Kolom

Belanja Alutsista Rp 1,760 T, Perlu Diskursus Publik!

Prof Tjipta Lesmana - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 17:30 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Foto: Prof. Tjipta Lesmana
Jakarta -

Penampilan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di Podcast Deddy Corbuzier pada Senin pagi, 14 Juni 2021, jelas sebagai tanggapannya terhadap 'serangan' Conie Rahakundini Bakrie selama hampir dua. Ya, sejak April, DR. Connie, akademisi dan pengamat masalah militer dan pertahanan tiba-tiba menjadi bintang yang berkibar di mana-mana.Nyaris hampir tiap hari dia muncul di berbagai kanal Youtube membahas satu topik yang sama: Usulan anggaran Alutsista Kemhan 2020-2024 yang fantastis jumlahnya, Rp 1.690 Triliun! Inilah anggaran Kementerian paling besar sejak Indonesia merdeka.......

Paling sedikit ada 5 pertanyaan yang ulang-ulang dilempar Connie pada setiap diskusi di kanal Youtube: (1) buat beli apa saja dengan anggaran yang jumbo itu? (2) Kenapa road-map Kemhan terkesan dibuat tergesa-gesa tidak lama setelah kapal selam Naggala tenggelam dekat perairan Bali yang menewaskan seluruh awaknya? (3) Kenapa Menhan tiba-tiba mendirikan perusahaan swasta bernama PT TMI, Teknologi Militer Indonesia, dengan personalia sebagian besar eks anak-buahnya di Akademi Militer (Akmil) dan kader Partai Gerindra ? (4) Mengapa belanja alutsista dengan anggaran luar biasa besar dilunasi dengan sistem utang luar negeri selama 5 (lima) tahun (2020-2024) ? (5) Terakhir, ini "sodokan" Conie yang berani: Kemhan dikuasai oleh mafia alutsista bernama Mr. M.........!

Menhan Prabowo Subianto cukup lama tutup mulut, tidak mau menanggapi serangan Connie. Tapi, Pak Prabowo tampaknya memahami teori propaganda Lenin, pendiri Uni Soviet: Jika Anda diam terus diserang lawan, konten serangan itu lama-kelamaan dianggap benar (truth) oleh masyarakat luas. Jika Anda yakin-seyakinnya tidak melakukan apa yang diserang oleh lawan, SPEAK UP, NGOMONG, jangan bungkam terus!

Nah, penampilan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di Podcast Deddy Corbuzier pada Minggu 13 Juni 2021 cukup heboh. Publik semula yakin Prabowo akan menggunakan kesempatan itu untuk menangkal semua tudingan Connie soal rencana belanja alutsista yang menghebohkan itu. Ternyata, wawancara selama satu jam lebih itu, sebagian besar, diisi mengenai masalah politik, termasuk pertanyaan Deddy apa Pak Prabowo siap maju lagi pada Pilpres 2024. Ketika, Deddy menyinggung isu yang sensitif, tentang rencana belanja alutsista dengan anggaran jumbo, Prabowo hanya menjawab: Soal alutsista, itu merupakan perintah Jokowi yang pernah menugasi saya di awal menjabat Menhan untuk membuat konsep besar pertahanan Indonesia untuk 25 tahun ke depan. "Harusnya konsep itu sudah selesai sejak lama. Tapi karena pandemi, jadi tertunda,"

Prabowo juga mengatakan "Ini masih digodok. Belum ada keputusan. Nanti kan presiden akan bertanya pada menteri-menteri yang lain. Jadi, masih jauh. Heran, kenapa bisa bocor?"

Dua hari sebelumnya, Jumat 11 Juni mendadak ada berita tentang pertemuan Prabowo-Connie di kantor Kemhan. Connie mengaku dirinya diundang oleh Menhan. Apa yang dibahas oleh kedua sosok ini? Lagi-lagi, masyarakat tentu berspekulasi fokus dari pertemuan penting itu menyangkut rencana pengadaan Kemhan membeli alutsista beranggaran jumbo tersebut.

