Kolom

Kekerasan pada Nakes dan Trauma Masa Lalu

Ita Fajria Tamim - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 15:06 WIB
nakes
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Awal Juni 2021, lagi-lagi kita dihebohkan oleh kasus dua akun Facebook yang memaki-maki dan mengancam melakukan kekerasan pada seorang dokter di Ponorogo. Sebelumnya, pada April diberitakan kasus seorang perawat yang ditendang keluarga pasien di sebuah rumah sakit (RS) di Tana Toraja. Pada bulan yang sama juga muncul berita dua orang pemuda masuk IGD RSA UGM dan memaki-maki petugas sehingga menimbulkan kehebohan dari pasien dan keluarga pasien yang sedang dirawat.

Beberapa waktu sebelumnya kita juga terperangah saat ayah seorang pasien anak memukuli dan menjambak seorang perawat wanita di RS Siloam Palembang. Saat diperiksa, pelaku mengaku emosi karena melihat darah keluar dari tangan anaknya saat korban melepas infus. Sebagai seorang tenaga kesehatan atau nakes, tentu saya prihatin dengan rentetan kejadian ini. Apapun alasan pelaku, tetap sulit bagi kita memahami kenapa pelaku begitu emosional dan lepas kontrol.

Peristiwa kekerasan pada nakes termasuk cukup sering terjadi di Indonesia. Pelakunya rata-rata adalah keluarga atau penunggu pasien. Alasan yang dikemukakan pun beragam. Mulai dari lambatnya penanganan yang diterima, sikap nakes yang kurang bersahabat, atau keadaan pasien yang memburuk dan pelaku butuh objek untuk melampiaskan kesedihannya.

Menemukan Pembenaran

Jika melihat dari setting kejadian, sebenarnya peristiwa kekerasan pada nakes ini seakan terjadi dalam situasi yang "dibenarkan". Orang yang datang ke RS atau pelayanan kesehatan tentu adalah orang yang mendapat musibah sakit, emosinya sedang dirundung sedih karena anak atau kerabat sakit, belum lagi memikirkan biaya yang nanti harus ditanggung. Syukur-syukur kalau uang cukup, kalau tidak? Pikiran suntuk, hati ruwet.

Setting ini menjadikan individu pelaku dengan mudah menemukan pembenaran atas tindakan premanisme yang dilakukannya kepada nakes. Padahal, logika sebenarnya justru menunjukkan sebaliknya. Seorang individu dewasa seharusnya secara psikis mampu mengontrol emosinya dan tidak membiarkan respons impulsif menguasai dirinya. Apalagi sampai melukai orang lain.

Jika seorang individu dewasa seharusnya mempunyai kontrol terhadap tindakannya, maka timbul pertanyaan berikutnya. Kenapa beberapa individu di atas seakan lepas kontrol dan melakukan penganiayaan pada nakes? Dari sini muncul pertanyaan lagi. Apa ada persepsi di masa lalu yang membuat mereka menjadi impulsif pada nakes?

Saya teringat suatu saat di masa kecil saya. Sejak kecil saya sangat menyukai rumah sakit dan tenaga medis. Saya seakan menemukan tempat yang bersih, nyaman, dan friendly untuk didatangi. Itulah kenapa, setiap sakit dan harus periksa ke dokter, saya dengan senang hati akan berangkat tanpa paksaan. Kaki saya melangkah ringan, se-ringan berangkat tamasya. Senyum saya lebar, selebar pintu UGD yang menyambut saya di rumah sakit.

Sebaliknya, seingat saya di masa itu, kebanyakan anak kecil seusia saya justru menunjukkan respons sebaliknya. Saat sakit dan harus berobat, seringkali anak-anak itu harus dipaksa dan ditakut-takuti dahulu. Jeritan, tangisan, dan tantrum jelas menjadi bagian tak terpisahkan. Parahnya lagi, di tahun 90-an ilmu parenting belum berkembang ranum seperti sekarang. Anak tantrum bukan disayang-sayang, tapi malah dicubit, dipukul, atau dibentak. Duh, sudah jatuh tertimpa tangga.

