannya sebagai suri tauladan utama.

Mereka senantiasa meletakkan Sang Motivator sebagai tolok ukur akan manisnya surga dunia bernama rumah tangga. Sembari itu mereka tak henti membayangkan, bahwa keluarga yang baik adalah keluarga yang dicitrakan Sang Motivator: yang serba penuh kelembutan, penuh sanjungan satu sama lain, penuh ucapan terima kasih, penuh permaafan, penuh penghormatan, penuh canda tawa, tak ada amarah dan luka lara yang berlama-lama.

Akibatnya, ketika ada keluarga yang menjalani dinamika yang berbeda, mereka pun langsung putus asa. Padahal apa yang sesungguhnya terjadi? Ya, sebenarnya mereka masih dalam batas normal saja. Ada tangis, ada tawa, ada luka, ada gembira.

Saya masih terus melangkah. Kali ini saya belokkan ayunan kaki saya ke arah Pasar Bantul. Saya masih berharap akan menemukan satu ide brilian untuk tulisan saya. Tapi ketika akhirnya saya ingat bahwa Jean-Jacques Rousseau berjalan kaki 30 kilo per hari, bahkan pernah satu kali berjalan 485 kilo dari Jenewa ke Paris, saya tahu bahwa muter-muter di sekeliling Pasar Bantul itu belum apa-apa sama sekali.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)