Ditanya apa saja yang dibahas dalam pertemuan tersebut, Connie menjawab singkat : "Ya tentang membangun negeri, membangun pertahanan yang bersinergi, gitulah kira-kira," jawaban yang bersifat high context! Menurut Connie, Menteri Pertahanan sendiri yang akan mengumumkan hasil rapat bersama tersebut pada Senin, 14 Juni 2021. "Saya tidak punya kewenangan untuk mengumumkan." ujar dia.

Senin 14 Juni 2021, ternyata, tidak ada pengumuman resmi yang dimaksud Connie. Apa yang terjadi? Rupanya, hasil pertemuan 15 menit itu bersifat top secret, publik tidak, atau belum boleh tahu. Jadi, apa yang sudah dicapai dalam pertemuan 15 tahun antara Menhan dan Ibu Connie ? Segala sesuatu yang dirahasiakan, selalu, menimbulkan kecurigaan atau was-was publik.

Demi kebaikan Menhan dan semua pihak, demi menghindari hoax yang liar, soal usulan pengadaan alutsista dengan anggaran jumbo sebaiknya SEGERA dibuka ke publik. Meski baru bersifat usulan, Kementerian Pertahanan harus berani membuka diskursus publik. Ingat, masalah bangsa apa pun, apalagi yang menyedot anggaran sangat sangat besar, rakyat harus tahu, dan rakyat punya hak untuk tahu dan memberikan persetujuannya karena uang yang dipakai uang milik rakyat. Bukan uang Kemhan, apalagi uang Menhan. Persetujuan DPR saja tidak cukup, sebab bukan rahasia lagi, DPR saat ini sering dicurigai berkolaborasi dengan eksekutif.

Belanja alutsista sejak puluhan tahun yang lalu memang dicurigai sering diwarnai "mafiaisme". Wajar. Anggaran yang besar bisa memikat oknum-oknum pejabat terkait untuk merampoknya. Ketika menjabat Menhan, Prof. Yuwono Sudarsono bahkan pernah menuding ada oknum-oknum wakil rakyat yang juga terlibat. Belakangan Yuwono mencabut kembali pernyataannya karena kemarahan DPR. Kemhan juga pernah membeli 103 unit tank raksasa Leopard dari Jerman senilai 8,5 juta Euro (Rp 136 milyar kurs waktu itu) per unit. Tank raksasa dengan smoothbore berdiameter 120 mm ini dibuat oleh Krausse Maffei, Jerman, untuk pertempuran jarak jauh. Seorang anggota DPR purnawirawan Mayor Jenderal TNI geleng-geleng kepala dan bertanya: Buat apa kita membeli rank raksasa itu? Di mana ada medan temur kita yang dapat mengoperasikan Leopard?

Seorang perwira tinggi bintang tiga memberitahukan saya, untuk "menenteng" satu unit Leopard saja dibutuhkan dana mahal karena begitu berat. Alhasil Leopard selama ini hanya jadi "pajangan" di kandangnya di Bandung, praktis tidak pernah dipakai oleh TNI-AD.

Baru beberapa hari, Menhan Prabowo Subianto berucap bahwa ia berhasil membongkar mafia alutsista di kantornya. Ada alutsista yang dibeli dengan harga mark-up harga 600%. "Saya sudah lapor ke Presiden Jokowi," kata Menhan. Benar atau tidak, dari catatan kita sejauh ini, Kemhan rupanya jadi permainan tangan-tangan kotor karena anggaran alutsista yang sangat menggiurkan.

Menhan sekarang juga tidak lepas dari kecurigaan berbagai pihak. Maklum, Prabowo orang partai politik, bahkan Ketua Umum Partai Gerindra. Ia diduga kuat baka maju lagi dalam Pilpres 2024.