Yang lebih 'seram' lagi, karena tahu bahwa rumah sakit, dokter, dan hal-hal lain berbau medis adalah sesuatu yang ditakuti anak-anak, orangtua zaman itu justru menemukan mantra ajaib. Terutama saat butuh tools untuk memaksa anak mereka melakukan apa yang orangtua inginkan. Anda pasti familier dengan kata-kata ini: "Hayoo, kalau nggak mau makan nanti disuntik Pak Dokter lho...." dan sejenisnya.

Anda tentu terbayang bahwa anak-anak milenial yang lahir di tahun 90-an itu sekarang sudah berkeluarga, menikah, dan bahkan punya anak. Anak-anak ini tumbuh dan besar dengan rasa takut terhadap dokter dan perangkat-perangkatnya secara berlebihan. Lebih jauh lagi, sebagian bahkan mungkin tumbuh dengan kebencian terpendam di relung hati mereka.

Sebagian besar mungkin bahkan tidak sadar bahwa kebencian terpendam ini ada. Mereka masih anak-anak saat itu. Masalahnya, mereka dan orangtua mereka saat itu mungkin tidak paham bahwa otak anak belum terbentuk sempurna. Reticular activating system di otak anak masih terbuka lebar dan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya imajinasi semata. Otak mereka bagai spons, menyerap semua yang dikatakan orang di sekitarnya tanpa filter.

Anak-anak inilah, mungkin sama dengan generasi-generasi sebelumnya, yang menyimpan unfinished business berupa luka batin terhadap dokter atau tenaga medis. Dan sebagaimana trauma masa kecil lainnya, bom waktu ledakan emosi bisa terjadi sewaktu-waktu saat ada pemicu. Bisa jadi. Mungkin para pelaku penganiayaan di awal tulisan saya itu adalah korban-korban unfinished business ini.

Pengalaman Berulang

Di sisi lain, jejak trauma terhadap nakes dan fasilitas kesehatan bisa juga tak hanya dialami saat masa kecil saja. Beberapa bisa terjadi seiring dengan pengalaman yang ditemui dan berulang. Baik pengalaman sendiri maupun mendengar dan menghayati cerita dari pengalaman orang lain.

Bagi beberapa orang misalnya, datang ke rumah sakit seringkali menjadi mimpi buruk. Selain karena kondisi sakit yang dihadapi, juga terkait dengan pembayaran. Beberapa rumah sakit memang masih belum terbiasa dengan SOP untuk menjelaskan secara gamblang perkiraan total biaya yang harus dibayar oleh pasien saat selesai perawatan nanti. Entah karena alasan emergency sehingga dianggap tidak tepat membicarakan proyeksi biaya, atau sudah dianggap mafhum.

Artinya, siapapun yang datang ke RS tersebut sudah dianggap mau menerima dan siap membayar berapapun biaya yang perlu dikeluarkan. Akibatnya, hal ini terkadang memicu kesalahpahaman pada pasien dan keluarganya. Pasien yang menduga biaya perawatan seharusnya tidak sebesar itu, merasa kecewa dan "ditipu" oleh RS. Dan sayangnya lagi, terkadang proses tabayyun jarang dipilih pasien sebagai cara untuk meluruskan. Pasien yang kecewa justru curhat ke medsos atau menyebarkan kekecewaannya pada banyak orang lain.

Tidak mengherankan, kita jadi sering mendengar istilah dan kesan traumatis tentang RS dan semua hal terkait di dalamnya termasuk nakes. Vampir pengisap darah (uang). Tidak berbelas kasihan pada pasien tak mampu. Pasien ditolak karena tak ada biaya. Dan yang sering terdengar satu tahun terakhir: RS diduga meng-covid-kan pasien.

Maka sudah bisa diduga, dengan kabar negatif tentang RS dan nakes yang menyebar masif di tengah masyarakat, tentu bisa dibayangkan bagaimana kesan buruk ini tersimpan di alam bawah sadar mayoritas dari kita. Dan lagi-lagi, tinggal menunggu pemicu saja sebelum kebencian yang tersimpan itu kemudian meledak dan berbuah tindakan tak terkontrol.

Ita Fajria Tamim dokter dan pengelola fasilitas kesehatan

(mmu/mmu)