Ketika baru menjabat Menhan, Prabowo sudah keliling berbagai negara. Dalam kunjungannya itu, ia nyaris selalu menyatakan hasratnya membeli alutsista. Di Austria, ia menyatakan rencana memperkuat pertahanan NKRI dengan membeli 15 pesawat jet Eurofighter Typhoon buatan negeri itu. Harga per unit pesawat ini ditaksir mencapai 1,84 triliun.. Pesawat yang hendak dibeli dalam kondisi bekas. Ada yang menyebut, langkah ini bisa jadi blunder bagi Prabowo. Apalagi, di negaranya sendiri, Austria, pesawat ini juga memicu perdebatan, antara lain karena biaya operasionalnya terlalu tinggi: Rp 1,3 miliar per jam.

Tanggal 10 Juli 2020 (ketika Indonesia sudah memasuki pandemi covid-19) Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan persetujuannya menjual pesawat tiltrotor MV-22 Osprey Block C kepada Kementerian Pertahanan RI. Nilai total pembelian 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp28,9 triliun. Anggota Komisi I DPR Fraksi PPP Muhammad Iqbal, meminta Kemhan menimbang kembali rencana pembelian alutsista itu, mengingat keadaan ekonomi negara yang sedang sulit.

Akhir Nopember 2018 Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diterima Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan dalam kunjung kerjanya 27-29 November 2019. Dalam pertemuan dengan Presiden Erdogan, Menhan kita menyampaikan keinginan pemerintah Indonesia untuk semakin memperkuat kerja sama pertahanan dan industri pertahanan yang sudah berjalan selama ini.

Tanggal 11 Nopember 2020 Amerika Serikat merestui rencana Indonesia untuk membeli jet tempur F-15 dan F-18. Plt Menhan AS , Christopher Miller telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada 7 Nopember 2020 membahas kesepakatan ini. Sebelumnya, Indonesia telah mengajukan permohonan untuk dapat mengakuisisi jet tempur F-15, F/A-18, dan F-35 kepada pihak AS. Namun tampaknya hanya F-15 dan F/A-18 yang direstui. Jet tempur F-15 Eagle dan F/A-18 Hornet sendiri diproduksi oleh perusahaan AS, McDonnell Douglas dan Boeing.

Nasib jet tempur KFX/IFX, pesawat tempur buatan bersama Indonesia-Korsel yang dirintis sejak Menhan Purnomo Yusgiantoro tampaknya mendekati tamat. Memang sejak awal Pentagon tidak menyetujui Korea Selatan menjual prototipe jet F-15 kepada Indonesia. Tidak diketahui berapa biaya Indonesia yang ludes jika proyek ini kandas. Nasib Shukoi yang kontrak pembeliannya sudah ditekan 3 tahun yang lalu juga mengambang.

Soal usulan modernisasi alutsista kita, hampir semua pihak bisa menyetujuinya, karena sebagian besar alutsista kita memang sudah ketinggalan zaman, meskipun menurut Global Firepower pada 2021 Indonesia berada di peringkat ke-16 dalam kekuatan militer di dunia. Di Asia kita hanya di bawah RRT, India, Jepang, Korsel dan Pakistan.

Yang jadi kontroversial dan bahan perdebatan ramai hanyalah (1) jumlah anggaran yang fantastis, Rp 1.760 triliun, (2) skema pembayaran dengan sistem utang selama 25 tahun tapi dilunasi pada 2024. Ya, belanja alutsista itu dipakai seluruhnya pada 2020-2024, total kredit itu dihabiskan selama 5 tahun, dengan bunga 25 tahun. Anggaran sebesar itu untuk meng-cover biaya alutsista, amunisi, reparasi, dan bunga kredit. Anehnya, anggaran Kemhan 2020 sebesar Rp 131 T hampir dipastikan sudah habis dipakai; bahkan anggaran tahun 2021 sebesar Rp 136,9 T pun sebagian sudah dibelanjakan. Bagaimana cicilan kredit bisa diambil mulai dari Anggaran tahun 2020, 2021 .......

Melalui diskursus publik yang jujur dan melibatkan semua stake-holders masalah militer/pertahanan, segala misinterpretasi yang timbul selama ini kiranya bisa sirna.*

Prof Tjipta Lesmana Dosen Tamu Sesko TNI

(isa/isa)